Tampilkan postingan dengan label Curcol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curcol. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 September 2015

Relatifitas Hidup: Hidup itu Relatif, Relatif Kocak

Hidup itu kompleks. Gak sesederhana tarik napas lalu dibuang lagi. Bukan cuma soal jantung berdenyut teratur dan transportasi oksigen serta nutrisi lancar ke seluruh tubuh. Bahkan penunjang kehidupan seperti buang air, baik besar maupun kecil, juga gak bisa disepelekan. Hidup itu susah!

Hidup itu simpel.Gak usah makan ribet-ribet. Asal perut kenyang, hati senang. Bukan masalah walaupun harus banting tulang cari rejeki. Bahkan biar hidup ini merangkak terus, terseok-seok merayap untuk bertahan. Asal punya semangat hidup yang diwujudkan dalam doa (harapan) dan usaha, cukup. Hidup itu gampang!

Sudah berbulan-bulan rasanya kami perang dingin. Aku dan blog ku. Bukan cuma tidak ngobrol, ditengok pun tidak. Sampai suatu hari seorang sahabat nyeletuk, "Lu masih rajin nulis blog?" Saya cuma bisa tersenyum dan mengalihkan pembicaraan. Menikung dari kenyataan bahwa saya hampir melupakan blog. Blog yang setia menerima segala unek-unek. Blog yang dijadikan tameng dari masyarakat. Blog yang bikin orang senyum-senyum sendiri. Bahkan blog yang bikin bangga karena di-like sama orang lain. Walaupun sebenarnya saya berusaha untuk menyembunyikan blog ini, karena tulisan ini bisa jadi sisi liar yang berusaha keluar. Tapi ego narsisistik (bukan istilah akademis) juga kepengen blog ini dibaca dan diapresiasi. Namun sudah berbulan-bulan pacar di dunia maya ini saya biarkan kesepian.

Kembali ke konsep awal pembuatan blog ini, saya ingin bercerita. Baik cerita yang terucap, maupun yang tidak sampai keluar melewati bibir ini. Tertahan di pita suara, takut untuk dimuntahkan, lalu tertelan dan nyangkut dipikiran. Hari ini saya coba bercerita tentang hidup.

Kemarin pagi sebelum berangkat ke Puskesmas tempat saya melayani, ya sekarang sudah pindah di Puskesmas. Bye-bye IGD rumah sakit dengan segala kelengkapannya. IGD yang dulu selalu saya keluhkan segala kekurangannya. Ternyata di Puskesmas lebih dada saya semakin rata karena selalu dielus. Keluhan soal pekerjaan kita sisihkan dulu di bangku pemain cadangan. Kembali ke soal kehidupan. Kemarin pagi itu saya menerima Line dari koko saya di Jakarta. Ternyata ada seorang keluarga yang berpulang tiba-tiba. Tiba-tiba karena berpulangnya tidak direncanakan. Walaupun sebelumnya memang punya keluhan kesehatan, tapi tidak ada rencana beli one way ticket menuju Yang Maha Kuasa. Sepengetahuan saya, ini adalah om paling kecil. Artinya banyak tetua-tetua yang harusnya ijin tinggal (visa) didunianya expire duluan. Cuma kenyataanya kan tidak begitu. Umur visa masing-masing tidak ada yang tahu. Mau diramal-ramal dengan metode apa pun, tidak ada peramal yang bisa yakin dan berani taruhan kepalanya dipotong kalau salah meramal. Jadi dipikir-pikir hidup ini kocak yah. Hidup itu singkat, yang datang belakangan bisa pulang duluan. Tapi saya merasa (hampir) 26 tahun hidup ini sangat panjang. Apalagi kalau cuma dihabiskan dengan penantian. Menanti malam berganti pagi (kerjanya cuma tidur-tiduran) atau pagi berganti malam (nganggur gak nagapa-ngapain seharian). Benar saja hidup itu relatif, relatif kocak. Sekarang saatnya Anda tertawa.

Dalam menjalankan profesi sebagai dukun terakreditasi yang dilegalkan untuk mengobati orang, saya sering berhadapan dengan hidup. Baik awal kehidupan, maupun yang sudah tidak hidup. Awal kehidupan itu sendiri masih menjadi polemik. Ada yang bilang ketika sel sperma merasuki sel telur dan mereka bersatu menjadi sebuah sel awal kehidupan yang disebut zigot. Ada yang bilang zigot itu sel, tapi belum hidup karena belum jelas akan jadi calon manusia atau cukup sampai disitu, sekian dan terima kasih. Zigotnya maksud saya, cerita omong kosong tentang hidup masih panjang. Beberapa lebih yakin kalau disebut sudah hidup kalau sudah dapat dibuktikan denyut jantungnya. Ini juga jadi masalah, karena ada yang senang membuktikan visual alias di USG kelihatan denyut jantung janin. Tapi ada yang senang dengan sistem kalender, kira-kira kalau mulai produksi tanggal sekian, maka pada tanggal sekian denyut jantung harusnya sudah ada. Saya tergelitik menyebutnya kaum kuno yang gagal move on, tapi tidak etis, tapi keburu diketik dan saya malas untuk menghapusnya. Jadi baca yang Anda juga setuju saja. Lebih jauh lagi soal awal kehidupan, ada fanatik yang mengakui sudah hidup kalau sudah lahir dan menangis (atau bukti kehidupan lain). Selama masih belum keluar, maka dia masih calon hidup. Belum prosesi pelantikan melalui jalan lahir yang sempit dan berkelok (lahir spontan atau normal); atau beberapa yang memilih (atau terpaksa) melalui jalan perut yang gerbangnya berlapis (operasi caesar atau sesar). Nah proses pelantikan ini berakhir ketika ada yang berani ketok palu menyatakan ini lahir hidup. Disitu baru diakui kehidupan dimulai. Soal memulai kehidupan ini relatif juga kan? Relatif kocak. Ribut-ributnya soal awal kehidupan ini, nantinya bisa merembet sampai perdebatan aborsi dan kontrasepsi. Bahkan bisa juga dibenturkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan, yang jelas-jelas seperti saya disuruh bersaing adu tampan dengan orang utan jantan. Jelas bila Anda sehat jasmani dan rohani, Anda akan bilang saya lebih tampan, tapi kok orang utan betina tidak sependapat dengan Anda?

Itu baru sedikit tentang sekelumit awal kehidupan. Akhir kehidupannya sendiri juga bukan tanpa kepusingan. Bila semua setuju ini mati, fine, mungkin tidak ada masalah menyebut kehidupan berakhir. Bagaimana dengan orang yang mengalami mati batang otak? Saya ingat pada saat bimbingan menghadapi uji kompetensi, ada sebuah pertanyaan seputar mati batang otak. Saat itu seingat saya, dengan ingatan saya yang terbatas ini, mati batang otak sepertinya belum disebut mati. Tapi ternyata oleh pembimbing kami, mati batang otak, secara teori dan penjabaran lebih lanjut, pada hakikatnya adalah mati karena semua pusat penunjang kehidupan sudah ikut mati bersama si batang otak. Ini seru bila dibahas secara teori. Apalagi kalau terjadi di praktiknya. Seorang pasien dinyatakan mati batang otak oleh dokter. Lalu dokter menyarankan agar alat penunjang kehidupan yang membuat pasien tetap bernapas agar dimatikan. Keluarga berdiskusi panjang, lalu naik banding akhirnya sampai keputusan berkekuatan hukum tetap menyatakan setuju agar alat dimatikan. Dokter pun mempersilahkan seorang anggota keluarga yang mematikan alatnya. Alih-alih ada yang mau, mereka meminta dokter saja yang mematikan dengan seribu satu alasan. Sebagian dokter mungkin santai dan mematikan, tapi tidak sedikit lho yang mundur satu langkah dulu dan berpikir ulang. Saya pernah melontarkan kasus ini ke beberapa kolega sesama dukun terakreditasi, ada yang menjawab diplomatis itu adalah hak keluarga dan sebagainya, ada yang jujur dan polos ujung-ujungnya meminta staff medis saja yang mematikan, intinya mereka sendiri ragu kalau sudah disuruh bertindak. Ragu apakah benar mati batang otak bisa dianggap mati saja. Padahal secara keilmuan dikatakan mati batang otak adalah sama dengan mati. Lagi-lagi kehidupan ini bikin kacau. Akhir kehidupan itu juga jadi relatif. Relatif kocak.

Kehidupan kita yang relatif kocak ini bila diawali dan diakhiri dengan kocak, Anda bisa bayangkan apa yang terjadi sepanjang hidup. Seperti saya coba muat dalam dua paragraf awal tentang hidup. Hidup itu gampang-gampang, susah; juga susah-susah gampang. Dibilang santai yah repot, dibilang repot tapi santai aja dijalani. Intinya bisa disingkat menjadi sederhana dalam dua kalimat berikut ini: Hidup itu simpel, tapi gak boleh disepelekan. Hidup itu kompleks, tapi selama punya semangat hidup, cukup. Lalu bagaimana caranya menjalani hidup? Yuk kita sama-sama belajar, karena awalnya saya menulis artikel ini malah ingin berkeluh-kesah tentang hidup. Kok malah jadi berkesimpulan kalau hidup itu kocak yah? Yang penting mari kita belajar menjalani hidup ini sebaik-baiknya. Supaya nanti kalau ditanya oleh Sang Pemberi Kehidupan, kita gak gelagapan cari-cari pembenaran supaya kelihatan betul. Atau bila Anda tidak percaya adanya Yang Maha Esa, supaya hidup Anda tidak kalah bermakna dengan buang air besar.

Jumat, 24 Juli 2015

Perihal Vonis Dokter

Pagi ini saat nonton berita pagi saya tergelitik dengan istilah 'vonis dokter' yang dipakai oleh narator beritanya. Seketika saya coba mencari arti kata vonis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dan kebetulan artinya vo·nis n Huk putusan hakim (pada sidang pengadilan) yang berkaitan dengan persengketaan di antara pihak yang maju ke pengadilan; hukuman (pada perkara pidana): ia dijatuhi -- enam bulan penjara. Jadi istilah vonis itu TIDAK tepat disandingkan dengan dokter. Pertama profesi kedokteran gak punya hak memvonis karena bukan praktik hukum. Kedua dalam dunia kedokteran, seorang dokter selalu bekerja dalam uncertainty alias gak pasti; seorang dokter cuma memfasilitasi kerja Yang Maha Kuasa. Tidak ada garansi sebuah diagnosis adalah pasti, hanya bisa mentok memastikan dengan pemeriksaan baku emas (gold standar). Memastikan aja sulit, gimana berani menjatuhkan vonis? Yang diberitahukan adalah kemungkinan-kemungkinan sesuai keilmuan si dokter.

Sekadar sharing aja, pasien berhak untuk meminta opini kedua dari ahli lain. Sangat sah juga kalau ada perbedaan pendapat karena dunia kedokteran itu juga soal seni (pengalaman si dokter). Apalagi di pendidikannya banyak diajarkan harus mulai memikirkan yang terburuk supaya gak kelolosan. Sangat tidak mengherankan kalau kondisi yang diprediksi dokter 'kemungkinan lumpuh dan harus dibantu kursi roda seterusnya', lalu pasiennya berobat ke dokter lain atau pengobatan alternatif, dan perlahan mulai bisa berjalan dengan tongkat. Terus... Lumpuh itu vonis dokter? Tdnya saya pikir vonis yang inkracht van gewijsde (berkekuatan hukum tetap dan mengikat) itu cuma deklarasi kematian, tapi toh kalau cerita-cerita tentang mati suri itu benar, "vonis mati" yang dijatuhkan pun ternyata masih bisa direvisi tanpa proses berbelit melalui peninjauan kembali atau grasi.

So, mari mulai hari dengan optimis, di dunia ini jarang ada yang pasti kok. Selama masih ada hembusan nafas untuk berjuang, mari kita sama-sama perjuangkan untuk kebaikan. Semangat pagi, selamat menjalani hari!

*tulisan ini merupakan opini, tidak mewakili pandangan profesi secara umum dan mohon koreksi dan diskusi bila ada pandangan berbeda*

Selasa, 19 Mei 2015

Atas Nama Perdamaian (Yg Keliru)

"Gue udah ngomongin ini sama sepuluh orang, tapi doi gak sadar juga sih.. "

Acap kali kita, entah sengaja maupun tidak, salah mengkomunikasikan masalah. Seringnya masalah pribadi menjadi gosip yang melebar bahkan menular menjadi kebencian bersama. Entah merupakan sebuah gaya hidup atau sudah jadi kebiasaan, bila kita tidak menyetujui perilaku atau kata-kata seseorang, kita malah mengkomunikasikan dengan orang lain. Bukan bicara langsung, membuka wacana diskusi dengan orang yang bersangkutan. Misalnya kita tidak suka dengan statement seseorang, tapi alih-alih membicarakan dengan yang bersangkutan, dengan segala alasan, kita malah membuka pintu gosip bersama orang lain.

"Ya kan, gue gak mau ribut sama doi.."
Sebegitu jeleknya kah peer review? Budaya anti kritik dan anti masukan itu sepertinya sudah memasuki diri kita. Tanpa sadar kita sangat resisten dengan koreksi dari orang lain, sehingga teguran itu malah bisa diartikan sebagai pengibaran bendera perang. Jadi supaya aman, kita ekspresikan saja kekesalan dengan menceritakan pada si A. Bila tidak puas, bisa diceritakan lagi ke si B, C, D dan seterusnya, sampai bila ditelusuri ke ujung maka sudah banyak tambahan penyedap cerita. Sinetron banget! Membawa slogan perdamaian malah kita jadi menggosipkan orang lain tanpa membantu orang itu dalam evaluasi diri. Sah-sah saja minta pendapat apakah kekesalan kita berlebihan? Sangat halal juga minta pendapat bagaimana solusinya? Tapi yang jadi soal, kita menjalankan solusi, yang kita anggap selalu benar, tanpa menggandeng orang yang bersangkutan.

Gosip Berantai
Suatu hari di sebuah tempat kerja Tompel mengadu pd temannya tentang kemalasan seorang rekan kerja satu shift, yang kita sebut saja Bunga. Seribu satu kisah pendukung argumen kemalasan Bunga diutarakan oleh Tompel. Setelah penjabaran kisah secara panjang lebar, Tompel dan teman-temannya setuju bahwa tindakan Bunga itu salah. Mereka pun melakukan analisis macam-macam sehingga diskusi menjadi lebih hangat. Diskusi diakhiri dengan masukan oleh seorang temannya untuk mengevaluasi kelakuan Bunga kedepan. Waktu berganti, musim semi bertemu dengan musim semi kembali. Tompel rutin mencurahkan uneg-unegnya tentang kemalasan Bunga, tapi tidak pernah sekalipun menegur Bunga baik langsung maupun sindiran. Tapi kabar 'Bunga si pemalas' sudah menjadi rahasia umum untuk semua orang, kecuali bagi si Bunga sendiri.

Di lain kesempatan, ternyata Bagus yang merupakan teman satu shift Tompel dan Bunga, ternyata memiliki gaya serupa dengan Tompel. Dia suka curhat kesana-kemari tentang Tompel yang suka bercanda kasar dan porno. Sehingga selama bertahun-tahun lamanya, Bunga tetap lah malas, Tompel tetap lah kasar dan porno, dan ternyata Bagus tidak sebagus namanya. Dia berlabel 'si urakan' karena sering tidak membereskan kembali peralatan kerja yg selesai dipakai.

Kejadian begitu bukan eksklusif terjadi pada Tompel, Bunga dan Bagus. Saya juga beberapa kali mengungkapkan rasa tidak setuju terhadap orang lain, namun sebatas dibicarakan pada banyak orang kecuali pada yang bersangkutan. Entah krn takut, karena posisi yang bersangkutan superior, atau krn alasan cinta damai. "Males ah, nanti jadi berantem.." Akhirnya sedikit demi sedikit rasa tidak setuju itu ditumpuk, ditumpuk, dan saya mengambil kesimpulan tentang seseorang. Kesimpulan bersama tentunya dan menjatuhkan label pada diri orang tersebut. Kejelekan ini makin hancur saat diperhatikan bahwa lingkungan juga melakukan hal yang sama. Sudah biasa saja kalau kita bicara tantang kejelekan orang lain, tanpa usaha membantunya menjadi lebih baik. Dan lumrah kalau punggung kita tidak pernah aman dilingkungan begitu.

What Goes Around, Comes Around
Dulu ada sebuah ilustrasi dari pemuka agama tentang gosip. Sekumpulan orang bersama-sama ngobrol dalam suatu arisan linkungan RT. Bahan perbincangannya tidak lain adalah kekesalan seorang ibu pada mertuanya yang dianggap mulai pikun, dan didiskusikan secara asyik. Pelan tapi progresif terkuak juga bahwa banyak ibu-ibu di lingkungan RT itu yang juga punya masalah dengan kelakuan si mertua yang suka berlaku ling-lung sehingga dianggap menggangu. Tiba-tiba ponsel si ibu berbunyi, dia terpaksa meninggalkan arisan lebih awal karena harus mengantar mertuanya kontrol ke RS. Saat si ibu itu sudah jauh dari pandangan mata, tetangga dalam arisan itu mulai membicarakan si ibu yg baru saja pergi. Sampai akhirnya tidak ada yg berani angkat kaki duluan karena takut menjadi topik pembicaraan berikutnya. Akhirnya mereka semua kelelahan dan bubar bersama-sama.

Gosip vs Diskusi
Bedanya ngegosipin orang dengan diskusi adalah, gosip hanya bicara tanpa aksi. Sedangkan  diskusi adalah mencari solusi bagaimana membantu orang lain, bukan cuma sekadar curcol tentang kekesalan. Karena masalahnya, pertama belum tentu "saya" benar saat kesal, kedua belum tentu "kita" benar. Bisa jadi kekesalan kita itu karena ego kita dan bisa jadi orang yang kita ajak bicara punya subjektivitas lebih sehingga membela ego kita. Hati-hati..

Saya juga masih berlajar bagaimana caranya membantu orang lain, bukan sekadar menggosipkan tentang kejelekannya. Kadang sindiran itu sulit dimengerti, apalagi sindiran dengan bungkus sarkasme. Semoga sedikit renungan ini bermanfaat utk menghalau mimpi buruk nanti malam.

PS: Ditulis bukan untak menghakimi orang lain.

Selamat sore!

Rabu, 06 Mei 2015

Budaya Jińg Nyèt Prët Taí

Sore ini dengerin rerun sebuah acara radio yg isinya nelpon orang terus ngasih tawaran ngaco gitu, ya tahu lah yah acara apa, yang gak tahu Google 'tawaran ngaco' deh. Jadi ceritanya disitu si penyiar pura-pura nawarin produk untuk mancungin hidung, tapi syaratnya aneh-aneh untuk bisa berhasil. Sudah kayak klenik aja yah. Nah diujung acara, pas si penyiar ngebuka kalau itu acara buat ngerjain doang, tiba-tiba si cewek mengeluarkan suatu nama hewan, dan diulang, dan diulang, dan diulang berkali-kali. Sampe akhirnya penyiarnya ngeluarin komentar, "Cantik2 ngomongnya kasar yah..."

Saya bukan orang yang berprinsip 'perempuan gak boleh ngomong kasar', 'perempuan harus feminim, anggun, lemah-lembut' atau 'perempuan seharusnya...' Bukan. Sudah sejak lama saya pikir perempuan itu punya hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki. Setara. Kecuali mereka punya kelebihan, diberikan tanggung jawab maha besar untuk melanjutkan keberlangsungan manusia melalui cobaan berat yang kita kenal sebagai melahirkan. Soal kata-kata yang terkenal dengan istilah 'ungkapan kebun binatang' itu sebenarnya saya pikir hanya masalah kebiasaan. Masalah? Ya. Karena tingkat retensi kita untuk hal buruk itu cepat sekali. Apalagi kalau sampai kelepasan diekspresikan di radio yg pendengarnya cukup banyak.

Kalau kebiasaan sepert itu dianggap biasa saja dan sejalan dengan pemikiran modern. Saya pribadi lebih suka disebut kuno, ortodox, konservatif dan istilah apa pun yang menggambarkan pemikiran jaman dulu bin purba. Biar saja harus ikut punah dengan orang-orang kolot. Namun, tetap tidak nyaman rasanya mendengarkan sumpah-serapah macam itu. Masih tidak biasa. Sangat disayangkan sebenarnya, karena sesungguhnya kalau mau belajar lebih banyak istilah dalam bahasa kita, banyak loh kata-kata lain yang mampu mensubstitusi ekspresi saat kita mengeluarkan kata-kata yang masih lazim dianggap kasar. Lagipula bagaimana dengan hak dari 'objek' yang kita gunakan itu? Kalau bisa menuntut, mugkin mereka akan memperkarakan ke meja hijau - main tenis meja misalnya, utk menyelesaikan perkara sepele ini.

Masalah sepele setaraf bercandaan jorok. Bercandaan yg saya anggap memiliki kasta paling rendah, lebih rendah dari bercanda tidak lucu (masih populer diwakili istilah jayus?). Mungkin dalam hal berkata-kata kasar itu bisa dianggap mewakili cara berekspresi 'rendahan'. Karena secara tidak langsung itu merendahkan kecerdasan Anda.

Tentu maaf kalau banyak yang tidak setuju dengan pemikiran prasejarah ini. Cuma rasanya tidak berlebihan kalau saya gunakan momen minum jus untuk curcol akan kegelisahan. Gelisah kalau dimasa depan kita mewariskan budaya 'jing nyet pret tai' ini. Khawatir kalau saya hidup cukup lama untuk melihat budaya itu berkembang. Prihatin bahwa ada waktunya nanti kebiasaan jelek ini dianggap biasa saja, bahkan diadopsi sebagai budaya.

Semoga kita bisa menjaga lidah kita dan terutama pita suara kita. Tidak takut kehilangan suara, lebih menakutkan suara yang kita keluarkan 'sumbang' bahkan 'menyakitkan'. Good evening :)


Selong, 6 Mei 2015

-dap-

Rabu, 29 April 2015

Fenomena Bunuh Diri Pasif

Bunuh diri itu salah, tapi kalau bunuh diri pasif?
Sadar atau tidak, kita banyak melakukan bunuh diri pasif setiap hari. Bukan hanya memiliki keinginan mati dalam alam bawah sadar kita. Ternyata banyak dari kita yang juga seorang masokis, jadi bunuh dirinya pelan-pelan sambil menikmati proses mati perlahan. Metode paling populer adalah dengan gaya hidup yang 'sakit'. Junk food, sedentary life style, bahkan stress negatif ditambah dengan su'uzon alias  berprasangka buruk (bener gak yah begitu tulisannya?), iri, dan penyakit 'hati' lainnya.

Sedikit demi sedikit kita menabung masalah di masa depan, yang tinggal tunggu sialnya saja, tiba-tiba berbagai penyakit menggerogoti. Baru deh nyesel karena sadar mulai proses mati yang menyakitkan. Tapi banyak loh yang sampai tahap itu pun masih masokis sejati. Contohnya pasien Diabetes Melitus tipe 1 yang sempat koma karena komplikasi. Udah susah-susah dirawat sampai stabil, eh pas stabil mulai lagi gak mau nyuntik insulin, makan sembarangan sampai gula darahnya chaiya-chaiya joget India.

Sebenarnya untuk menghentikan bunuh diri pasif itu sederhana. Langkah pertama tentu dimulai dengan kesadaran, lalu berlanjut dengan peng-ama-lan. Seperti kata Ade Rai disebuah acara talk show siang beberapa hari yang lalu, kalau kita mandi dua kali sehari gak ada yg muji kita disiplin, kenapa kalau kita olahraga tiap hari harus dibilang disiplin. Itu kan sudah semestinya dan sepatutnya. Sama halnya dengan, kenapa kalau kita membatasi kalori dibilang jaga makan, padahal kan sudah seharusnya asupan itu gak boleh lebay.

Yah tapi bukan berarti sah-sah saja berlaku ekstrim. Sebenarnya kebanyakan kita hidup sederhana saja sudah mendekati benar. Jadi gak perlu lagi program macam-macam, kecuali dalam kasus khusus. Selain badan, tentu kita harus menjaga pikiran kita benar. Gak perlu sempurna, karena malaikat saja ada yang tak bersayap, tak cemerlang dan tak rupawan seperti dalam lirik lagu dari Dee.

So, coba bangun dari penurunan kesadaran yang kita anggap biasa dan mulai STOP bunuh diri pasif.

Have a nice evening!


Selong, 29 April 2015

-dap-

Jumat, 06 Maret 2015

Gaya Begal Mental Ngemis

Sore ini saat sedang menarik tunai di mesin ATM di dalam toserba terkemuka, sebut saja Alfa Mart. Tiba-tiba beberapa orang anak bocah mengerumuni saya. Sontak saya bingung apa yang sedang mereka lakukan. Mereka dengan diam menunggu. Tampak beberapa diantaranya berbisik, sayup-sayup saya berusaha berpikiran positif saja kalau mereka mau melindungi saya saat mengambil uang di tabungan yang isinya tidak seberapa. Tapi otak saya yang cuma segini tidak bisa menghilangkan pikiran jangan-jangan ini modus baru pembegalan. Dikepung lalu dirampok saat uangnya keluar. Seketika tangan saya sigap meraih uang yang dimuntahkan oleh mesin, yang tega memaparkan saldo yang tiap bulan tidak mampu menutupi potongan biaya administrasi, lalu memasukkan lembaran uang ke dalam dompet. Dalam hati saya sudah siap kalau tiba-tiba sekelompok bocah tadi mengeluarkan pisau atau menyerang saya seperti kegilaan. Beruntung proses pengambilan tunai berjalan lancar dan dengan kekuatan bulan saya ngacir dengan kecepatan pengecut menjauhi bocah yang saya pikir komplotan begal.

Begal atau bahasa klasiknya penyamun, seperti tertulis dalam kisah-kisah jadul bin klasik. Mendengar kata begal baisanya membuat bulu kuduk merinding disko, minimal membuat kita sementara menjadi orang beriman yang berdoa jangan sampai menjadi korban. Beberapa begal klasik digambarkan bertopeng atau mengenakan cadar supaya tidak dikenali dalam aksinya. Yang lebih modern dan mulai naik daun akhir-akhir ini adalah begal yang dengan percaya dirinya merampok motor ditengah jalan tanpa berusaha mengaburkan identitasnya. Menurut cerita dari pembimbing internsip saya bahkan ada begal yang tidak mencuri, tapi menculik kendaraan. Modusnya motor korban diculik tengah malam, lalu beberapa saat kemudian korban akan mendapatkan surat kaleng untuk menebus motor yang diculik dengan sejumlah uang. Aneh tapi kreatif. Pasal apa yang bisa menjerat pelaku, jujur saja saya tidak paham. Yang pasti ada sebuah kampung yang dijuluki 'Kampung Maling' dimana penghuninya sebagian besar, berprofesi sebagai begal, rampok, jambret, sebut saja profesi lain yang bernaung dibawah ikatan kriminal nusantara.

Kembali pada kisah pengepungan bocah di ATM tadi. Jantung saya berdegup biasa teratur. Tangan saya tidak tremor. Namun pikiran saya kacau. Saya sempat mendengar dialog bocah itu yang intinya sudah tidak usah dikejar karena galagat saya tidak akan ngasih uang kepada mereka. Astaga! Ternyata mereka bukan mau merampas dengan paksa, namun mereka berusaha membuat hati saya tersentuh supaya bisa menyerahkan uang atau populer disebut ngemis.

Disitu kadang saya merasa sedih. Bagaimana anak-anak kecil dibiasakan meminta-minta. Teringat peristiwa beberapa minggu yang lalu. Saat itu saya dan temen sejawat sedang asyik ngemil kentang goreng dan McFlury di pinggir jalan sebuah mal, menantikan dijemput untuk makan malam Imlek. Dari kejauhan beberapa pasang mata kecil sudah mengintai mangsa yang membawa makanan. Entah itu botol air mineral, camilan, bahkan es krim bekas pun biasa kita akan di datangi oleh sekelompok bocah yang akan meminta-minta makanan yang kita pegang. Saat itu saya coba untuk tega dan tidak membiasakan anak sekecil itu mengemis makanan. Tidak pantas dan yang lebih miris lagi, saat saya memberikan setengah bungkus kentang goreng yang sedang asyik saya makan, mereka berjalan menjauh (jangan berharap ada ucapan terima kasih sebelumnya) dan menghampiri orangtuanya yang sedang kongkow-kongkow dipinggir jalan menikmati makanan bekas yang berhasil didapatkan oleh bocah-bocah tersebut.

What!? Tidak habis pikir tega-teganya membentuk mental minta plus maksa seperti itu. Saya lebih menghargai kalau mereka minimal datang dan bernyanyi sebelum meminta makanan, setidaknya ada sedikit usaha lebih daripada hanya menengadahkan tangan dan setengah memaksa. Modal keles... Membiasakan diri dengan pendidikan manja dan mental meminta seperti itu tentu akan membuat bangsa kita hancur. Sama seperti koas (dokter muda) yang bertanya tanpa membaca, bahkan disuruh membaca saja malah asal nyeletuk demi minta tentiran. Usaha dulu keles... Tidak ada makan siang yang gratis, bahkan keundangan makan siang pun tidak gratis. Sedikitnya menjadi hutang budi, sebanyak-banyaknya Anda dikasih makan udang dibalik batu, ada apa-apanya.

Entah kebetulan atau kesialan, kebiasaan jelek itu juga saya lakukan dibeberapa kesempatan. Sering teguran saya telan, bahkan tamparan nasihat juga menjadikan pendidikan baik untuk perkembangan mental. Secara natural mungkin kita senang disuapi. Masih terjebak nostalgia masa bayi. Tapi ingat, seiring berjalannya waktu kalau mau disuapi lagi, artinya kita boleh memilih antara menjadi lumpuh, mengalami penurunan kesadaran, mengidap kelainan kejiwaan atau patologi lainnya. Bagi kita yang punya sifat alami tidak mau mencoba dulu dan hanya mau segala yang instant, dengan bantuan lingkungan kita biasa berubah menjadi lebih independen dan berdikari. Nah bayangkan kalau kita sebagai individu yang sejatinya lembek (kebiasaan umum menyalahkan human nature), dibesarkan menjadi pribadi yang lenje. Apa kata dunia?

Saya tidak pantas menasehati orang. Masih belajar untuk berbagi kisah. Namun bisa dipakai sebagai penutup yang menjengkelkan, kalimat kesayangan dari konsulen ilmu bius (anastesi) kesayangan semasa pendidikan dulu. Yah beliau juga mengutip dari iklan pemanis berkalori rendah dipadu dengan lagu dari Armada Band. "Mau dibawa kemana kehidupanmu, yah terserah kamu. Kan sudah ada yah iklannya, manisnya hidup, kita yang tentukan." Semoga kisah diatas bisa bermanfaat. Have a day!


Selong, 6 Maret 2015
With Love,

-dap-

Kamis, 12 Februari 2015

Cuma Sebuah Surat Cinta: Untuk Mbak Hepi dan Kang Dai (Ceceran 2)

Sudah cukup lama aku berjauhan dengan blog kesayangan ku. Nampaknya akhir-akhir ini aku sibuk mengurus perut, atau lebih tepatnya lidah. Perut mah selalu cepat puas, yang penting diisi dan kenyang. Lidah yang selalu resek. Seorang sahabat dulu menggunakan istilah "memuaskan lidah". Kalau makanan yang kami santap tidak memuaskan lidah, dia selalu punya alasan untuk mencari menu lain lagi walaupun setelah kenyang. Nampaknya membahagiakan lidah tidak sesederhana membahagiakan perut ya.

Orang bilang bahagia itu mudah. Bohong! Itu cuma sebuah kalimat penghiburan. Bahagia itu tidak pernah mudah. Apalagi seiring bertambahnya usia. Mau bukti? Coba nonton film dibioskop yang isinya semua bocah-bocah kelas TK-SD dengan film animasi Megamind. Saya pernah mengalaminya beberapa tahun lalu. Ketika itu mahluk yang memadati studio sebagian besar adalah bocah-bocah mungil yang belum muncul adegan lucu saja mereka sudah tertawa. Mereka tertawa untuk tokoh berwarna biru, mereka tertawa untuk ikan di akuariumnya, mereka tertawa untuk apa pun. Sampai saya sulit membedakan, apakah benar adegannya lucu. Intinya selama film berlangsung saya jadi bertanya-tanya pada diri sendiri. Memang ternyata secara alami, beranjak dewasa artinya sesuatu yang bisa membuat kita tertawa semakin berkurang. Rasio. Si penjahat yang menyingkirkan hasrat tersenyum. Kita jadi lebih banyak berpikir daripada menikmati spontanitas. Semakin kita bertumbuh besar, logika lah yang mulai mengerogoti kebahagiaan kita. Harus kah ada alasan untuk bahagia?

Hari ini setelah sibuk seharian dalam mengejar kepuasan lidah, ketika kembali ke kamar saya menemukan sebuah paket yang terbujur kaku, diam dan tak bernyawa. Tampak alis mata ini merapat tanda kebingungan. Coba didekati, didengar dengan seksama. Sepertinya tidak berbahaya. Akhirnya saya bawa ke kamar untuk diotopsi. Pelahan saya lucuti 'pakaian' yang menyelimutinya. Menggunting pasti diantara lipatan untuk memastikan barang bukti tetap utuh. Lapis demi lapis disibak. Voila! Ternyata dilapisan pertama dari isi kardus tampak sebuah surat yang membuat saya sumringah.


Spontan saja bila saya kemudian berpikir bahwa bahagia itu tidak mudah, tapi Tuhan selalu mengirimkan bagi kita sumber kebahagiaan, tinggal bagaiman kita meyadari, menerima dan mensyukurinya. Karena memang bahagia tidak mudah, tapi buat saya, selalu ada alasan untuk bahagia dan selalu ada mereka yang mengisi penuh 'cawan kebahagiaan'. Thank you dear Nagisa, Ivon, Steffi, Sylvani, Ditta and Olin, for reminding me what happiness is about. My happiness is all of you. Tunggu pembalasan ku! Ha ha. What A Happy (mbak Hepi) Day (Kang Dai)!

Selong, 12 Februari 2015
With Love,

-dap-

Jumat, 06 Februari 2015

Berbuah Pada Musimnya

"Kiri kanan, ku lihat saja, banyak buah rambutan.. aan..
 Kiri kanan, kulihat saja, banyak buah rambutan."

Begitulah sepotong lagu dagelan yang diambil dari lagu anak-anak populer. Tapi begitulah faktanya kalau Anda saat ini berjalan-jalan di Lombok, khususnya Lombok Timur. Hampir disetiap sudut penjual buah, Anda bisa menemukan buah rambutan disusun bertumpuk rapi dan membuat ngiler pecinta buah ini; sekaligus merinding bagi yang geli dengan bulu-bulu yang berjajar rapi meliputi seluruh kulitnya, "Iiih geli deh. Kalo dikupasin mau deh. He he he" Selain rambutan, belakangan muncul juga buah yang peribahasanya membawa rejeki, tapi kalau terjadi betulan bisa jadi bencana. Ya, 'tertimpa durian runtuh'. Buah durian yang khas dengan tamengnya serta bau wangi (atau amis bagi sebagian orang) yang menyengat, memancing air liur (atau rasa mual bagi sebagian orang).

Teringat beberapa bulan yang lalu, setiap kali saya bangun tidur dan menyibak gorden kamar, terlihatlah buah seperti cendol berukuran raksasa, berwarna hijau dengan bau wangi sedikit masam. Musim mangga sudah berlalu. Baru saja pagi ini saya berjalan menelusuri balkon kamar kost dan tersadar bahwa 'cendol-cendol' yang menggantung indah dan memanggil-manggil untuk menyantapnya sudah bubar jalan. Tanpa aba-aba siap grak dan hormat kepada pembina sebelumnya. Itulah musim buah yang datang dan pergi tanpa kita sadari. Semua berjalan alami. Yang datang menggantikan ia yang pergi.

Kemarin malam, saya mendapatkan sebuah kabar duka. Seorang guru SMA saya berpulang ke sisi Tuhan YME. Masih jelas tergambar dalam memori ini bagaimana dulu ia masih berjalan dengan gagah dan sambil bercanda-canda dengan murid-muridnya. Sekejap mata, saya menyelesaikan rangkaian pendidikan dan beliau sudah tiada. Manusia lahir, bertumbuh dan berkarya, lalu harus mebubuhkan tanda titik diakhir kisah hidupnya.

Fenomena ini berjalan dengan alamiah. Selalu begitu tanpa kita intervensi. Akan tetap begitu walaupun kita berjuang untuk mencegahnya. Walaupun dengan teknologi kita bisa menyantap mangga atau rambutan atau durian setiap saat sepanjang tahun, namun tentu kita tidak bisa memaksa semua pohon memberikan hasil maksimal. Tidak bisa memaksa ia berbuah sepanjang hayat. Begitu juga dengan hidup kita. Ada saatnya kita meniti karir, maju dengan pasti, sampai suatu saat kita akan berhenti. Berhenti ditengah usia dan menikmati yang namanya pensiun atau bahkan kita tutup karya kita seiring dengan mata ini menutup selamanya. Tidak ada yang bisa memastikan, tapi kita bisa mengusahakan.

Dari dulu selalu dikatakan oleh nyokap saya, bedanya takdir dengan nasib adalah takdir pemegang saham mayoritasnya adalah 'alam' (diberi istilah Tuhan untuk yang percaya), namun nasib itu kita pemegang mayoritas keputusan. Kita bisa menjual seluruh hidup kita untuk bersantai, menghabiskan masa muda dan melewatkan musim panen. Disisi lain, kita bisa bersantai menikmati musim panen setelah bekerja keras disaat tubuh masih tegak dan otot muka masih kencang. Kita harus berani untuk mulai menghasilkan sedikit, daripada tidak menghasilkan sama sekali. Kita harus berani berjuang bermandi keringat, daripada meneteskan air mata penyesalan. Karena sejujurnya tidak perlu peramal untuk melihat masa depan kita. Lihat lah dari apa yang kita lakukan sekarang.

Sebatang pohon mungkin tidak bisa memilih akan tumbuh ditanah yang seperti apa. Namun kita dengan ternyata punya pilihan. Kita siapkan dasar yang kuat dengan dipupuk pengalaman dan pengetahuan. Kita jaga baik-baik pertumbuhan dengan kerja keras. Tentu suatu hari, kita tidak akan heran kalau yang kita tanam bertumbuh subur, lebat dan berbuah pada musimnya. Dan tidak seperti pohon yang tidak bisa memilih. Kita bisa memilih untuk menanam berbagai jenis, sehingga setiap musim kita mendapatkan hasil yang berbeda-beda.

Hidup kita ini dinamis. Jangan sampai kita terpaku pada suatu kenyamanan. Lupa kalau musim akan berlalu dan kita harus menanti kapan baru bisa kembali berbuah. Hidup ini juga pilihan. Tentunya hidup ini juga kesempatan. Bagaimana kita mengelola hidup ini agar tidak kecewa saat harus tutup buku dan mengembalikan kepemilikan atas aset jiwa ini pada Sang Empunya.

Selamat jalan bapak guru kami, Vitalis A. Daga, S. Pd. Semoga Bapak tersenyum melihat kami buah pendidikan mu dari sisiNya. Tuhan memberkati keluarga yang ditinggalkan.

Selong, 6 Februari 2015

-dap-

Jumat, 30 Januari 2015

Drama Raissa di IGD

Pagi ini ada kasus unik yang cukup lengket di benak saya. Sembari berjalan kaki pulang, cukup waktu untuk memikirkan bagaimana menceritakannya dan semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua. Untuk merayakan kembali menyalanya laptop kesayangan, saya akan coba share dengan sentuhan berbeda.

Perempuan usia sekitar 20 tahun-an, dibawa ke IGD sebuah rumah sakit dengan luka menganga di lengan bawah kanannya. Sebuah luka berbentuk seperti lilitan dengan tepian rapi, dengan dasar otot. Pergerakan tangan pasien masih baik. Nadi kuat serta tidak ada tanda gangguan dari persarafan seperti kesemutan. Pasien ditangani. Tiba-tiba datang seorang pria berbadan tegap, berpakaian olahraga dengan tulisan 'Polres' dipunggungnya. Ternyata kisah tragis ini bisa disusun kembali dengan bantuan Raissa.

Seorang laki-laki yang merupakan mantan suami dari perempuan itu mengalami 'sindroma terjebak nostalgia'. Dia mendatangi mantan istrinya untuk mengajak rujuk. "Aku takkan pernah bisa. Ku takkan pernah merasa, rasakan cinta yang kau beri.." Rasanya semua yang dirasa si suami tak berubah sejak istrinya pergi meninggalkannya. Walaupun demikian, si istri berusaha meminta maaf karena ia ingin sendiri disini.

Buat si perempuan, mantan suaminya itu bukanlah mantan terindah. Ia heran mengapa waktu itu suaminya tega memutuskan cintanya. Namun sekarang berusaha untuk kembali mengulang kisah cinta. Mau dikata apalagi, si istri merasa mereka tidak akan pernah satu. Ia sudah coba katakan kalau sang suami berubah. Meskipun bagi sang suami, yang telah dibuat mantan istrinya sungguhlah indah, buat dirinya susah lupa.

Segala bujuk rayu coba dikeluarkan oleh sang suami. "Ya aku mengerti, betapa sulit untuk kembali.. Dan mempercayai penipu ini sekali lagi." Namun si istri tetap pada keputusannya. "Kenapa baru kamu sadari setelah berlayar pergi? Akulah pemeran utama hati dan pemicu detak jantung mu.." Begitu balas si istri. Sang istri terpaksa mencabik hati dan membuat mantan suaminya terluka dan sakit.

Dengan isak tangis, si istri coba menjelaskan. Dirinya telah lama bertahan, demi cinta wujudkan sebuah harapan. Namun kini, semua rasa telah hilang. Dahulu sang suami adalah segalanya, namun sekarang ia mengerti. Apalah artinya menunggu?

Sang suami pun marah, lalu berusaha membacok sang istri. Dalam sekejap mata, harus diakui semua telah berbeda. Semua serba salah. Sang suami ditahan oleh kepolisian, namun dalam hatinya ia bertanya-tanya, "Apalagi salah ku? Apa lagi salah mu? Ku tak ingin kau terluka karena cinta.." Namun si istri merasa cukup. Ia sudah lelah menjalani semua hubungan yang serba salah. Sudah lupakan saja segala cerita antara kita.

Begitulah akhir dari kisah sedih ini. Sebuah pelajaran berharga tentang mencintai dan kehilangan. Hargailah yang masih ada, karena sekali ia pergi, belum tentu akan kembali.

Selong, 30 Januari 2015

-dap-

Senin, 26 Januari 2015

Tampak Gagah?

"Tapi buka dulu topengmu
Buka dulu topengmu
Biar ku lihat warnamu
Kan kulihat warnamu"

Topeng, Peterpan (Noah)


Siapa yang tidak mau tampil baik? Hampir semua orang pasti ingin tampil baik. Terutama jaman sekarang. Bisa dibilang penampilan adalah salah satu faktor yang menentukan penilaian orang pada diri kita. Pernah ada cerita seorang dokter spesialis kandungan yang disuruh memindahkan tabung oksigen ketika pertama kali datang ke ruang operasi sebuah rumah sakit, karena dipikir staf disana beliau adalah cleaning service ruangan. Begitu pentingnya arti penampilan dalam memberikan impresi pada ingatan orang, tidak heran jaman sekarang banyak klinik estetika bermunculan (dan banyak yang laku keras), pusat kebugaran menjamur di mana-mana (yang kebanyakan membernya datang bukan bertujuan untuk sekadar bugar, tapi ingin membentuk tubuh terlihat menarik).

Teringat kemarin ketika sedang menunaikan tugas berjaga di IGD, tiba-tiba datang lah serombongan orang. Tampak seorang pria dengan gaya rambut trendi, mengenakan anting hitam seperti yang dikenakan oleh seorang ilusionis terkenal Indonesia, memakai celana jeans berhiaskan rantai, intinya dia ingin memberikan kesan "anak gaul". Tapi pagi itu, alih-alih tampil gagah, nampaknya ia bisa dibilang tampil gagal (failed). Dia datang dengan dipeluk seorang lelaki (mungkin saudaranya) dan 'kerennya' dia menangis tersedu-sedu, meraung-raung di IGD.

"What the...?" umpat saya dalam hati.

Usut punya selidik, tentu dia tidak langsung saya jadikan tersangka setelah penyelidikan yang singkat (saya profesional dan menolak kriminalisasi), ternyata dia menangis karena merasakan ada binatang yang masuk dalam telinganya.

"Sakit dokter.. Cepetan tolongin.. Cepeeettt.." rengeknya dipelukan laki-laki yang saya masih tidak tahu sampai sekarang apa hubungan mereka.

Investigasi pun dilakukan sesuai protokol (kebiasaan) yang berlaku. Perawat yang sudah biasa menangani kasus benda asing di dalam liang telinga pun beraksi dengan senter layaknya seorang detektif mencari clue. Dilihat, diterawang, tanpa coba diraba-raba, saya dapat membaca atau tepatnya menghidu (kalau mencium pakai bibir, begitu kata dosen ilmu fisiologi saya di fakultas dulu) something fishy di sana.

"Dapet mas?" Tanya saya seraya maju mendekati kerumunan.

Lucunya orang yang berpenampilan seperti itu, yang kalau saya sedang jalan sendiri tiba-tiba dihadang dan diminta dompetnya saya akan percaya itu memang profesinya. Datang ke IGD di Minggu pagi yang ceria, dengan merengek sekaligus histeris, ditemani oleh ayah, ibu, adik, paman, bibi, dan keluarga besarnya, hanya untuk keluhan 'serangga masuk telinga'.

Setelah berhasil menerobos kerumunan 'penonton' yang notabene adalah keluarga yang harusnya bisa disuruh menunggu di luar ruang pemeriksaan itu, saya pun mengambil toples dan mengocok arisan di IGD, hmm, tentu bukan itu yang terjadi. Intinya dengan segala pengetahuan yang pernah diajarkan di stase THT tentang memeriksa telinga luar, saya coba mencari sumber kesakitan yang sangat itu.

"Tadi sebelum ke sini sempet dikorek-korek yah mas?" tanya saya seraya masih menganalisis liang telinganya.

Keluarga pun bercerita panjang tentang bagaimana usaha telah dilakukan untuk mengeluarkan benda itu di telinga. Yang ternyata bagi saya jelas malah melukai liang telinganya.

"Masih berasa ada yang bergerak-gerak?" Pasien itu pun menangguk perlahan. "Yah saya kasih obat dulu biar binatangnya mati yah, baru nanti kita coba keluarkan."

Saya berjalan menjauh, menginstruksikan terapi pada rekan kerja di IGD, lalu meninggalkan pria itu untuk melengkapi status rekam medik perawatannya. Sangat jelas ditelinga ini setelah saya selesai memberikan instruksi, pria itu kembali menangis dan meraung-raung. "Dokter cepetan.. Sakit banget.. Dokterrr.. Tolongin dong.."

Sempat tidak habis pikir bagaiman kalau pasien itu datang untuk melahirkan. Mungkin dia sudah ngamuk dan mencekik dokternya saat kontraksi rahim datang bertubi-tubi menuju kelahiran bayi.

Kita sering terjebak dengan penampilan seseorang. Cinta boleh saja datang pada pandangan pertama, tapi tentu hanya boleh berlanjut dengan gerilya pikiran dan perasaan untuk menentukan apakah orang tersebut memang seperti yang diperlihatkan penampilannya. Ingatlah bahwa deskripsi tentang penampilan di kamus bahasa Indonesia, sejauh saya periksa dalam proses pengetikan tulisan ini, semuanya masih dikategorikan sebagai ajektiva (kata sifat). Oleh karena itu yang penting dalam penampilan bukan bagaimana melakukan tipu daya mata sehingga tampak menarik, namun bagaiman bersifat (dan bersikap) benar-benar menarik. Jangan sampai alih-alih mau tampil gagah, malah jadinya gagap, kan benar-benar jadi gagal nantinya.


Selong, 26 januari 2015
Dari penulis yang masih mencoba tampil apa adanya,

-dap-

Sabtu, 24 Januari 2015

Curcol Tengah Malam: Bukan Insomnia

Malam kembali datang. Waktunya orang-orang menyelesaikan hari, memejamkan mata dan menikmati wangi bunga tidur. Tapi bagi beberapa orang, malam adalah saatnya bekerja setelah seharian berusaha memajukan jam tidur. Jaga malam. Sebuah keseruan sendiri dalam profesi yang saya sedang gulati (capeknya udah kayak bergulat setiap habis jaga).

Jam tidur saya sudah hancur sedari SMA. Dihancurkan oleh masa sekolah yang kejam. Hingga waktu me time itu cuma bisa dikejar malam hari. Terpaksa suka tidak cinta, terbentuklah kebiasaan buruk begadang, yang dilarang Bang Haji RI. Masalah timbul belakangan ketika tubuh tidak lagi mau kompromi. Setiap hari dia menyetel mode begadang, sampai suatu hari saya pikir ini insomnia, tapi ternyata bukan. Ini cuma jam biologis sedang rusuh. Galau antara ini waktunya tidur atau waktunya begadang. Kondisi hancur minang ini diperberat lagi semenjak memasuki dunia koas. Jaga malam bolak-balik, seringkali tidur tidak tentu dan tidak tentu tidur (kadang malah tentu tidak tidur). Yah sudah jadi risiko yang diketahui dari awal. Jadi saya tidak perlu kambing hitam untuk dibawa ke meja hijau, toh percuma mengajak kambing main tenis meja. Konsekuensi logis, sulit tidur akhirnya berefek samping sulit bangun juga.

Selain masalah sulit tidur (internal), ternyata gangguan eksternal juga sering datang. Bunyi message bersaut-sautan (yang sering kali tidak gawat atau darurat alias cito binti penting nan urgent), seakan memanggil ku untuk bangun dan melihat ada apa gerangan. Oh, ternyata cuma obrolan iseng. Entah sadar atau tidak , saya terkadang juga suka memancing obrolan bilamana sedang sulit tidur. Mungkin karma akibat mengganggu orang. Ujung-ujungnya karena keburu kumpul semua nyawa yang tadinya berhamburan saat hampir nyenyak, akhirnya kembali sadar penuh dan mulai lagi sulit tidur jilid 2. Alamak!

Seperti sudah dikatakan sebeumnya tentang konsekuensi logis. Memang masalah tidak selesai ketika bisa pindah ke alam mimpi. Bisa meloloskan diri kembali kedunia nyata itu juga bukan perkara sepele. Kadang malah seperti sudah harus menggocek melewati Pele, dihadang Ronaldo, lalu face-to-face dengan Messi. Saya kurang mengerti (dibaca: kagak paham sama sekali) soal bintang sepak bola, tapi nama-nama itu sepertinya sering dikumandangkan di siaran berita. Jadi bisa Anda bayangkan betapa sulitnya untuk bisa kembali ke alam nyata. Makin dasyat lagi, walaupun tanpa 'joget jemuran' seperti diacara Dasyat, kalau harus bolak-balik bangun seperti saat jaga malam. The second sleep is the most dangerous one. Bisa-bisa jatuh ke jurang nyenyak hingga overslept. Makanya kadang terpaksa memilih tidak tidur lagi ketika harus jaga malam di IGD.

Begitulah susahnya tidur dan susahnya bangun. Tapi saya bersyukur sejauh ini masih diijinkan bisa tidur, walaupun sampai memaksakan diri supaya mengantuk. Dan masih diberi kesempatan untuk bangun dari tidur, walaupun dengan tergopoh-gopoh. Karena betapa pun sulitnya proses yang harus dilewati. Toh pada akhirnya kita bisa menyerah berusaha tidur (dan akhirnya ketiduran juga); dan selalu pantang menyerah untuk bangun (sehingga tidak tidur selamanya). Jadi apa pun kondisi yang harus dihadapi, biar selalu dijalani dengam bersyukur. Menggerutu itu ibarat menunggu matahari terbit disisi barat, akhirnya pun harus puas melihatnya tenggelam setelah menunggu seharian. Lebih baik saya pasrah dan mencoba untuk tidur sekarang. Have a good night untuk Anda semua.. Sweet dream, but not too sweet, hati-hati diabetes nanti. He he he

Selong, 24-25 Januari 2015

-dap-