Senin, 12 Januari 2015

Hidup Itu Dinamis: Dari Mafia Sampai Petani

Gili Trawangan, Lombok, NTB, 31 Desember 2014 

"Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukkan dunia.
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya"

Laskar Pelangi, Nidji

Kalau menurut liriknya Nidji, mimpi itu epik banget. Kunci untuk menaklukkan dunia, harus dikejar tanpa lelah. Buat saya pribadi, mimpi itu sesuatu yg absurd. Kosong. Karena mimpi yang sering dikaitkan dengan cita-cita itu selalu berubah dinamis dalam hidup ini,

Banyak pembaca yang mungkin ga tau seperti apa penulisnya. Setidaknya mereka menerka-nerka, main kucing-kucingan dari hasil karya si penulis. Tapi saya akan coba memulai tulisan-tulisan saya, yang mungkin akan jadi kontroversi, polemik atau bahkan menggelitik untuk diskusi, dengan autobiografi sekelibat. Biar sebelum orang menyeret saya ke meja hijau, sambil divonis rajam tanpa diadili, karena hakimnya sibuk cuci tangan dan kaki lalu kumur-kumur sendiri. Saya akan coba mulai mendongeng, harapannya, Anda bisa mengerti kalau saya ini tidak sesederhana tulisan saya, Bahwa ujung jari saya kadang lebih tajam dari lidah yang cuma diam, dan lebih jahat dari senyum ketika saya tidak suka. Kita mulai menguliti dari hati terdalam, dari cita-cita luhur atau kabur? Dongeng ini saya mulai...

Sebagian besar diri kita, kalau masuk TK yang benar, pasti minimal sekali dalam hidupnya ditanya oleh guru TKnya dengan pertanyaan yang mainstream banget, "Kalau sudah besar, mau jadi apa?" Sebenarnya apa sih tujuan si guru bertanya soal cita-cita atau mimpi kita? Apakah karena kebetulan sudah dipopulerkan oleh Boneka Susan dan Kak Rai dalam lagu mereka? Atau memang segitu pentingnya cita-cita itu sampai harus rutin discreening secara tidak disengaja.

Bayangkan gimana unyunya air muka guru saya, kalau dulu saya coba jujur dan bilang, "Ga tau." Atau mungkin saat sudah beranjak lebih besar saya jawab santai, "Mau jadi silent assassin atau agen rahasia." Mungkin dalam hati si guru bisa sumpah-serapah, iki anak setan, bakar dia, tusuk jantungnya dengan palang kayu atau jejelin bawang supaya muncul taringnya. Hehe.

Jadi alih-alih jujur, saya selalu coba dengan jawaban universal yang mematikan pembicaran, 'Gak tau'. Dan untungnya mimpi itu dinamis seiring kita membesar dan mengobes (menggendut -dic). Kemarin saat jaga saya masih bermimpi untuk jadi ahli bedah, ngubrek-ngubrek dan buang-buang usus orang yang saya pikir sakit dan kata buku harus dibuang (itu yang dirasa betul dikerjakan sekarang). Pagi ini saya menemukan diri saya sedang makan roti slai Nut*lla kado dari teman-teman saya, sambil baca bagaimana cara menanam sayuran di pot. "Jadi petani asik yah!" begitu hati kecil saya bersorak, sambil senyum simpul iseng bertanya pada kepribadian yang sedang mendominasi ini, "Masi mau jadi ahli bedah atau jadi petani saja, seperti saran dosen Biologi di Fakultas Kedokteran dulu?"

Kesimpulannya? Silahkan Anda simpulkan sendiri untuk saat ini. Karena seharusnya kata pengantar itu kan bagian yang dibuang saat Anda mulai membaca buku seseorang. Sebuah bagian yang harusnya penting, tapi berapa persen manusia yang peduli untuk mulai membaca? Padahal penulis biasanya menyelipkan sebaris maksud dan sepenggal tujuan dari buku itu. Harusnya isi buku itu bisa crystal clear setelah membaca, atau bahkan kata pengantar yang powerful bisa membuat pembaca tutup buku dan menaruh kembali ke rak (karena buku yang covernya unyu dengan judul romance itu isinya kisah sedih nan galau).

Selamat bertualang dalam pikiran saya dan semoga tersesat sampai ditujuan.


Selong, 12 Januari 2015

-dap-

1 komentar:

  1. Kata pengantar adalah bagian yg terpenting dr sebuah buku, begitu kata dr. L di kuliahnya di blok 1. Mau jd petani atau dokter, yg manapun boleh, slama halal dan tdk mengharapkan belas kasian orang semata.. Yg penting bekerjalah dgn senang hati :)

    BalasHapus