Tampilkan postingan dengan label Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hidup. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 September 2015

Relatifitas Hidup: Hidup itu Relatif, Relatif Kocak

Hidup itu kompleks. Gak sesederhana tarik napas lalu dibuang lagi. Bukan cuma soal jantung berdenyut teratur dan transportasi oksigen serta nutrisi lancar ke seluruh tubuh. Bahkan penunjang kehidupan seperti buang air, baik besar maupun kecil, juga gak bisa disepelekan. Hidup itu susah!

Hidup itu simpel.Gak usah makan ribet-ribet. Asal perut kenyang, hati senang. Bukan masalah walaupun harus banting tulang cari rejeki. Bahkan biar hidup ini merangkak terus, terseok-seok merayap untuk bertahan. Asal punya semangat hidup yang diwujudkan dalam doa (harapan) dan usaha, cukup. Hidup itu gampang!

Sudah berbulan-bulan rasanya kami perang dingin. Aku dan blog ku. Bukan cuma tidak ngobrol, ditengok pun tidak. Sampai suatu hari seorang sahabat nyeletuk, "Lu masih rajin nulis blog?" Saya cuma bisa tersenyum dan mengalihkan pembicaraan. Menikung dari kenyataan bahwa saya hampir melupakan blog. Blog yang setia menerima segala unek-unek. Blog yang dijadikan tameng dari masyarakat. Blog yang bikin orang senyum-senyum sendiri. Bahkan blog yang bikin bangga karena di-like sama orang lain. Walaupun sebenarnya saya berusaha untuk menyembunyikan blog ini, karena tulisan ini bisa jadi sisi liar yang berusaha keluar. Tapi ego narsisistik (bukan istilah akademis) juga kepengen blog ini dibaca dan diapresiasi. Namun sudah berbulan-bulan pacar di dunia maya ini saya biarkan kesepian.

Kembali ke konsep awal pembuatan blog ini, saya ingin bercerita. Baik cerita yang terucap, maupun yang tidak sampai keluar melewati bibir ini. Tertahan di pita suara, takut untuk dimuntahkan, lalu tertelan dan nyangkut dipikiran. Hari ini saya coba bercerita tentang hidup.

Kemarin pagi sebelum berangkat ke Puskesmas tempat saya melayani, ya sekarang sudah pindah di Puskesmas. Bye-bye IGD rumah sakit dengan segala kelengkapannya. IGD yang dulu selalu saya keluhkan segala kekurangannya. Ternyata di Puskesmas lebih dada saya semakin rata karena selalu dielus. Keluhan soal pekerjaan kita sisihkan dulu di bangku pemain cadangan. Kembali ke soal kehidupan. Kemarin pagi itu saya menerima Line dari koko saya di Jakarta. Ternyata ada seorang keluarga yang berpulang tiba-tiba. Tiba-tiba karena berpulangnya tidak direncanakan. Walaupun sebelumnya memang punya keluhan kesehatan, tapi tidak ada rencana beli one way ticket menuju Yang Maha Kuasa. Sepengetahuan saya, ini adalah om paling kecil. Artinya banyak tetua-tetua yang harusnya ijin tinggal (visa) didunianya expire duluan. Cuma kenyataanya kan tidak begitu. Umur visa masing-masing tidak ada yang tahu. Mau diramal-ramal dengan metode apa pun, tidak ada peramal yang bisa yakin dan berani taruhan kepalanya dipotong kalau salah meramal. Jadi dipikir-pikir hidup ini kocak yah. Hidup itu singkat, yang datang belakangan bisa pulang duluan. Tapi saya merasa (hampir) 26 tahun hidup ini sangat panjang. Apalagi kalau cuma dihabiskan dengan penantian. Menanti malam berganti pagi (kerjanya cuma tidur-tiduran) atau pagi berganti malam (nganggur gak nagapa-ngapain seharian). Benar saja hidup itu relatif, relatif kocak. Sekarang saatnya Anda tertawa.

Dalam menjalankan profesi sebagai dukun terakreditasi yang dilegalkan untuk mengobati orang, saya sering berhadapan dengan hidup. Baik awal kehidupan, maupun yang sudah tidak hidup. Awal kehidupan itu sendiri masih menjadi polemik. Ada yang bilang ketika sel sperma merasuki sel telur dan mereka bersatu menjadi sebuah sel awal kehidupan yang disebut zigot. Ada yang bilang zigot itu sel, tapi belum hidup karena belum jelas akan jadi calon manusia atau cukup sampai disitu, sekian dan terima kasih. Zigotnya maksud saya, cerita omong kosong tentang hidup masih panjang. Beberapa lebih yakin kalau disebut sudah hidup kalau sudah dapat dibuktikan denyut jantungnya. Ini juga jadi masalah, karena ada yang senang membuktikan visual alias di USG kelihatan denyut jantung janin. Tapi ada yang senang dengan sistem kalender, kira-kira kalau mulai produksi tanggal sekian, maka pada tanggal sekian denyut jantung harusnya sudah ada. Saya tergelitik menyebutnya kaum kuno yang gagal move on, tapi tidak etis, tapi keburu diketik dan saya malas untuk menghapusnya. Jadi baca yang Anda juga setuju saja. Lebih jauh lagi soal awal kehidupan, ada fanatik yang mengakui sudah hidup kalau sudah lahir dan menangis (atau bukti kehidupan lain). Selama masih belum keluar, maka dia masih calon hidup. Belum prosesi pelantikan melalui jalan lahir yang sempit dan berkelok (lahir spontan atau normal); atau beberapa yang memilih (atau terpaksa) melalui jalan perut yang gerbangnya berlapis (operasi caesar atau sesar). Nah proses pelantikan ini berakhir ketika ada yang berani ketok palu menyatakan ini lahir hidup. Disitu baru diakui kehidupan dimulai. Soal memulai kehidupan ini relatif juga kan? Relatif kocak. Ribut-ributnya soal awal kehidupan ini, nantinya bisa merembet sampai perdebatan aborsi dan kontrasepsi. Bahkan bisa juga dibenturkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan, yang jelas-jelas seperti saya disuruh bersaing adu tampan dengan orang utan jantan. Jelas bila Anda sehat jasmani dan rohani, Anda akan bilang saya lebih tampan, tapi kok orang utan betina tidak sependapat dengan Anda?

Itu baru sedikit tentang sekelumit awal kehidupan. Akhir kehidupannya sendiri juga bukan tanpa kepusingan. Bila semua setuju ini mati, fine, mungkin tidak ada masalah menyebut kehidupan berakhir. Bagaimana dengan orang yang mengalami mati batang otak? Saya ingat pada saat bimbingan menghadapi uji kompetensi, ada sebuah pertanyaan seputar mati batang otak. Saat itu seingat saya, dengan ingatan saya yang terbatas ini, mati batang otak sepertinya belum disebut mati. Tapi ternyata oleh pembimbing kami, mati batang otak, secara teori dan penjabaran lebih lanjut, pada hakikatnya adalah mati karena semua pusat penunjang kehidupan sudah ikut mati bersama si batang otak. Ini seru bila dibahas secara teori. Apalagi kalau terjadi di praktiknya. Seorang pasien dinyatakan mati batang otak oleh dokter. Lalu dokter menyarankan agar alat penunjang kehidupan yang membuat pasien tetap bernapas agar dimatikan. Keluarga berdiskusi panjang, lalu naik banding akhirnya sampai keputusan berkekuatan hukum tetap menyatakan setuju agar alat dimatikan. Dokter pun mempersilahkan seorang anggota keluarga yang mematikan alatnya. Alih-alih ada yang mau, mereka meminta dokter saja yang mematikan dengan seribu satu alasan. Sebagian dokter mungkin santai dan mematikan, tapi tidak sedikit lho yang mundur satu langkah dulu dan berpikir ulang. Saya pernah melontarkan kasus ini ke beberapa kolega sesama dukun terakreditasi, ada yang menjawab diplomatis itu adalah hak keluarga dan sebagainya, ada yang jujur dan polos ujung-ujungnya meminta staff medis saja yang mematikan, intinya mereka sendiri ragu kalau sudah disuruh bertindak. Ragu apakah benar mati batang otak bisa dianggap mati saja. Padahal secara keilmuan dikatakan mati batang otak adalah sama dengan mati. Lagi-lagi kehidupan ini bikin kacau. Akhir kehidupan itu juga jadi relatif. Relatif kocak.

Kehidupan kita yang relatif kocak ini bila diawali dan diakhiri dengan kocak, Anda bisa bayangkan apa yang terjadi sepanjang hidup. Seperti saya coba muat dalam dua paragraf awal tentang hidup. Hidup itu gampang-gampang, susah; juga susah-susah gampang. Dibilang santai yah repot, dibilang repot tapi santai aja dijalani. Intinya bisa disingkat menjadi sederhana dalam dua kalimat berikut ini: Hidup itu simpel, tapi gak boleh disepelekan. Hidup itu kompleks, tapi selama punya semangat hidup, cukup. Lalu bagaimana caranya menjalani hidup? Yuk kita sama-sama belajar, karena awalnya saya menulis artikel ini malah ingin berkeluh-kesah tentang hidup. Kok malah jadi berkesimpulan kalau hidup itu kocak yah? Yang penting mari kita belajar menjalani hidup ini sebaik-baiknya. Supaya nanti kalau ditanya oleh Sang Pemberi Kehidupan, kita gak gelagapan cari-cari pembenaran supaya kelihatan betul. Atau bila Anda tidak percaya adanya Yang Maha Esa, supaya hidup Anda tidak kalah bermakna dengan buang air besar.

Jumat, 06 Maret 2015

Gaya Begal Mental Ngemis

Sore ini saat sedang menarik tunai di mesin ATM di dalam toserba terkemuka, sebut saja Alfa Mart. Tiba-tiba beberapa orang anak bocah mengerumuni saya. Sontak saya bingung apa yang sedang mereka lakukan. Mereka dengan diam menunggu. Tampak beberapa diantaranya berbisik, sayup-sayup saya berusaha berpikiran positif saja kalau mereka mau melindungi saya saat mengambil uang di tabungan yang isinya tidak seberapa. Tapi otak saya yang cuma segini tidak bisa menghilangkan pikiran jangan-jangan ini modus baru pembegalan. Dikepung lalu dirampok saat uangnya keluar. Seketika tangan saya sigap meraih uang yang dimuntahkan oleh mesin, yang tega memaparkan saldo yang tiap bulan tidak mampu menutupi potongan biaya administrasi, lalu memasukkan lembaran uang ke dalam dompet. Dalam hati saya sudah siap kalau tiba-tiba sekelompok bocah tadi mengeluarkan pisau atau menyerang saya seperti kegilaan. Beruntung proses pengambilan tunai berjalan lancar dan dengan kekuatan bulan saya ngacir dengan kecepatan pengecut menjauhi bocah yang saya pikir komplotan begal.

Begal atau bahasa klasiknya penyamun, seperti tertulis dalam kisah-kisah jadul bin klasik. Mendengar kata begal baisanya membuat bulu kuduk merinding disko, minimal membuat kita sementara menjadi orang beriman yang berdoa jangan sampai menjadi korban. Beberapa begal klasik digambarkan bertopeng atau mengenakan cadar supaya tidak dikenali dalam aksinya. Yang lebih modern dan mulai naik daun akhir-akhir ini adalah begal yang dengan percaya dirinya merampok motor ditengah jalan tanpa berusaha mengaburkan identitasnya. Menurut cerita dari pembimbing internsip saya bahkan ada begal yang tidak mencuri, tapi menculik kendaraan. Modusnya motor korban diculik tengah malam, lalu beberapa saat kemudian korban akan mendapatkan surat kaleng untuk menebus motor yang diculik dengan sejumlah uang. Aneh tapi kreatif. Pasal apa yang bisa menjerat pelaku, jujur saja saya tidak paham. Yang pasti ada sebuah kampung yang dijuluki 'Kampung Maling' dimana penghuninya sebagian besar, berprofesi sebagai begal, rampok, jambret, sebut saja profesi lain yang bernaung dibawah ikatan kriminal nusantara.

Kembali pada kisah pengepungan bocah di ATM tadi. Jantung saya berdegup biasa teratur. Tangan saya tidak tremor. Namun pikiran saya kacau. Saya sempat mendengar dialog bocah itu yang intinya sudah tidak usah dikejar karena galagat saya tidak akan ngasih uang kepada mereka. Astaga! Ternyata mereka bukan mau merampas dengan paksa, namun mereka berusaha membuat hati saya tersentuh supaya bisa menyerahkan uang atau populer disebut ngemis.

Disitu kadang saya merasa sedih. Bagaimana anak-anak kecil dibiasakan meminta-minta. Teringat peristiwa beberapa minggu yang lalu. Saat itu saya dan temen sejawat sedang asyik ngemil kentang goreng dan McFlury di pinggir jalan sebuah mal, menantikan dijemput untuk makan malam Imlek. Dari kejauhan beberapa pasang mata kecil sudah mengintai mangsa yang membawa makanan. Entah itu botol air mineral, camilan, bahkan es krim bekas pun biasa kita akan di datangi oleh sekelompok bocah yang akan meminta-minta makanan yang kita pegang. Saat itu saya coba untuk tega dan tidak membiasakan anak sekecil itu mengemis makanan. Tidak pantas dan yang lebih miris lagi, saat saya memberikan setengah bungkus kentang goreng yang sedang asyik saya makan, mereka berjalan menjauh (jangan berharap ada ucapan terima kasih sebelumnya) dan menghampiri orangtuanya yang sedang kongkow-kongkow dipinggir jalan menikmati makanan bekas yang berhasil didapatkan oleh bocah-bocah tersebut.

What!? Tidak habis pikir tega-teganya membentuk mental minta plus maksa seperti itu. Saya lebih menghargai kalau mereka minimal datang dan bernyanyi sebelum meminta makanan, setidaknya ada sedikit usaha lebih daripada hanya menengadahkan tangan dan setengah memaksa. Modal keles... Membiasakan diri dengan pendidikan manja dan mental meminta seperti itu tentu akan membuat bangsa kita hancur. Sama seperti koas (dokter muda) yang bertanya tanpa membaca, bahkan disuruh membaca saja malah asal nyeletuk demi minta tentiran. Usaha dulu keles... Tidak ada makan siang yang gratis, bahkan keundangan makan siang pun tidak gratis. Sedikitnya menjadi hutang budi, sebanyak-banyaknya Anda dikasih makan udang dibalik batu, ada apa-apanya.

Entah kebetulan atau kesialan, kebiasaan jelek itu juga saya lakukan dibeberapa kesempatan. Sering teguran saya telan, bahkan tamparan nasihat juga menjadikan pendidikan baik untuk perkembangan mental. Secara natural mungkin kita senang disuapi. Masih terjebak nostalgia masa bayi. Tapi ingat, seiring berjalannya waktu kalau mau disuapi lagi, artinya kita boleh memilih antara menjadi lumpuh, mengalami penurunan kesadaran, mengidap kelainan kejiwaan atau patologi lainnya. Bagi kita yang punya sifat alami tidak mau mencoba dulu dan hanya mau segala yang instant, dengan bantuan lingkungan kita biasa berubah menjadi lebih independen dan berdikari. Nah bayangkan kalau kita sebagai individu yang sejatinya lembek (kebiasaan umum menyalahkan human nature), dibesarkan menjadi pribadi yang lenje. Apa kata dunia?

Saya tidak pantas menasehati orang. Masih belajar untuk berbagi kisah. Namun bisa dipakai sebagai penutup yang menjengkelkan, kalimat kesayangan dari konsulen ilmu bius (anastesi) kesayangan semasa pendidikan dulu. Yah beliau juga mengutip dari iklan pemanis berkalori rendah dipadu dengan lagu dari Armada Band. "Mau dibawa kemana kehidupanmu, yah terserah kamu. Kan sudah ada yah iklannya, manisnya hidup, kita yang tentukan." Semoga kisah diatas bisa bermanfaat. Have a day!


Selong, 6 Maret 2015
With Love,

-dap-

Kamis, 12 Februari 2015

Cuma Sebuah Surat Cinta: Untuk Mbak Hepi dan Kang Dai (Ceceran 2)

Sudah cukup lama aku berjauhan dengan blog kesayangan ku. Nampaknya akhir-akhir ini aku sibuk mengurus perut, atau lebih tepatnya lidah. Perut mah selalu cepat puas, yang penting diisi dan kenyang. Lidah yang selalu resek. Seorang sahabat dulu menggunakan istilah "memuaskan lidah". Kalau makanan yang kami santap tidak memuaskan lidah, dia selalu punya alasan untuk mencari menu lain lagi walaupun setelah kenyang. Nampaknya membahagiakan lidah tidak sesederhana membahagiakan perut ya.

Orang bilang bahagia itu mudah. Bohong! Itu cuma sebuah kalimat penghiburan. Bahagia itu tidak pernah mudah. Apalagi seiring bertambahnya usia. Mau bukti? Coba nonton film dibioskop yang isinya semua bocah-bocah kelas TK-SD dengan film animasi Megamind. Saya pernah mengalaminya beberapa tahun lalu. Ketika itu mahluk yang memadati studio sebagian besar adalah bocah-bocah mungil yang belum muncul adegan lucu saja mereka sudah tertawa. Mereka tertawa untuk tokoh berwarna biru, mereka tertawa untuk ikan di akuariumnya, mereka tertawa untuk apa pun. Sampai saya sulit membedakan, apakah benar adegannya lucu. Intinya selama film berlangsung saya jadi bertanya-tanya pada diri sendiri. Memang ternyata secara alami, beranjak dewasa artinya sesuatu yang bisa membuat kita tertawa semakin berkurang. Rasio. Si penjahat yang menyingkirkan hasrat tersenyum. Kita jadi lebih banyak berpikir daripada menikmati spontanitas. Semakin kita bertumbuh besar, logika lah yang mulai mengerogoti kebahagiaan kita. Harus kah ada alasan untuk bahagia?

Hari ini setelah sibuk seharian dalam mengejar kepuasan lidah, ketika kembali ke kamar saya menemukan sebuah paket yang terbujur kaku, diam dan tak bernyawa. Tampak alis mata ini merapat tanda kebingungan. Coba didekati, didengar dengan seksama. Sepertinya tidak berbahaya. Akhirnya saya bawa ke kamar untuk diotopsi. Pelahan saya lucuti 'pakaian' yang menyelimutinya. Menggunting pasti diantara lipatan untuk memastikan barang bukti tetap utuh. Lapis demi lapis disibak. Voila! Ternyata dilapisan pertama dari isi kardus tampak sebuah surat yang membuat saya sumringah.


Spontan saja bila saya kemudian berpikir bahwa bahagia itu tidak mudah, tapi Tuhan selalu mengirimkan bagi kita sumber kebahagiaan, tinggal bagaiman kita meyadari, menerima dan mensyukurinya. Karena memang bahagia tidak mudah, tapi buat saya, selalu ada alasan untuk bahagia dan selalu ada mereka yang mengisi penuh 'cawan kebahagiaan'. Thank you dear Nagisa, Ivon, Steffi, Sylvani, Ditta and Olin, for reminding me what happiness is about. My happiness is all of you. Tunggu pembalasan ku! Ha ha. What A Happy (mbak Hepi) Day (Kang Dai)!

Selong, 12 Februari 2015
With Love,

-dap-

Jumat, 06 Februari 2015

Berbuah Pada Musimnya

"Kiri kanan, ku lihat saja, banyak buah rambutan.. aan..
 Kiri kanan, kulihat saja, banyak buah rambutan."

Begitulah sepotong lagu dagelan yang diambil dari lagu anak-anak populer. Tapi begitulah faktanya kalau Anda saat ini berjalan-jalan di Lombok, khususnya Lombok Timur. Hampir disetiap sudut penjual buah, Anda bisa menemukan buah rambutan disusun bertumpuk rapi dan membuat ngiler pecinta buah ini; sekaligus merinding bagi yang geli dengan bulu-bulu yang berjajar rapi meliputi seluruh kulitnya, "Iiih geli deh. Kalo dikupasin mau deh. He he he" Selain rambutan, belakangan muncul juga buah yang peribahasanya membawa rejeki, tapi kalau terjadi betulan bisa jadi bencana. Ya, 'tertimpa durian runtuh'. Buah durian yang khas dengan tamengnya serta bau wangi (atau amis bagi sebagian orang) yang menyengat, memancing air liur (atau rasa mual bagi sebagian orang).

Teringat beberapa bulan yang lalu, setiap kali saya bangun tidur dan menyibak gorden kamar, terlihatlah buah seperti cendol berukuran raksasa, berwarna hijau dengan bau wangi sedikit masam. Musim mangga sudah berlalu. Baru saja pagi ini saya berjalan menelusuri balkon kamar kost dan tersadar bahwa 'cendol-cendol' yang menggantung indah dan memanggil-manggil untuk menyantapnya sudah bubar jalan. Tanpa aba-aba siap grak dan hormat kepada pembina sebelumnya. Itulah musim buah yang datang dan pergi tanpa kita sadari. Semua berjalan alami. Yang datang menggantikan ia yang pergi.

Kemarin malam, saya mendapatkan sebuah kabar duka. Seorang guru SMA saya berpulang ke sisi Tuhan YME. Masih jelas tergambar dalam memori ini bagaimana dulu ia masih berjalan dengan gagah dan sambil bercanda-canda dengan murid-muridnya. Sekejap mata, saya menyelesaikan rangkaian pendidikan dan beliau sudah tiada. Manusia lahir, bertumbuh dan berkarya, lalu harus mebubuhkan tanda titik diakhir kisah hidupnya.

Fenomena ini berjalan dengan alamiah. Selalu begitu tanpa kita intervensi. Akan tetap begitu walaupun kita berjuang untuk mencegahnya. Walaupun dengan teknologi kita bisa menyantap mangga atau rambutan atau durian setiap saat sepanjang tahun, namun tentu kita tidak bisa memaksa semua pohon memberikan hasil maksimal. Tidak bisa memaksa ia berbuah sepanjang hayat. Begitu juga dengan hidup kita. Ada saatnya kita meniti karir, maju dengan pasti, sampai suatu saat kita akan berhenti. Berhenti ditengah usia dan menikmati yang namanya pensiun atau bahkan kita tutup karya kita seiring dengan mata ini menutup selamanya. Tidak ada yang bisa memastikan, tapi kita bisa mengusahakan.

Dari dulu selalu dikatakan oleh nyokap saya, bedanya takdir dengan nasib adalah takdir pemegang saham mayoritasnya adalah 'alam' (diberi istilah Tuhan untuk yang percaya), namun nasib itu kita pemegang mayoritas keputusan. Kita bisa menjual seluruh hidup kita untuk bersantai, menghabiskan masa muda dan melewatkan musim panen. Disisi lain, kita bisa bersantai menikmati musim panen setelah bekerja keras disaat tubuh masih tegak dan otot muka masih kencang. Kita harus berani untuk mulai menghasilkan sedikit, daripada tidak menghasilkan sama sekali. Kita harus berani berjuang bermandi keringat, daripada meneteskan air mata penyesalan. Karena sejujurnya tidak perlu peramal untuk melihat masa depan kita. Lihat lah dari apa yang kita lakukan sekarang.

Sebatang pohon mungkin tidak bisa memilih akan tumbuh ditanah yang seperti apa. Namun kita dengan ternyata punya pilihan. Kita siapkan dasar yang kuat dengan dipupuk pengalaman dan pengetahuan. Kita jaga baik-baik pertumbuhan dengan kerja keras. Tentu suatu hari, kita tidak akan heran kalau yang kita tanam bertumbuh subur, lebat dan berbuah pada musimnya. Dan tidak seperti pohon yang tidak bisa memilih. Kita bisa memilih untuk menanam berbagai jenis, sehingga setiap musim kita mendapatkan hasil yang berbeda-beda.

Hidup kita ini dinamis. Jangan sampai kita terpaku pada suatu kenyamanan. Lupa kalau musim akan berlalu dan kita harus menanti kapan baru bisa kembali berbuah. Hidup ini juga pilihan. Tentunya hidup ini juga kesempatan. Bagaimana kita mengelola hidup ini agar tidak kecewa saat harus tutup buku dan mengembalikan kepemilikan atas aset jiwa ini pada Sang Empunya.

Selamat jalan bapak guru kami, Vitalis A. Daga, S. Pd. Semoga Bapak tersenyum melihat kami buah pendidikan mu dari sisiNya. Tuhan memberkati keluarga yang ditinggalkan.

Selong, 6 Februari 2015

-dap-

Jumat, 30 Januari 2015

Drama Raissa di IGD

Pagi ini ada kasus unik yang cukup lengket di benak saya. Sembari berjalan kaki pulang, cukup waktu untuk memikirkan bagaimana menceritakannya dan semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua. Untuk merayakan kembali menyalanya laptop kesayangan, saya akan coba share dengan sentuhan berbeda.

Perempuan usia sekitar 20 tahun-an, dibawa ke IGD sebuah rumah sakit dengan luka menganga di lengan bawah kanannya. Sebuah luka berbentuk seperti lilitan dengan tepian rapi, dengan dasar otot. Pergerakan tangan pasien masih baik. Nadi kuat serta tidak ada tanda gangguan dari persarafan seperti kesemutan. Pasien ditangani. Tiba-tiba datang seorang pria berbadan tegap, berpakaian olahraga dengan tulisan 'Polres' dipunggungnya. Ternyata kisah tragis ini bisa disusun kembali dengan bantuan Raissa.

Seorang laki-laki yang merupakan mantan suami dari perempuan itu mengalami 'sindroma terjebak nostalgia'. Dia mendatangi mantan istrinya untuk mengajak rujuk. "Aku takkan pernah bisa. Ku takkan pernah merasa, rasakan cinta yang kau beri.." Rasanya semua yang dirasa si suami tak berubah sejak istrinya pergi meninggalkannya. Walaupun demikian, si istri berusaha meminta maaf karena ia ingin sendiri disini.

Buat si perempuan, mantan suaminya itu bukanlah mantan terindah. Ia heran mengapa waktu itu suaminya tega memutuskan cintanya. Namun sekarang berusaha untuk kembali mengulang kisah cinta. Mau dikata apalagi, si istri merasa mereka tidak akan pernah satu. Ia sudah coba katakan kalau sang suami berubah. Meskipun bagi sang suami, yang telah dibuat mantan istrinya sungguhlah indah, buat dirinya susah lupa.

Segala bujuk rayu coba dikeluarkan oleh sang suami. "Ya aku mengerti, betapa sulit untuk kembali.. Dan mempercayai penipu ini sekali lagi." Namun si istri tetap pada keputusannya. "Kenapa baru kamu sadari setelah berlayar pergi? Akulah pemeran utama hati dan pemicu detak jantung mu.." Begitu balas si istri. Sang istri terpaksa mencabik hati dan membuat mantan suaminya terluka dan sakit.

Dengan isak tangis, si istri coba menjelaskan. Dirinya telah lama bertahan, demi cinta wujudkan sebuah harapan. Namun kini, semua rasa telah hilang. Dahulu sang suami adalah segalanya, namun sekarang ia mengerti. Apalah artinya menunggu?

Sang suami pun marah, lalu berusaha membacok sang istri. Dalam sekejap mata, harus diakui semua telah berbeda. Semua serba salah. Sang suami ditahan oleh kepolisian, namun dalam hatinya ia bertanya-tanya, "Apalagi salah ku? Apa lagi salah mu? Ku tak ingin kau terluka karena cinta.." Namun si istri merasa cukup. Ia sudah lelah menjalani semua hubungan yang serba salah. Sudah lupakan saja segala cerita antara kita.

Begitulah akhir dari kisah sedih ini. Sebuah pelajaran berharga tentang mencintai dan kehilangan. Hargailah yang masih ada, karena sekali ia pergi, belum tentu akan kembali.

Selong, 30 Januari 2015

-dap-

Sabtu, 24 Januari 2015

Curcol Tengah Malam: Bukan Insomnia

Malam kembali datang. Waktunya orang-orang menyelesaikan hari, memejamkan mata dan menikmati wangi bunga tidur. Tapi bagi beberapa orang, malam adalah saatnya bekerja setelah seharian berusaha memajukan jam tidur. Jaga malam. Sebuah keseruan sendiri dalam profesi yang saya sedang gulati (capeknya udah kayak bergulat setiap habis jaga).

Jam tidur saya sudah hancur sedari SMA. Dihancurkan oleh masa sekolah yang kejam. Hingga waktu me time itu cuma bisa dikejar malam hari. Terpaksa suka tidak cinta, terbentuklah kebiasaan buruk begadang, yang dilarang Bang Haji RI. Masalah timbul belakangan ketika tubuh tidak lagi mau kompromi. Setiap hari dia menyetel mode begadang, sampai suatu hari saya pikir ini insomnia, tapi ternyata bukan. Ini cuma jam biologis sedang rusuh. Galau antara ini waktunya tidur atau waktunya begadang. Kondisi hancur minang ini diperberat lagi semenjak memasuki dunia koas. Jaga malam bolak-balik, seringkali tidur tidak tentu dan tidak tentu tidur (kadang malah tentu tidak tidur). Yah sudah jadi risiko yang diketahui dari awal. Jadi saya tidak perlu kambing hitam untuk dibawa ke meja hijau, toh percuma mengajak kambing main tenis meja. Konsekuensi logis, sulit tidur akhirnya berefek samping sulit bangun juga.

Selain masalah sulit tidur (internal), ternyata gangguan eksternal juga sering datang. Bunyi message bersaut-sautan (yang sering kali tidak gawat atau darurat alias cito binti penting nan urgent), seakan memanggil ku untuk bangun dan melihat ada apa gerangan. Oh, ternyata cuma obrolan iseng. Entah sadar atau tidak , saya terkadang juga suka memancing obrolan bilamana sedang sulit tidur. Mungkin karma akibat mengganggu orang. Ujung-ujungnya karena keburu kumpul semua nyawa yang tadinya berhamburan saat hampir nyenyak, akhirnya kembali sadar penuh dan mulai lagi sulit tidur jilid 2. Alamak!

Seperti sudah dikatakan sebeumnya tentang konsekuensi logis. Memang masalah tidak selesai ketika bisa pindah ke alam mimpi. Bisa meloloskan diri kembali kedunia nyata itu juga bukan perkara sepele. Kadang malah seperti sudah harus menggocek melewati Pele, dihadang Ronaldo, lalu face-to-face dengan Messi. Saya kurang mengerti (dibaca: kagak paham sama sekali) soal bintang sepak bola, tapi nama-nama itu sepertinya sering dikumandangkan di siaran berita. Jadi bisa Anda bayangkan betapa sulitnya untuk bisa kembali ke alam nyata. Makin dasyat lagi, walaupun tanpa 'joget jemuran' seperti diacara Dasyat, kalau harus bolak-balik bangun seperti saat jaga malam. The second sleep is the most dangerous one. Bisa-bisa jatuh ke jurang nyenyak hingga overslept. Makanya kadang terpaksa memilih tidak tidur lagi ketika harus jaga malam di IGD.

Begitulah susahnya tidur dan susahnya bangun. Tapi saya bersyukur sejauh ini masih diijinkan bisa tidur, walaupun sampai memaksakan diri supaya mengantuk. Dan masih diberi kesempatan untuk bangun dari tidur, walaupun dengan tergopoh-gopoh. Karena betapa pun sulitnya proses yang harus dilewati. Toh pada akhirnya kita bisa menyerah berusaha tidur (dan akhirnya ketiduran juga); dan selalu pantang menyerah untuk bangun (sehingga tidak tidur selamanya). Jadi apa pun kondisi yang harus dihadapi, biar selalu dijalani dengam bersyukur. Menggerutu itu ibarat menunggu matahari terbit disisi barat, akhirnya pun harus puas melihatnya tenggelam setelah menunggu seharian. Lebih baik saya pasrah dan mencoba untuk tidur sekarang. Have a good night untuk Anda semua.. Sweet dream, but not too sweet, hati-hati diabetes nanti. He he he

Selong, 24-25 Januari 2015

-dap-

Senin, 19 Januari 2015

Surat Cinta: Bagi Sahabat Ku yang Berjuang Menunggu Hasil Yudisium

Tidak tepat setahun lalu saya menemukan diri ini terjebak antara rasa ingin maju dan mundur. Perasaan digantung antara separuh kaki menahan gelombang laut dan separuhnya di atas kuburan menganga. Bila orang mengatakan rasanya seperti ada kupu-kupu yang terbang di dalam perut, mungkin momen saat itu masih berupa ulat bulu yang menggeliat-geliat di dalam perut. Geli dan memicu reaksi alergi.

Seperti biasa, setiap menghadapi situasi genting, saya hanya punya dua jenis mekanisme bertahan, melucu (membuat lelucon tentang diri sendiri atau jahatnya membuat orang lain sebagai lelucon) atau pasrah. Dan momen itu saya memilih untuk melucu. Dari membuat sambutan pada kolega peserta yudisium yang lain, menuliskan quote "Keberhasilan seseorang adalah keberhasilan bagi sesamanya" (yang ternyata saat saya perhatikan memang memancing reaksi tertawa komedi untuk banyak orang), sampai saya coba menghafalkan langkah-langkah resusitasi jantung paru (CPR) bilamana dibutuhkan. Untuk jaga-jaga saja, karena yudisium hari itu sebenarnya sempat di tunda, lalu jantung kami seakan diuji untuk berdebar-debar tidak keruan, saya pikir mungkin bisa saja hari itu ada yang aritmia dan kolaps (irama jantung ngaco alias sinus dangdut dan menyebabkan lemas serta gedubrak pingsan).

Saya teringat nasihat guru-guru yang logis namun magis, 'situasi kelulusan itu kan predictable, percuma deg-degan sekarang, harusnya panik dan deg-degan dulu saat mau ujian (atau saat menjalani masa pendidikan) sehingga berusaha lebih, pengumuman kelulusan kan cuma hasil akhir yang tidak dapat diubah'. Kira-kira begitu pesan mereka. Logis memang disatu sisi, namun kalau di buat penelitian secara statistik, mungkin hanya kurang dari 10% manusia yang bisa menghadapi pengumuman kelulusan tanpa membuat 'gula terasa asin dan garam terasa hambar'. Sepertinya, hanya kekuatan magis yang bisa membuat pengumuman kelulusan bernuansa jalan dihamparan bunga, lalu kita bisa rileks tiduran diatas padang rumput hijau sambil bernyanyi.

Saat itu saya hanya manusia biasa dan masih merasa (supaya ada ruang kalau ada yang mempunyai pendapat berbeda) sebagai manusia biasa sampai saat ini. Tentu gejolak yang terjadi saat itu memancing mekanisme pertahanan mental saya bekerja. Berusaha menyeimbangkan semburan hormon stress dengan hormon kesenangan. Supaya sang empunya tubuh tidak kejang-kejang saat membuka amplop hasil evaluasi pendidikan. Untuk kesekian kalinya dalam hidup, saya... Cemas!

Untungnya Tuhan masih berbaik hati mengijinkan runtutan kejadian yang mentransformasi perasaan cemas (yang diwujudkan dengan melucu konyol), sampai menjadi ujung dari teori Ross Kubler, acceptance (pasrah). Saat itu saya ingat betul pengumuman mundur dari jadwal, kami menunggu dengan cemas diruangan yang hampir semua orangnya hiperventilasi (maruk berebutan oksigen karena tegang), lalu saat datanglah si pembawa hasil dari gunung Olimpus tempat dewa-dewa berjas putih (dibaca: konsulen) menggelar musyawarah. Saat itulah, saya... Kebelet pipis.

Ada berkahnya juga saat itu kebelet untuk buang air. Selayaknya orang kebelet pada umumnya, saya jadi tidak konsentrasi bercemas-cemas ria, seketika berubah pasrah. Pasrah pada hasil dalam amplop, yang penting saya tidak keburu ngompol diruangan. He he.

Momen pembagian amplop berjalan sangat lambat, bagai mengigit permen karet alot yang sudah hambar. Satu per satu peserta maju. Mulai ada teriakan bahagia, suara isak tangis kecil, beragam reaksi atas hasil dari amplop masing-masing. Ruangan berangsur gaduh dan peserta lain menjadi gelisah, untung tidak ada yang kumat gaduh-gelisahnya atau mengamuk. Akhirnya saya mendapatkan kehormatan untuk dipanggil oleh yang maha berkuasa membagikan amplop tentunya. Setelah saya raih amplop, kalimat pertama yang saya ucapkan, tentu terima kasih. Tapi kalimat kedua yang saya ucapkan, "Dok, maaf, saya boleh ijin ke WC?" Sontak konsulen yang membagikan amplop kaget seraya berujar, "Buka disini aja, gak usah sampe ke WC!" Syukurlah refleks melucu sudah hilang, kalau tidak tentu saya akan bilang, "Apanya? Celananya? Saya kebelet pipis..." Ha ha ha. Akhirnya saya menjelaskan tentang kondisi darurat dua dengan ancaman mengompol karena menahan buang ari sedari tadi dan konsulen tersebut mengerti.

Sekembali menjawab panggilan alam, saya duduk, menghela napas dengan tanda lega, lalu membuka amplop itu. Hasilnya? Biar jadi rahasia kecil antara kita. Tapi yang jelas saya menghela napas lega untuk kedua kalinya setelah membaca hasil yudisium hari itu.

Siang ini saya baru sadar bahwa teman-teman di Fakultas sedang menunggu pengumuman Yudisium 1/2015. Semoga kisah diatas bisa menemani Anda semua. Sekadar melepas khawatir dan ketakutan dengan senyum gemes. Kesimpulannya:
  1. Surat keputusan kelulusan adalah hasil dan hasil itu adalah ujung dari sebuah proses. Tidak dapat berubah, namun tidak permanen. Apa pun hasilnya, Anda punya kesempatan untuk merubahnya. Bisa diubah makin baik, atau bisa dihancurkan dengan kecewa berkepanjangan atau bahkan congkak berlebihan.
  2. Hidup itu kadang bisa naik, kadang bisa turun. Tapi yang penting, kita harus selalu berjalan maju, jangan sampai terjebak nostalgia. Saya kutip dari BBM teman saya, "Karena terlalu banyak orang mengharapkan masa lalu sampai lupa dia punya masa depan..."
  3. Bagaimana reaksi Anda terhadapt suatu kejadian menunjukkan kedewasaan diri.
  4. Semoga Anda semua sukses melewati Yudisium 1/2015, wish y'all the best!
Selong, 19 Januari 2015

-dap-

Sabtu, 17 Januari 2015

Pendekar Kuali Emas

Poster film Pendekat Tongkat Emas
Sudah kah Anda menonton film "Pendekar Tongkat Emas" di bioskop terdekat? Bagi Anda yang tinggal di kota yang mendapatkan anugerah bioskop, film tersebut sangat recommended untuk Anda saksikan. Suer terkewer-kewer saya ingin sekali menonton film itu setelah melihat ulasannya di Kick Andy beberapa waktu yang lalu, namun apa daya dompet tak sampai. Bioskop terdekat yang memutar film tersebut ada di pulau seberang, sehingga untuk meraihnya saya perlu merogoh kocek sedalam-dalamnya, padahal kocek saya cuma becek-becek, nyaris menguap dengan teriknya kehidupan perantau yang serba mahal. Saya tidak akan membahas tentang film tersebut di sini karena malah akan menurunkan citra film yang luar biasa tersebut dengan ulasan picisan. Bila Anda penasaran silahkan lihat rekaman Kick Andy di youtube atau boleh langsung tonton film tersebut, mumpung masih beredar di bioskop kesayangan Anda. He he.

Kali ini yang akan saya bagikan adalah tentang pendekar yang saya temui di sini. Ya, di Selong, sebuah kota di Kabupaten Lombok Timur. Tempat di mana saya bertugas dan berpetualang layaknya si bolang (bocah ilang). Selayaknya manusia yang punya makanan tidak umum (dibaca: tidak makan daging) seperti saya, terkadang mencari makanan itu menjadi pekerjaan yang susah gampang-gampang (lebih banyak gampangnya daripada susahnya). Karena untuk orang dengan pilihan menu terbatas, maka dia harus lebih cincai (dibaca: pasrah) dalam pemilihan makanan. Apa yang bisa di makan, selama layak dan halal, tentu tidak menjadi soal. Walaupun terkadang rasanya seperti menjulurkan lidah dan membiarkan garam menari-nari, menggelitik perasa asin, sehingga air mata bercucuran dan otak memerintahkan gerakan refleks mencari segelas air. Atau kadang saya temukan makanan yang rasanya luar biasa beragam (dibaca: gak karuan) karena juru masaknya bingung meracik bumbu yang bisa saya makan.

Tapi di sekitar tempat tinggal saya di sini, untungnya ada sebuah kedai makan yang bisa menyajikan santapan yang rasanya luar biasa menggugah. Rasa dan harga yang pantas yang membuat saya hampir setiap hari datang untuk menyantap menu yang sama. Menu paling sulit dibuat di dunia ini. Bahkan Anda akan kaget betapa tidak keruan rasanya bila menu ini disajikan di hotel bintang 5 (tulisan Rhenald Kasali di Kompas). Ya, dia lah nasi goreng. Sebuah masakan yang mungkin merupakan jajaran resep awal yang kita pelajari ketika belajar memasak, selain memasak air dan merebus mie instan tentunya.

Nasi goreng ini begitu spesialnya buat saya. Sebuah pagelaran rasa di dalam mulut layaknya iringan rasa asin yang bersaut-sautan dengan duet manis dan pedas, ditambah dengan gurihnya telur dadar dengan pinggiran garing yang begitu memukau. Semua memberikan penampilan yang mengundang standing ovation saat mengunyahnya. Tentu saya tidak benar berdiri dan bertepuk tangan saat makan, nanti disangka saya pasien lepas dari rumah sakit jiwa terdekat. Tapi gambaran betapa saya menikmatinya, kalau ada absensi makan nasi goreng disana, bisa jadi saya akan mendapatkan souvenir berupa piring cantik sebagai penyantap dengan frekuensi tersering. He he.

Lalu apa urusannya nasi goreng dengan pendekar? Pemilik dari kedai makan ini adalah sepasang suami-istri yang unyu. Si bapak adalah executive chef yang meracik seluruh masakan sehari-hari, sedangkan istrinya berperan sebagai bartender meracik minuman serta es campur, merangkap juga sebagai kurir yang mengantar makanan pesanan pelanggan. Memang dunia dapur sudah bukan monopoli dari kaum hawa. Sekarang malah banyak pekerjaan yang erat dikaitkan dengan kaum hawa sudah mulai dirasuki oleh laki-laki, begitu pula sebaliknya seperti teman saya sesama bocah internsip, seorang perempuan yang mampu mengganti ban mobil seorang diri (belum tentu semua laki-laki bisa lho!). Jadi sehari-harinya tentu saya menikmati nasi goreng istimewa dari sang suami yang dengan sigap meracik, mengoseng, menata dan menyajikan sebuah nasi goreng dengan telor dadar setiap hari untuk saya.

Jadi di bapak itulah pendekar kuali emas? Eits tunggu dulu. Layaknya film Pendekar Tongkat Emas, pendekar disini bukan seorang laki-laki. Kita kesampingkan dulu si bapak. Bagaimana saya bisa menemukan sang pendekar, itu juga secara tidak sengaja. Pada suatu hari Jumat, seperti kebanyakan umat muslim, tentu laki-laki wajib melaksanakan Sholat Jumat di masjid secara berjamaah. Nah beruntungnya saya datang Jumat itu tepat disaat hanya ada si istri di kedai. Saya tadinya mengira, wah apa makanannya baru akan jadi sepulang executive chef sholat yah? Yang tidak saya sangka, si ibu dengan sigap sibuk mondar-mandir di menngarungi dapur dan etalase sayurannya. Tiba-tiba dalam waktu singkat, datang lah nasi goreng dengan bentuk yang sama persis dengan yang bias asaya makan sehari-hari.

Tampilan nasi goreng buatan  pendekar kuali emas, setelah
saya bedah supaya terlihat kesederhanaan ingredientnya
Awalnya saya pikir, pasti rasanya akan sama. Namun pada suapan pertama, boom! Pentas seni, pagelaran kolosal, jubileum, sebut saja semua panggung hiburan yang megah membahana. Rasanya jauh lebih fantastis daripada buatan executive chef kedai itu. Begitulah akhirnya terbersit dalam benak saya untuk menjuluki si ibu dengan julukan Pendekar Kuali Emas. Walaupun saya tahu ketika saya nyelonong masuk ke dapur saya tidak akan menmukan kuali emas whatsoever, bahkan mungkin akan begitu menyeramkannya bekas gosong di sana. Tapi memang rasa tidak pernah bohong. Ayunan jurus-jurus dalam mengatur besar api, urutan memasukkan bahan serta menjaga rasa agar tidak hilang begitu sempurna dimainkan oleh sang pendekar. Saya bahkan hari itu sampai lupa mengambil kerupuk yang biasa menjadi teman makan paling setia.

Kejadian kemarin membuka mata hati saya, bahwa memang kita tidak bisa mempercayai apa yang kita lihat sehari-hari. Tadinya saya pikir kenapa bukan si ibu yang memasak? Apa mungkin masakan si bapak lebih lezat? Dan ternyata mungkin jawabannya sama seperti film laga silat kebanyakan, bahwa sang jagoan tidak selalu muncul menghiasi layar, bahwa jagoan paling jago itu bisa saja muncul disaat genting dan bahwa Anda tidak akan pernah bisa menebak siapa sebenarnya yang paling jago, even dalam kehidupan nyata. Mungkin Kepala Perawat IGD yang terlihat bicara tergagap-gagap dan terkesan tidak jelas, ternyata orang yang bisa memasang infusan lebih jago daripada perawat yang lainnya. Mungkin dokter yang Anda pikir pintar, ternyata hanya kebetulan menguasai bidang tertentu, dan malah dokter yang diam saja bisa jadi memiliki segudang 'ilmu magis' dalam menyembuhkan pasien (sepsis dengan prognosis malam -buruk- tiba-tiba sembuh, bayi muda yang tidak kunjung stabil di inkubator berbulan-bulan yang sejak dirawat olehnya bisa pindah ke box bayi dan akhirnya pulang dengan sehat dalam seminggu, dan banyak kisah lainnya.)

Ingatlah bahwa siapa saja bisa belajar dan berilmu tinggi, namun seorang yang memberikan kejuta itu lah yang bisa dianggap pendekar. Seorang yang diam-diam mengambil alih semua kesulitan dan memutarnya menjadi kesempatan. Seorang yang bersahaja, tidak pamer, tapi secara misterius memiliki kemampuan luar biasa.

Apakah Anda mau menjadi sekadar jagoan atau biar keteguhan moral serta sifat rendah hati Anda yang akan menjadikan Anda pendekar? Sebuah kutipan unik dari guru saya, "Saya sih, terseraaah kamuuu yah, kan kamu bosnya..." - dr. PP, Sp.An, Dosen anastesi yang nyebelin sekaligus menginspirasi.

Selong, 17 Januari 2015

-dap-

Jumat, 16 Januari 2015

Renungan Harian: (Tinja)uan Tentang Waktu


Hari ini jaga siang, jadi bisa memanjakan diri dengan, "Bangun, tidur lagi, banguuuun, tidur lagi. Ha ha ha." Gitu kata Alm. mbah Surip dalam lagunya yang sempet ngehits dulu. Kata dulu itu jadi relatif panjang sekarang, setelah hidup 25 tahun. Ternyata bener yah kata senior-senior. Waktu itu berlalu cepat, gak berasa sekedipan mata tiba-tiba udah waktunya melepaskan waktu main dan harus bekerja (kalau belum percaya, coba merem bayangkan waktu Anda masih bermain, lalu sekolah, semua masih jelas kan sampai ke aroma-aromanya; lalu buka mata Anda tiba-tiba, coba ngaca. Voila! Waktu berlalu sekedipan mata). Yah kerjaan saya juga sebenarnya seasik bermain, hanya perlu tanggung jawab yang lebih, karena ga bisa restart apalagi pake cheat untuk 'GOD mode' kalau pusing ngelewatin stage sulit.

Lucunya dulu pernah ada sahabat yang bilang, "Lu harus santai karena bumi berotasi lambat. Dia perlu 24 jam hanya untuk satu putaran dirinya. Makanya lu bisa dalam beberapa jam sampai ke bagian dunia yang lain tanpa perlu melawan arah rotasi bumi. Tapi lu harus gesit. Karena waktu itu berlalu cepat. Gak pake delay ala maskapai. Gak pake reschedule apalagi batal." Coba bayangkan aja kalau waktu bisa batal. Misalnya 7 Desember 2014 batal! Lah terus bisa terjadi huru-hara di mana-mana. Belum lagi saya akan stress karena harusnya saya ulang tahun, kok tanggalnya batal ada. Galau kan usia kita sebenarnya berapa? Apalagi kalau 7 Desember 2011 mundur, jadi 1 hari setelah 7 Desember 2015. Nah lho, jadi habis tiup lilin angka 26, besoknya saya terbangun dengan lagu Taylor Swift, "I don't know about you, but I'm feeling 22.." Berasa muda tapi tetep encok (LBP) dan keriput. Kacau-kacau. ndak usah dibayangkan. Ha ha.


Gambar 1
. Bentukan meme (?) yang sedang happening di jejaring sosialPath.
Dan karena hari ini jaga siang, mulai masuknya jam 14.00 WITA, maka saya sempat untuk streaming 101 Jak FM. Sebenarnya gak rutin, cuma karena Metro TV hilang lagi (mungkin dia Matius -mati misterius- seperti kata my guardian angel). Tapi kzl (dibaca: kesel) pas denger tante Tike bacain iklan promo Senayan City. Beneran masih kebayang gimana susunan toko di sana, jalan diantara hamparan promo Dabenhams, sambil nyanyi banyak promo-promo, promo-promo, kiss kiss. Bubar deh semua karena saya jauh di sini (Lihat gambar, lagi happening banget gambar penyelewengan arti kata dari kamus.  Gak dianggap kudeta bahasa kan?He he). Jadi ingat dulu liburan lama banget setelah ada polemik cicak vs buaya versi AIPKI - IDI, yang akhirnya mengorbankan bocah-bocah yang akan internsip kedokteran. Oke, masa lalu kelam itu lupakan saja. Intinya saat-saat indah itu berlalu cepat. Kalau sekarang ibarat lagi jaga sama dokter supervisor UGD yang asik, terus serangan pasien kayak di Plant vs Zombie gitu (tapi pasiennya gak pake ngeluarin suara, "I'm coming.." kayak zombie juga sih), tiba-tiba saat indah untuk diskusi berakhir seiring datangnya tim jaga berikutnya.

Jadi kayaknya bener deh, kita harus santai menikmati setiap momen yang ada sekarang. Soalnya belum tentu momen itu bisa datang lagi. Anggap aja kita lagi hanyut di lautan. Kalau panik dan nelen air yang lebih asin dari keringet atlit lari maraton itu (boleh dicoba), maka kita akan tenggelam, atau tepatnya menenggelamkan diri sendiri. Namun kalau kita coba santai, menikmati nuansa terbawa arus sambil pasrah pada Sang Pencipta, mudah-mudahan doa kita dijawab. Ingat rotasi bumi itu pelan kok. Gravitasi masih mengikat kita. Nikmati hari Anda dan berbuat yang terbaik, bukan untuk sekarang, tapi demi masa depan yang gemilang (Ea.. Ea.. Eeeeeaaaa.. Gege, mimi, langlang. Gemilang (n) kata yang saya pikir hampir punah setelah ajang pencarian bakat menuju puncak di salah satu televisi swasta yang sekarang banyak menampilkan sinetron dengan animasi naga yang super fake - masih gak ya?- He he).

Have a nice day everybody!

Selong, 16 Januari 2015

-dap-

Rabu, 14 Januari 2015

Mengapa Menulis? (Penggalan 1)

Saya selalu ragu untuk memulai sebuah tulisan. Entah karena begitu banyak ide yang keburu kabur dan tidak terkejar, bahkan tulisan utuh yang setelah dibaca ulang rasanya kurang pantas untuk dibagi dengan orang lain sehingga terpaksa dilepaskan. Kadang terlalu banyak kekesalan yang ditumpahkan, sehingga terkesan terlalu kasar. Tapi ada kalanya banyak kecintaan yang terlalu manis, sehingga memunculkan rasa mual. Akhirnya, seorang teman yang coba mendorong saya untuk memulai menulis, dengan sedikit nyali mulai berkisah dan membebaskan benak saya menuntun jari ini bekerja.

Menulis itu masalah sepele. Bisa asal jadi, tapi tentu tidak menarik. Bisa terlalu serius, tapi tidak bisa dinikmati. Bisa santai, tapi menusuk dalam. Ya menulis itu bisa membuat kita dipuja, tapi bisa juga menabung dosa. Tergantung tujuan tulisan, biar pembaca yang jadi hakimnya.

Lalu mengapa menulis? Karena tidak semua hal bisa diungkapan dengan kata-kata. Curahan hati terdalam yang sulit diludahkan apalagi dimuntahkan. Sering terasa lebih ringan jika diobral tanpa peduli siapa yang membaca, Biar orang meninggalkan komentar, bahkan sampai huru-hara. Tapi kita pegang kendali, membubarkan massa, bahkan menghilangkan jejaknya. Bila dalam berkata terkadang lidah bergerak lebih cepat daripada nalar bekerja. Dalam tulisan Anda bisa meralat dan menimbang ulang, bahkan sampai setelah dipublikasikan. Tulisan tidak harus fokus, menuju satu sasaran. Lain hal bila kita tiba-tiba bermonolog di ruang publik. Bisa jadi disangka sedang kumat gaduh-gelisah. Kita bisa bebas mencurahkan isi hati, tanpa perlu diadili oleh senyum beribu makna, maupun tatapan pura-pura tulus. Layaknya alergi yang baru muncul belakangan. Kita nikmati dulu setiap bait, sampai mulai harus menggaruk dan babak belur karena bengkak.

Tulisan juga menjadi otentik. Tidak terbantahkan. Biar jadi pengingat juga. Ejekan pada orang lain yang suatu hari menjadi tamparan untuk diri sendiri. Motivasi yang cuma sekadar teori, tapi berhasil dipraktikkan  orang lain. Bukti tidak terbantahkan tentang ketulusan yang sudah berubah, idelisme yang mulai bergeser, dan istana kebohongan yang akhirnya runtuh.

Tidak ada kisah yang terlalu panjang dalam tulisan. Terserah pembaca Anda mau meluangkan seberapa banyak yang mereka punya. Kita bisa bercerita panjang lebar bertele-tele. Menyusun plot-plot perlahan menjadi klimaks. Tentu boleh dibuat ringkas dan bersahaja. Walaupun kadang sejujurnya karena kehabisan ide. Intinya Anda boleh jujur mengeluarkan berapa yang Anda punya. Bisa cicilan bebas bunga. Tidak ada beban untuk batal kreditnya, lalu dihapus dari draft.

Hari ini meledak-ledak dengan kekesalan. Besok bermanja-manja merindukan seseorang. Boleh. Semua benar. Asal dibentengi dengan penghormatan pada orang lain. Harusnya Undang-Undang bukan masalah dan hukum manusia tidak jadi soal.

Jadi sebenarnya yang jadi masalah bukan kenapa menulis, tapi kenapa tidak menulis? Ingat, dalam tulisan kita bebas menyelipkan sedikit misteri dan secuplik rahasia, dan mereka bisa bebas menerka. Bukan urusan kita. Yang penting sudah lega.

Kisah omong kosong belaka,
Selong, 14 Januari 2015

-dap-

Senin, 12 Januari 2015

Hidup Itu Dinamis: Dari Mafia Sampai Petani

Gili Trawangan, Lombok, NTB, 31 Desember 2014 

"Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukkan dunia.
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya"

Laskar Pelangi, Nidji

Kalau menurut liriknya Nidji, mimpi itu epik banget. Kunci untuk menaklukkan dunia, harus dikejar tanpa lelah. Buat saya pribadi, mimpi itu sesuatu yg absurd. Kosong. Karena mimpi yang sering dikaitkan dengan cita-cita itu selalu berubah dinamis dalam hidup ini,

Banyak pembaca yang mungkin ga tau seperti apa penulisnya. Setidaknya mereka menerka-nerka, main kucing-kucingan dari hasil karya si penulis. Tapi saya akan coba memulai tulisan-tulisan saya, yang mungkin akan jadi kontroversi, polemik atau bahkan menggelitik untuk diskusi, dengan autobiografi sekelibat. Biar sebelum orang menyeret saya ke meja hijau, sambil divonis rajam tanpa diadili, karena hakimnya sibuk cuci tangan dan kaki lalu kumur-kumur sendiri. Saya akan coba mulai mendongeng, harapannya, Anda bisa mengerti kalau saya ini tidak sesederhana tulisan saya, Bahwa ujung jari saya kadang lebih tajam dari lidah yang cuma diam, dan lebih jahat dari senyum ketika saya tidak suka. Kita mulai menguliti dari hati terdalam, dari cita-cita luhur atau kabur? Dongeng ini saya mulai...

Sebagian besar diri kita, kalau masuk TK yang benar, pasti minimal sekali dalam hidupnya ditanya oleh guru TKnya dengan pertanyaan yang mainstream banget, "Kalau sudah besar, mau jadi apa?" Sebenarnya apa sih tujuan si guru bertanya soal cita-cita atau mimpi kita? Apakah karena kebetulan sudah dipopulerkan oleh Boneka Susan dan Kak Rai dalam lagu mereka? Atau memang segitu pentingnya cita-cita itu sampai harus rutin discreening secara tidak disengaja.

Bayangkan gimana unyunya air muka guru saya, kalau dulu saya coba jujur dan bilang, "Ga tau." Atau mungkin saat sudah beranjak lebih besar saya jawab santai, "Mau jadi silent assassin atau agen rahasia." Mungkin dalam hati si guru bisa sumpah-serapah, iki anak setan, bakar dia, tusuk jantungnya dengan palang kayu atau jejelin bawang supaya muncul taringnya. Hehe.

Jadi alih-alih jujur, saya selalu coba dengan jawaban universal yang mematikan pembicaran, 'Gak tau'. Dan untungnya mimpi itu dinamis seiring kita membesar dan mengobes (menggendut -dic). Kemarin saat jaga saya masih bermimpi untuk jadi ahli bedah, ngubrek-ngubrek dan buang-buang usus orang yang saya pikir sakit dan kata buku harus dibuang (itu yang dirasa betul dikerjakan sekarang). Pagi ini saya menemukan diri saya sedang makan roti slai Nut*lla kado dari teman-teman saya, sambil baca bagaimana cara menanam sayuran di pot. "Jadi petani asik yah!" begitu hati kecil saya bersorak, sambil senyum simpul iseng bertanya pada kepribadian yang sedang mendominasi ini, "Masi mau jadi ahli bedah atau jadi petani saja, seperti saran dosen Biologi di Fakultas Kedokteran dulu?"

Kesimpulannya? Silahkan Anda simpulkan sendiri untuk saat ini. Karena seharusnya kata pengantar itu kan bagian yang dibuang saat Anda mulai membaca buku seseorang. Sebuah bagian yang harusnya penting, tapi berapa persen manusia yang peduli untuk mulai membaca? Padahal penulis biasanya menyelipkan sebaris maksud dan sepenggal tujuan dari buku itu. Harusnya isi buku itu bisa crystal clear setelah membaca, atau bahkan kata pengantar yang powerful bisa membuat pembaca tutup buku dan menaruh kembali ke rak (karena buku yang covernya unyu dengan judul romance itu isinya kisah sedih nan galau).

Selamat bertualang dalam pikiran saya dan semoga tersesat sampai ditujuan.


Selong, 12 Januari 2015

-dap-

Senin, 05 Januari 2015

Kisah Hanyutnya Si Bolang




















Kisah ini based on true story dengan sedikit bumbu ala chef Dicky sehingga jadi fiksi. Sebuah karya yang mencoba merangkai ingatan horor saya saat kemarin hampir hanyut, saat snorkling di Gili Trawangan/Gili Air, dan hilang dari peredaran. I kinda think this as self medication. Supaya saya gak sampe kena post traumatic stress. Dan melalui kisah ini saya coba mengagumi bahwa God still loves me despite what have I done lately (either I did something bad, or I've done nothing for God).

Diposting dengan rasa terima kasih pada mas-mas yang nolongin saya kemarin, sori kita tidak sempat berkenalan lebih jauh bahkan sekadar nama, dan terima kasih sudah diajak naik private boat :)