Sudah cukup lama aku berjauhan dengan blog kesayangan ku. Nampaknya akhir-akhir ini aku sibuk mengurus perut, atau lebih tepatnya lidah. Perut mah selalu cepat puas, yang penting diisi dan kenyang. Lidah yang selalu resek. Seorang sahabat dulu menggunakan istilah "memuaskan lidah". Kalau makanan yang kami santap tidak memuaskan lidah, dia selalu punya alasan untuk mencari menu lain lagi walaupun setelah kenyang. Nampaknya membahagiakan lidah tidak sesederhana membahagiakan perut ya.
Orang bilang bahagia itu mudah. Bohong! Itu cuma sebuah kalimat penghiburan. Bahagia itu tidak pernah mudah. Apalagi seiring bertambahnya usia. Mau bukti? Coba nonton film dibioskop yang isinya semua bocah-bocah kelas TK-SD dengan film animasi Megamind. Saya pernah mengalaminya beberapa tahun lalu. Ketika itu mahluk yang memadati studio sebagian besar adalah bocah-bocah mungil yang belum muncul adegan lucu saja mereka sudah tertawa. Mereka tertawa untuk tokoh berwarna biru, mereka tertawa untuk ikan di akuariumnya, mereka tertawa untuk apa pun. Sampai saya sulit membedakan, apakah benar adegannya lucu. Intinya selama film berlangsung saya jadi bertanya-tanya pada diri sendiri. Memang ternyata secara alami, beranjak dewasa artinya sesuatu yang bisa membuat kita tertawa semakin berkurang. Rasio. Si penjahat yang menyingkirkan hasrat tersenyum. Kita jadi lebih banyak berpikir daripada menikmati spontanitas. Semakin kita bertumbuh besar, logika lah yang mulai mengerogoti kebahagiaan kita. Harus kah ada alasan untuk bahagia?
Hari ini setelah sibuk seharian dalam mengejar kepuasan lidah, ketika kembali ke kamar saya menemukan sebuah paket yang terbujur kaku, diam dan tak bernyawa. Tampak alis mata ini merapat tanda kebingungan. Coba didekati, didengar dengan seksama. Sepertinya tidak berbahaya. Akhirnya saya bawa ke kamar untuk diotopsi. Pelahan saya lucuti 'pakaian' yang menyelimutinya. Menggunting pasti diantara lipatan untuk memastikan barang bukti tetap utuh. Lapis demi lapis disibak. Voila! Ternyata dilapisan pertama dari isi kardus tampak sebuah surat yang membuat saya sumringah.
Spontan saja bila saya kemudian berpikir bahwa bahagia itu tidak mudah, tapi Tuhan selalu mengirimkan bagi kita sumber kebahagiaan, tinggal bagaiman kita meyadari, menerima dan mensyukurinya. Karena memang bahagia tidak mudah, tapi buat saya, selalu ada alasan untuk bahagia dan selalu ada mereka yang mengisi penuh 'cawan kebahagiaan'. Thank you dear Nagisa, Ivon, Steffi, Sylvani, Ditta and Olin, for reminding me what happiness is about. My happiness is all of you. Tunggu pembalasan ku! Ha ha. What A Happy (mbak Hepi) Day (Kang Dai)!
Selong, 12 Februari 2015
With Love,
-dap-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar