Tampilkan postingan dengan label Late Post. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Late Post. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Februari 2015

Berbuah Pada Musimnya

"Kiri kanan, ku lihat saja, banyak buah rambutan.. aan..
 Kiri kanan, kulihat saja, banyak buah rambutan."

Begitulah sepotong lagu dagelan yang diambil dari lagu anak-anak populer. Tapi begitulah faktanya kalau Anda saat ini berjalan-jalan di Lombok, khususnya Lombok Timur. Hampir disetiap sudut penjual buah, Anda bisa menemukan buah rambutan disusun bertumpuk rapi dan membuat ngiler pecinta buah ini; sekaligus merinding bagi yang geli dengan bulu-bulu yang berjajar rapi meliputi seluruh kulitnya, "Iiih geli deh. Kalo dikupasin mau deh. He he he" Selain rambutan, belakangan muncul juga buah yang peribahasanya membawa rejeki, tapi kalau terjadi betulan bisa jadi bencana. Ya, 'tertimpa durian runtuh'. Buah durian yang khas dengan tamengnya serta bau wangi (atau amis bagi sebagian orang) yang menyengat, memancing air liur (atau rasa mual bagi sebagian orang).

Teringat beberapa bulan yang lalu, setiap kali saya bangun tidur dan menyibak gorden kamar, terlihatlah buah seperti cendol berukuran raksasa, berwarna hijau dengan bau wangi sedikit masam. Musim mangga sudah berlalu. Baru saja pagi ini saya berjalan menelusuri balkon kamar kost dan tersadar bahwa 'cendol-cendol' yang menggantung indah dan memanggil-manggil untuk menyantapnya sudah bubar jalan. Tanpa aba-aba siap grak dan hormat kepada pembina sebelumnya. Itulah musim buah yang datang dan pergi tanpa kita sadari. Semua berjalan alami. Yang datang menggantikan ia yang pergi.

Kemarin malam, saya mendapatkan sebuah kabar duka. Seorang guru SMA saya berpulang ke sisi Tuhan YME. Masih jelas tergambar dalam memori ini bagaimana dulu ia masih berjalan dengan gagah dan sambil bercanda-canda dengan murid-muridnya. Sekejap mata, saya menyelesaikan rangkaian pendidikan dan beliau sudah tiada. Manusia lahir, bertumbuh dan berkarya, lalu harus mebubuhkan tanda titik diakhir kisah hidupnya.

Fenomena ini berjalan dengan alamiah. Selalu begitu tanpa kita intervensi. Akan tetap begitu walaupun kita berjuang untuk mencegahnya. Walaupun dengan teknologi kita bisa menyantap mangga atau rambutan atau durian setiap saat sepanjang tahun, namun tentu kita tidak bisa memaksa semua pohon memberikan hasil maksimal. Tidak bisa memaksa ia berbuah sepanjang hayat. Begitu juga dengan hidup kita. Ada saatnya kita meniti karir, maju dengan pasti, sampai suatu saat kita akan berhenti. Berhenti ditengah usia dan menikmati yang namanya pensiun atau bahkan kita tutup karya kita seiring dengan mata ini menutup selamanya. Tidak ada yang bisa memastikan, tapi kita bisa mengusahakan.

Dari dulu selalu dikatakan oleh nyokap saya, bedanya takdir dengan nasib adalah takdir pemegang saham mayoritasnya adalah 'alam' (diberi istilah Tuhan untuk yang percaya), namun nasib itu kita pemegang mayoritas keputusan. Kita bisa menjual seluruh hidup kita untuk bersantai, menghabiskan masa muda dan melewatkan musim panen. Disisi lain, kita bisa bersantai menikmati musim panen setelah bekerja keras disaat tubuh masih tegak dan otot muka masih kencang. Kita harus berani untuk mulai menghasilkan sedikit, daripada tidak menghasilkan sama sekali. Kita harus berani berjuang bermandi keringat, daripada meneteskan air mata penyesalan. Karena sejujurnya tidak perlu peramal untuk melihat masa depan kita. Lihat lah dari apa yang kita lakukan sekarang.

Sebatang pohon mungkin tidak bisa memilih akan tumbuh ditanah yang seperti apa. Namun kita dengan ternyata punya pilihan. Kita siapkan dasar yang kuat dengan dipupuk pengalaman dan pengetahuan. Kita jaga baik-baik pertumbuhan dengan kerja keras. Tentu suatu hari, kita tidak akan heran kalau yang kita tanam bertumbuh subur, lebat dan berbuah pada musimnya. Dan tidak seperti pohon yang tidak bisa memilih. Kita bisa memilih untuk menanam berbagai jenis, sehingga setiap musim kita mendapatkan hasil yang berbeda-beda.

Hidup kita ini dinamis. Jangan sampai kita terpaku pada suatu kenyamanan. Lupa kalau musim akan berlalu dan kita harus menanti kapan baru bisa kembali berbuah. Hidup ini juga pilihan. Tentunya hidup ini juga kesempatan. Bagaimana kita mengelola hidup ini agar tidak kecewa saat harus tutup buku dan mengembalikan kepemilikan atas aset jiwa ini pada Sang Empunya.

Selamat jalan bapak guru kami, Vitalis A. Daga, S. Pd. Semoga Bapak tersenyum melihat kami buah pendidikan mu dari sisiNya. Tuhan memberkati keluarga yang ditinggalkan.

Selong, 6 Februari 2015

-dap-

Jumat, 30 Januari 2015

Drama Raissa di IGD

Pagi ini ada kasus unik yang cukup lengket di benak saya. Sembari berjalan kaki pulang, cukup waktu untuk memikirkan bagaimana menceritakannya dan semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua. Untuk merayakan kembali menyalanya laptop kesayangan, saya akan coba share dengan sentuhan berbeda.

Perempuan usia sekitar 20 tahun-an, dibawa ke IGD sebuah rumah sakit dengan luka menganga di lengan bawah kanannya. Sebuah luka berbentuk seperti lilitan dengan tepian rapi, dengan dasar otot. Pergerakan tangan pasien masih baik. Nadi kuat serta tidak ada tanda gangguan dari persarafan seperti kesemutan. Pasien ditangani. Tiba-tiba datang seorang pria berbadan tegap, berpakaian olahraga dengan tulisan 'Polres' dipunggungnya. Ternyata kisah tragis ini bisa disusun kembali dengan bantuan Raissa.

Seorang laki-laki yang merupakan mantan suami dari perempuan itu mengalami 'sindroma terjebak nostalgia'. Dia mendatangi mantan istrinya untuk mengajak rujuk. "Aku takkan pernah bisa. Ku takkan pernah merasa, rasakan cinta yang kau beri.." Rasanya semua yang dirasa si suami tak berubah sejak istrinya pergi meninggalkannya. Walaupun demikian, si istri berusaha meminta maaf karena ia ingin sendiri disini.

Buat si perempuan, mantan suaminya itu bukanlah mantan terindah. Ia heran mengapa waktu itu suaminya tega memutuskan cintanya. Namun sekarang berusaha untuk kembali mengulang kisah cinta. Mau dikata apalagi, si istri merasa mereka tidak akan pernah satu. Ia sudah coba katakan kalau sang suami berubah. Meskipun bagi sang suami, yang telah dibuat mantan istrinya sungguhlah indah, buat dirinya susah lupa.

Segala bujuk rayu coba dikeluarkan oleh sang suami. "Ya aku mengerti, betapa sulit untuk kembali.. Dan mempercayai penipu ini sekali lagi." Namun si istri tetap pada keputusannya. "Kenapa baru kamu sadari setelah berlayar pergi? Akulah pemeran utama hati dan pemicu detak jantung mu.." Begitu balas si istri. Sang istri terpaksa mencabik hati dan membuat mantan suaminya terluka dan sakit.

Dengan isak tangis, si istri coba menjelaskan. Dirinya telah lama bertahan, demi cinta wujudkan sebuah harapan. Namun kini, semua rasa telah hilang. Dahulu sang suami adalah segalanya, namun sekarang ia mengerti. Apalah artinya menunggu?

Sang suami pun marah, lalu berusaha membacok sang istri. Dalam sekejap mata, harus diakui semua telah berbeda. Semua serba salah. Sang suami ditahan oleh kepolisian, namun dalam hatinya ia bertanya-tanya, "Apalagi salah ku? Apa lagi salah mu? Ku tak ingin kau terluka karena cinta.." Namun si istri merasa cukup. Ia sudah lelah menjalani semua hubungan yang serba salah. Sudah lupakan saja segala cerita antara kita.

Begitulah akhir dari kisah sedih ini. Sebuah pelajaran berharga tentang mencintai dan kehilangan. Hargailah yang masih ada, karena sekali ia pergi, belum tentu akan kembali.

Selong, 30 Januari 2015

-dap-

Senin, 26 Januari 2015

Tampak Gagah?

"Tapi buka dulu topengmu
Buka dulu topengmu
Biar ku lihat warnamu
Kan kulihat warnamu"

Topeng, Peterpan (Noah)


Siapa yang tidak mau tampil baik? Hampir semua orang pasti ingin tampil baik. Terutama jaman sekarang. Bisa dibilang penampilan adalah salah satu faktor yang menentukan penilaian orang pada diri kita. Pernah ada cerita seorang dokter spesialis kandungan yang disuruh memindahkan tabung oksigen ketika pertama kali datang ke ruang operasi sebuah rumah sakit, karena dipikir staf disana beliau adalah cleaning service ruangan. Begitu pentingnya arti penampilan dalam memberikan impresi pada ingatan orang, tidak heran jaman sekarang banyak klinik estetika bermunculan (dan banyak yang laku keras), pusat kebugaran menjamur di mana-mana (yang kebanyakan membernya datang bukan bertujuan untuk sekadar bugar, tapi ingin membentuk tubuh terlihat menarik).

Teringat kemarin ketika sedang menunaikan tugas berjaga di IGD, tiba-tiba datang lah serombongan orang. Tampak seorang pria dengan gaya rambut trendi, mengenakan anting hitam seperti yang dikenakan oleh seorang ilusionis terkenal Indonesia, memakai celana jeans berhiaskan rantai, intinya dia ingin memberikan kesan "anak gaul". Tapi pagi itu, alih-alih tampil gagah, nampaknya ia bisa dibilang tampil gagal (failed). Dia datang dengan dipeluk seorang lelaki (mungkin saudaranya) dan 'kerennya' dia menangis tersedu-sedu, meraung-raung di IGD.

"What the...?" umpat saya dalam hati.

Usut punya selidik, tentu dia tidak langsung saya jadikan tersangka setelah penyelidikan yang singkat (saya profesional dan menolak kriminalisasi), ternyata dia menangis karena merasakan ada binatang yang masuk dalam telinganya.

"Sakit dokter.. Cepetan tolongin.. Cepeeettt.." rengeknya dipelukan laki-laki yang saya masih tidak tahu sampai sekarang apa hubungan mereka.

Investigasi pun dilakukan sesuai protokol (kebiasaan) yang berlaku. Perawat yang sudah biasa menangani kasus benda asing di dalam liang telinga pun beraksi dengan senter layaknya seorang detektif mencari clue. Dilihat, diterawang, tanpa coba diraba-raba, saya dapat membaca atau tepatnya menghidu (kalau mencium pakai bibir, begitu kata dosen ilmu fisiologi saya di fakultas dulu) something fishy di sana.

"Dapet mas?" Tanya saya seraya maju mendekati kerumunan.

Lucunya orang yang berpenampilan seperti itu, yang kalau saya sedang jalan sendiri tiba-tiba dihadang dan diminta dompetnya saya akan percaya itu memang profesinya. Datang ke IGD di Minggu pagi yang ceria, dengan merengek sekaligus histeris, ditemani oleh ayah, ibu, adik, paman, bibi, dan keluarga besarnya, hanya untuk keluhan 'serangga masuk telinga'.

Setelah berhasil menerobos kerumunan 'penonton' yang notabene adalah keluarga yang harusnya bisa disuruh menunggu di luar ruang pemeriksaan itu, saya pun mengambil toples dan mengocok arisan di IGD, hmm, tentu bukan itu yang terjadi. Intinya dengan segala pengetahuan yang pernah diajarkan di stase THT tentang memeriksa telinga luar, saya coba mencari sumber kesakitan yang sangat itu.

"Tadi sebelum ke sini sempet dikorek-korek yah mas?" tanya saya seraya masih menganalisis liang telinganya.

Keluarga pun bercerita panjang tentang bagaimana usaha telah dilakukan untuk mengeluarkan benda itu di telinga. Yang ternyata bagi saya jelas malah melukai liang telinganya.

"Masih berasa ada yang bergerak-gerak?" Pasien itu pun menangguk perlahan. "Yah saya kasih obat dulu biar binatangnya mati yah, baru nanti kita coba keluarkan."

Saya berjalan menjauh, menginstruksikan terapi pada rekan kerja di IGD, lalu meninggalkan pria itu untuk melengkapi status rekam medik perawatannya. Sangat jelas ditelinga ini setelah saya selesai memberikan instruksi, pria itu kembali menangis dan meraung-raung. "Dokter cepetan.. Sakit banget.. Dokterrr.. Tolongin dong.."

Sempat tidak habis pikir bagaiman kalau pasien itu datang untuk melahirkan. Mungkin dia sudah ngamuk dan mencekik dokternya saat kontraksi rahim datang bertubi-tubi menuju kelahiran bayi.

Kita sering terjebak dengan penampilan seseorang. Cinta boleh saja datang pada pandangan pertama, tapi tentu hanya boleh berlanjut dengan gerilya pikiran dan perasaan untuk menentukan apakah orang tersebut memang seperti yang diperlihatkan penampilannya. Ingatlah bahwa deskripsi tentang penampilan di kamus bahasa Indonesia, sejauh saya periksa dalam proses pengetikan tulisan ini, semuanya masih dikategorikan sebagai ajektiva (kata sifat). Oleh karena itu yang penting dalam penampilan bukan bagaimana melakukan tipu daya mata sehingga tampak menarik, namun bagaiman bersifat (dan bersikap) benar-benar menarik. Jangan sampai alih-alih mau tampil gagah, malah jadinya gagap, kan benar-benar jadi gagal nantinya.


Selong, 26 januari 2015
Dari penulis yang masih mencoba tampil apa adanya,

-dap-

Senin, 05 Januari 2015

Kisah Hanyutnya Si Bolang




















Kisah ini based on true story dengan sedikit bumbu ala chef Dicky sehingga jadi fiksi. Sebuah karya yang mencoba merangkai ingatan horor saya saat kemarin hampir hanyut, saat snorkling di Gili Trawangan/Gili Air, dan hilang dari peredaran. I kinda think this as self medication. Supaya saya gak sampe kena post traumatic stress. Dan melalui kisah ini saya coba mengagumi bahwa God still loves me despite what have I done lately (either I did something bad, or I've done nothing for God).

Diposting dengan rasa terima kasih pada mas-mas yang nolongin saya kemarin, sori kita tidak sempat berkenalan lebih jauh bahkan sekadar nama, dan terima kasih sudah diajak naik private boat :)