Tidak tepat setahun lalu saya menemukan diri ini terjebak antara rasa ingin maju dan mundur. Perasaan digantung antara separuh kaki menahan gelombang laut dan separuhnya di atas kuburan menganga. Bila orang mengatakan rasanya seperti ada kupu-kupu yang terbang di dalam perut, mungkin momen saat itu masih berupa ulat bulu yang menggeliat-geliat di dalam perut. Geli dan memicu reaksi alergi.
Seperti biasa, setiap menghadapi situasi genting, saya hanya punya dua jenis mekanisme bertahan, melucu (membuat lelucon tentang diri sendiri atau jahatnya membuat orang lain sebagai lelucon) atau pasrah. Dan momen itu saya memilih untuk melucu. Dari membuat sambutan pada kolega peserta yudisium yang lain, menuliskan quote "Keberhasilan seseorang adalah keberhasilan bagi sesamanya" (yang ternyata saat saya perhatikan memang memancing reaksi tertawa komedi untuk banyak orang), sampai saya coba menghafalkan langkah-langkah resusitasi jantung paru (CPR) bilamana dibutuhkan. Untuk jaga-jaga saja, karena yudisium hari itu sebenarnya sempat di tunda, lalu jantung kami seakan diuji untuk berdebar-debar tidak keruan, saya pikir mungkin bisa saja hari itu ada yang aritmia dan kolaps (irama jantung ngaco alias sinus dangdut dan menyebabkan lemas serta gedubrak pingsan).
Saya teringat nasihat guru-guru yang logis namun magis, 'situasi kelulusan itu kan predictable, percuma deg-degan sekarang, harusnya panik dan deg-degan dulu saat mau ujian (atau saat menjalani masa pendidikan) sehingga berusaha lebih, pengumuman kelulusan kan cuma hasil akhir yang tidak dapat diubah'. Kira-kira begitu pesan mereka. Logis memang disatu sisi, namun kalau di buat penelitian secara statistik, mungkin hanya kurang dari 10% manusia yang bisa menghadapi pengumuman kelulusan tanpa membuat 'gula terasa asin dan garam terasa hambar'. Sepertinya, hanya kekuatan magis yang bisa membuat pengumuman kelulusan bernuansa jalan dihamparan bunga, lalu kita bisa rileks tiduran diatas padang rumput hijau sambil bernyanyi.
Saat itu saya hanya manusia biasa dan masih merasa (supaya ada ruang kalau ada yang mempunyai pendapat berbeda) sebagai manusia biasa sampai saat ini. Tentu gejolak yang terjadi saat itu memancing mekanisme pertahanan mental saya bekerja. Berusaha menyeimbangkan semburan hormon stress dengan hormon kesenangan. Supaya sang empunya tubuh tidak kejang-kejang saat membuka amplop hasil evaluasi pendidikan. Untuk kesekian kalinya dalam hidup, saya... Cemas!
Untungnya Tuhan masih berbaik hati mengijinkan runtutan kejadian yang mentransformasi perasaan cemas (yang diwujudkan dengan melucu konyol), sampai menjadi ujung dari teori Ross Kubler, acceptance (pasrah). Saat itu saya ingat betul pengumuman mundur dari jadwal, kami menunggu dengan cemas diruangan yang hampir semua orangnya hiperventilasi (maruk berebutan oksigen karena tegang), lalu saat datanglah si pembawa hasil dari gunung Olimpus tempat dewa-dewa berjas putih (dibaca: konsulen) menggelar musyawarah. Saat itulah, saya... Kebelet pipis.
Ada berkahnya juga saat itu kebelet untuk buang air. Selayaknya orang kebelet pada umumnya, saya jadi tidak konsentrasi bercemas-cemas ria, seketika berubah pasrah. Pasrah pada hasil dalam amplop, yang penting saya tidak keburu ngompol diruangan. He he.
Momen pembagian amplop berjalan sangat lambat, bagai mengigit permen karet alot yang sudah hambar. Satu per satu peserta maju. Mulai ada teriakan bahagia, suara isak tangis kecil, beragam reaksi atas hasil dari amplop masing-masing. Ruangan berangsur gaduh dan peserta lain menjadi gelisah, untung tidak ada yang kumat gaduh-gelisahnya atau mengamuk. Akhirnya saya mendapatkan kehormatan untuk dipanggil oleh yang maha berkuasa membagikan amplop tentunya. Setelah saya raih amplop, kalimat pertama yang saya ucapkan, tentu terima kasih. Tapi kalimat kedua yang saya ucapkan, "Dok, maaf, saya boleh ijin ke WC?" Sontak konsulen yang membagikan amplop kaget seraya berujar, "Buka disini aja, gak usah sampe ke WC!" Syukurlah refleks melucu sudah hilang, kalau tidak tentu saya akan bilang, "Apanya? Celananya? Saya kebelet pipis..." Ha ha ha. Akhirnya saya menjelaskan tentang kondisi darurat dua dengan ancaman mengompol karena menahan buang ari sedari tadi dan konsulen tersebut mengerti.
Sekembali menjawab panggilan alam, saya duduk, menghela napas dengan tanda lega, lalu membuka amplop itu. Hasilnya? Biar jadi rahasia kecil antara kita. Tapi yang jelas saya menghela napas lega untuk kedua kalinya setelah membaca hasil yudisium hari itu.
Siang ini saya baru sadar bahwa teman-teman di Fakultas sedang menunggu pengumuman Yudisium 1/2015. Semoga kisah diatas bisa menemani Anda semua. Sekadar melepas khawatir dan ketakutan dengan senyum gemes. Kesimpulannya:
- Surat keputusan kelulusan adalah hasil dan hasil itu adalah ujung dari sebuah proses. Tidak dapat berubah, namun tidak permanen. Apa pun hasilnya, Anda punya kesempatan untuk merubahnya. Bisa diubah makin baik, atau bisa dihancurkan dengan kecewa berkepanjangan atau bahkan congkak berlebihan.
- Hidup itu kadang bisa naik, kadang bisa turun. Tapi yang penting, kita harus selalu berjalan maju, jangan sampai terjebak nostalgia. Saya kutip dari BBM teman saya, "Karena terlalu banyak orang mengharapkan masa lalu sampai lupa dia punya masa depan..."
- Bagaimana reaksi Anda terhadapt suatu kejadian menunjukkan kedewasaan diri.
- Semoga Anda semua sukses melewati Yudisium 1/2015, wish y'all the best!
Selong, 19 Januari 2015
-dap-
Setuju banget sama pernyataan bahwa suatu hasil tdk bisa diubah tp juga tdk permanen.. Mungkin ini indahnya masa studi, kita masih diberi kesempatan kedua.. Di dunia kerja dan hidup sehari2 tentunya akan berbeda.. Hal mana harus kita sikapi dgn bijak saat memutuskan sesuatu
BalasHapus