Pagi ini ada kasus unik yang cukup lengket di benak saya. Sembari berjalan kaki pulang, cukup waktu untuk memikirkan bagaimana menceritakannya dan semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua. Untuk merayakan kembali menyalanya laptop kesayangan, saya akan coba share dengan sentuhan berbeda.
Perempuan usia sekitar 20 tahun-an, dibawa ke IGD sebuah rumah sakit dengan luka menganga di lengan bawah kanannya. Sebuah luka berbentuk seperti lilitan dengan tepian rapi, dengan dasar otot. Pergerakan tangan pasien masih baik. Nadi kuat serta tidak ada tanda gangguan dari persarafan seperti kesemutan. Pasien ditangani. Tiba-tiba datang seorang pria berbadan tegap, berpakaian olahraga dengan tulisan 'Polres' dipunggungnya. Ternyata kisah tragis ini bisa disusun kembali dengan bantuan Raissa.
Seorang laki-laki yang merupakan mantan suami dari perempuan itu mengalami 'sindroma terjebak nostalgia'. Dia mendatangi mantan istrinya untuk mengajak rujuk. "Aku takkan pernah bisa. Ku takkan pernah merasa, rasakan cinta yang kau beri.." Rasanya semua yang dirasa si suami tak berubah sejak istrinya pergi meninggalkannya. Walaupun demikian, si istri berusaha meminta maaf karena ia ingin sendiri disini.
Buat si perempuan, mantan suaminya itu bukanlah mantan terindah. Ia heran mengapa waktu itu suaminya tega memutuskan cintanya. Namun sekarang berusaha untuk kembali mengulang kisah cinta. Mau dikata apalagi, si istri merasa mereka tidak akan pernah satu. Ia sudah coba katakan kalau sang suami berubah. Meskipun bagi sang suami, yang telah dibuat mantan istrinya sungguhlah indah, buat dirinya susah lupa.
Segala bujuk rayu coba dikeluarkan oleh sang suami. "Ya aku mengerti, betapa sulit untuk kembali.. Dan mempercayai penipu ini sekali lagi." Namun si istri tetap pada keputusannya. "Kenapa baru kamu sadari setelah berlayar pergi? Akulah pemeran utama hati dan pemicu detak jantung mu.." Begitu balas si istri. Sang istri terpaksa mencabik hati dan membuat mantan suaminya terluka dan sakit.
Dengan isak tangis, si istri coba menjelaskan. Dirinya telah lama bertahan, demi cinta wujudkan sebuah harapan. Namun kini, semua rasa telah hilang. Dahulu sang suami adalah segalanya, namun sekarang ia mengerti. Apalah artinya menunggu?
Sang suami pun marah, lalu berusaha membacok sang istri. Dalam sekejap mata, harus diakui semua telah berbeda. Semua serba salah. Sang suami ditahan oleh kepolisian, namun dalam hatinya ia bertanya-tanya, "Apalagi salah ku? Apa lagi salah mu? Ku tak ingin kau terluka karena cinta.." Namun si istri merasa cukup. Ia sudah lelah menjalani semua hubungan yang serba salah. Sudah lupakan saja segala cerita antara kita.
Begitulah akhir dari kisah sedih ini. Sebuah pelajaran berharga tentang mencintai dan kehilangan. Hargailah yang masih ada, karena sekali ia pergi, belum tentu akan kembali.
Selong, 30 Januari 2015
-dap-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar