Tidak semua kata dapat diucap lidah dan tidak semua ucapan lebih bermakna dari tulisan.
Kamis, 12 Februari 2015
Cuma Sebuah Surat Cinta: Untuk Mbak Hepi dan Kang Dai (Ceceran 2)
Jumat, 06 Februari 2015
Berbuah Pada Musimnya
"Kiri kanan, ku lihat saja, banyak buah rambutan.. aan..
Kiri kanan, kulihat saja, banyak buah rambutan."
Teringat beberapa bulan yang lalu, setiap kali saya bangun tidur dan menyibak gorden kamar, terlihatlah buah seperti cendol berukuran raksasa, berwarna hijau dengan bau wangi sedikit masam. Musim mangga sudah berlalu. Baru saja pagi ini saya berjalan menelusuri balkon kamar kost dan tersadar bahwa 'cendol-cendol' yang menggantung indah dan memanggil-manggil untuk menyantapnya sudah bubar jalan. Tanpa aba-aba siap grak dan hormat kepada pembina sebelumnya. Itulah musim buah yang datang dan pergi tanpa kita sadari. Semua berjalan alami. Yang datang menggantikan ia yang pergi.
Kemarin malam, saya mendapatkan sebuah kabar duka. Seorang guru SMA saya berpulang ke sisi Tuhan YME. Masih jelas tergambar dalam memori ini bagaimana dulu ia masih berjalan dengan gagah dan sambil bercanda-canda dengan murid-muridnya. Sekejap mata, saya menyelesaikan rangkaian pendidikan dan beliau sudah tiada. Manusia lahir, bertumbuh dan berkarya, lalu harus mebubuhkan tanda titik diakhir kisah hidupnya.
Fenomena ini berjalan dengan alamiah. Selalu begitu tanpa kita intervensi. Akan tetap begitu walaupun kita berjuang untuk mencegahnya. Walaupun dengan teknologi kita bisa menyantap mangga atau rambutan atau durian setiap saat sepanjang tahun, namun tentu kita tidak bisa memaksa semua pohon memberikan hasil maksimal. Tidak bisa memaksa ia berbuah sepanjang hayat. Begitu juga dengan hidup kita. Ada saatnya kita meniti karir, maju dengan pasti, sampai suatu saat kita akan berhenti. Berhenti ditengah usia dan menikmati yang namanya pensiun atau bahkan kita tutup karya kita seiring dengan mata ini menutup selamanya. Tidak ada yang bisa memastikan, tapi kita bisa mengusahakan.
Dari dulu selalu dikatakan oleh nyokap saya, bedanya takdir dengan nasib adalah takdir pemegang saham mayoritasnya adalah 'alam' (diberi istilah Tuhan untuk yang percaya), namun nasib itu kita pemegang mayoritas keputusan. Kita bisa menjual seluruh hidup kita untuk bersantai, menghabiskan masa muda dan melewatkan musim panen. Disisi lain, kita bisa bersantai menikmati musim panen setelah bekerja keras disaat tubuh masih tegak dan otot muka masih kencang. Kita harus berani untuk mulai menghasilkan sedikit, daripada tidak menghasilkan sama sekali. Kita harus berani berjuang bermandi keringat, daripada meneteskan air mata penyesalan. Karena sejujurnya tidak perlu peramal untuk melihat masa depan kita. Lihat lah dari apa yang kita lakukan sekarang.
Sebatang pohon mungkin tidak bisa memilih akan tumbuh ditanah yang seperti apa. Namun kita dengan ternyata punya pilihan. Kita siapkan dasar yang kuat dengan dipupuk pengalaman dan pengetahuan. Kita jaga baik-baik pertumbuhan dengan kerja keras. Tentu suatu hari, kita tidak akan heran kalau yang kita tanam bertumbuh subur, lebat dan berbuah pada musimnya. Dan tidak seperti pohon yang tidak bisa memilih. Kita bisa memilih untuk menanam berbagai jenis, sehingga setiap musim kita mendapatkan hasil yang berbeda-beda.
Hidup kita ini dinamis. Jangan sampai kita terpaku pada suatu kenyamanan. Lupa kalau musim akan berlalu dan kita harus menanti kapan baru bisa kembali berbuah. Hidup ini juga pilihan. Tentunya hidup ini juga kesempatan. Bagaimana kita mengelola hidup ini agar tidak kecewa saat harus tutup buku dan mengembalikan kepemilikan atas aset jiwa ini pada Sang Empunya.
Selamat jalan bapak guru kami, Vitalis A. Daga, S. Pd. Semoga Bapak tersenyum melihat kami buah pendidikan mu dari sisiNya. Tuhan memberkati keluarga yang ditinggalkan.
Selong, 6 Februari 2015
-dap-
Senin, 19 Januari 2015
Surat Cinta: Bagi Sahabat Ku yang Berjuang Menunggu Hasil Yudisium
- Surat keputusan kelulusan adalah hasil dan hasil itu adalah ujung dari sebuah proses. Tidak dapat berubah, namun tidak permanen. Apa pun hasilnya, Anda punya kesempatan untuk merubahnya. Bisa diubah makin baik, atau bisa dihancurkan dengan kecewa berkepanjangan atau bahkan congkak berlebihan.
- Hidup itu kadang bisa naik, kadang bisa turun. Tapi yang penting, kita harus selalu berjalan maju, jangan sampai terjebak nostalgia. Saya kutip dari BBM teman saya, "Karena terlalu banyak orang mengharapkan masa lalu sampai lupa dia punya masa depan..."
- Bagaimana reaksi Anda terhadapt suatu kejadian menunjukkan kedewasaan diri.
- Semoga Anda semua sukses melewati Yudisium 1/2015, wish y'all the best!
Kamis, 15 Januari 2015
Cuma Sebuah Surat Cinta (Ceceran 1)
Dia yang ku lihat dari jauh
Dia yang ku kagumi tanpa perlu basa-basi
Dia yang walaupun ada versi berbeda, tidak kutemukan imitasi yang menyerupai asli
Dia 'Donat'
Yang biar beredar inovasi bentuk kotak, segitiga
Bahkan ada primadona blesteran yang lebih elok bernama Cronut
Tapi untuk ku, yang sah dihati, tetap diri mu
'Donat' yang bulat, dengan bolongan ditengahnya
Memang kamu tidak sempurna
Tidak selalu terlihat bulat purnama
Seringkali hanya tampil sederhana
Bukan mewah berwarna kuning keemasan
Tak ku pungkiri, kau memberi sejuta rasa
Manis yang terbalur dengan krim coklat
Kadang tampil diam bersahaja dengan balutan gula bubuk
Sering juga ku rasa kau bersemangat, meradang merah dengan abon spicy
Ku suka diri mu apa adanya
Sekarang kita jauh terpisah
Makin lebar palung yang harus dilewati
Samudera luas yang cuma bisa diraih lewat mimpi
Percayalah, aku tetap mencintai mu
Walau aku yakin kau tidak memikirkan ku di sana
Ku titip salam rindu, dengan sebait tulisan ini
Dari ku, yang masih menyayangi mu
Selong, 15 Januari 2015
Untuk 'Donat' satu-satunya,
-dap-
