![]() |
| Poster film Pendekat Tongkat Emas |
Kali ini yang akan saya bagikan adalah tentang pendekar yang saya temui di sini. Ya, di Selong, sebuah kota di Kabupaten Lombok Timur. Tempat di mana saya bertugas dan berpetualang layaknya si bolang (bocah ilang). Selayaknya manusia yang punya makanan tidak umum (dibaca: tidak makan daging) seperti saya, terkadang mencari makanan itu menjadi pekerjaan yang susah gampang-gampang (lebih banyak gampangnya daripada susahnya). Karena untuk orang dengan pilihan menu terbatas, maka dia harus lebih cincai (dibaca: pasrah) dalam pemilihan makanan. Apa yang bisa di makan, selama layak dan halal, tentu tidak menjadi soal. Walaupun terkadang rasanya seperti menjulurkan lidah dan membiarkan garam menari-nari, menggelitik perasa asin, sehingga air mata bercucuran dan otak memerintahkan gerakan refleks mencari segelas air. Atau kadang saya temukan makanan yang rasanya luar biasa beragam (dibaca: gak karuan) karena juru masaknya bingung meracik bumbu yang bisa saya makan.
Tapi di sekitar tempat tinggal saya di sini, untungnya ada sebuah kedai makan yang bisa menyajikan santapan yang rasanya luar biasa menggugah. Rasa dan harga yang pantas yang membuat saya hampir setiap hari datang untuk menyantap menu yang sama. Menu paling sulit dibuat di dunia ini. Bahkan Anda akan kaget betapa tidak keruan rasanya bila menu ini disajikan di hotel bintang 5 (tulisan Rhenald Kasali di Kompas). Ya, dia lah nasi goreng. Sebuah masakan yang mungkin merupakan jajaran resep awal yang kita pelajari ketika belajar memasak, selain memasak air dan merebus mie instan tentunya.
Nasi goreng ini begitu spesialnya buat saya. Sebuah pagelaran rasa di dalam mulut layaknya iringan rasa asin yang bersaut-sautan dengan duet manis dan pedas, ditambah dengan gurihnya telur dadar dengan pinggiran garing yang begitu memukau. Semua memberikan penampilan yang mengundang standing ovation saat mengunyahnya. Tentu saya tidak benar berdiri dan bertepuk tangan saat makan, nanti disangka saya pasien lepas dari rumah sakit jiwa terdekat. Tapi gambaran betapa saya menikmatinya, kalau ada absensi makan nasi goreng disana, bisa jadi saya akan mendapatkan souvenir berupa piring cantik sebagai penyantap dengan frekuensi tersering. He he.
Lalu apa urusannya nasi goreng dengan pendekar? Pemilik dari kedai makan ini adalah sepasang suami-istri yang unyu. Si bapak adalah executive chef yang meracik seluruh masakan sehari-hari, sedangkan istrinya berperan sebagai bartender meracik minuman serta es campur, merangkap juga sebagai kurir yang mengantar makanan pesanan pelanggan. Memang dunia dapur sudah bukan monopoli dari kaum hawa. Sekarang malah banyak pekerjaan yang erat dikaitkan dengan kaum hawa sudah mulai dirasuki oleh laki-laki, begitu pula sebaliknya seperti teman saya sesama bocah internsip, seorang perempuan yang mampu mengganti ban mobil seorang diri (belum tentu semua laki-laki bisa lho!). Jadi sehari-harinya tentu saya menikmati nasi goreng istimewa dari sang suami yang dengan sigap meracik, mengoseng, menata dan menyajikan sebuah nasi goreng dengan telor dadar setiap hari untuk saya.
Jadi di bapak itulah pendekar kuali emas? Eits tunggu dulu. Layaknya film Pendekar Tongkat Emas, pendekar disini bukan seorang laki-laki. Kita kesampingkan dulu si bapak. Bagaimana saya bisa menemukan sang pendekar, itu juga secara tidak sengaja. Pada suatu hari Jumat, seperti kebanyakan umat muslim, tentu laki-laki wajib melaksanakan Sholat Jumat di masjid secara berjamaah. Nah beruntungnya saya datang Jumat itu tepat disaat hanya ada si istri di kedai. Saya tadinya mengira, wah apa makanannya baru akan jadi sepulang executive chef sholat yah? Yang tidak saya sangka, si ibu dengan sigap sibuk mondar-mandir di menngarungi dapur dan etalase sayurannya. Tiba-tiba dalam waktu singkat, datang lah nasi goreng dengan bentuk yang sama persis dengan yang bias asaya makan sehari-hari.
![]() |
| Tampilan nasi goreng buatan pendekar kuali emas, setelah saya bedah supaya terlihat kesederhanaan ingredientnya |
Kejadian kemarin membuka mata hati saya, bahwa memang kita tidak bisa mempercayai apa yang kita lihat sehari-hari. Tadinya saya pikir kenapa bukan si ibu yang memasak? Apa mungkin masakan si bapak lebih lezat? Dan ternyata mungkin jawabannya sama seperti film laga silat kebanyakan, bahwa sang jagoan tidak selalu muncul menghiasi layar, bahwa jagoan paling jago itu bisa saja muncul disaat genting dan bahwa Anda tidak akan pernah bisa menebak siapa sebenarnya yang paling jago, even dalam kehidupan nyata. Mungkin Kepala Perawat IGD yang terlihat bicara tergagap-gagap dan terkesan tidak jelas, ternyata orang yang bisa memasang infusan lebih jago daripada perawat yang lainnya. Mungkin dokter yang Anda pikir pintar, ternyata hanya kebetulan menguasai bidang tertentu, dan malah dokter yang diam saja bisa jadi memiliki segudang 'ilmu magis' dalam menyembuhkan pasien (sepsis dengan prognosis malam -buruk- tiba-tiba sembuh, bayi muda yang tidak kunjung stabil di inkubator berbulan-bulan yang sejak dirawat olehnya bisa pindah ke box bayi dan akhirnya pulang dengan sehat dalam seminggu, dan banyak kisah lainnya.)
Ingatlah bahwa siapa saja bisa belajar dan berilmu tinggi, namun seorang yang memberikan kejuta itu lah yang bisa dianggap pendekar. Seorang yang diam-diam mengambil alih semua kesulitan dan memutarnya menjadi kesempatan. Seorang yang bersahaja, tidak pamer, tapi secara misterius memiliki kemampuan luar biasa.
Apakah Anda mau menjadi sekadar jagoan atau biar keteguhan moral serta sifat rendah hati Anda yang akan menjadikan Anda pendekar? Sebuah kutipan unik dari guru saya, "Saya sih, terseraaah kamuuu yah, kan kamu bosnya..." - dr. PP, Sp.An, Dosen anastesi yang nyebelin sekaligus menginspirasi.
Selong, 17 Januari 2015
-dap-


Tidak ada komentar:
Posting Komentar