Jumat, 30 Januari 2015

Drama Raissa di IGD

Pagi ini ada kasus unik yang cukup lengket di benak saya. Sembari berjalan kaki pulang, cukup waktu untuk memikirkan bagaimana menceritakannya dan semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua. Untuk merayakan kembali menyalanya laptop kesayangan, saya akan coba share dengan sentuhan berbeda.

Perempuan usia sekitar 20 tahun-an, dibawa ke IGD sebuah rumah sakit dengan luka menganga di lengan bawah kanannya. Sebuah luka berbentuk seperti lilitan dengan tepian rapi, dengan dasar otot. Pergerakan tangan pasien masih baik. Nadi kuat serta tidak ada tanda gangguan dari persarafan seperti kesemutan. Pasien ditangani. Tiba-tiba datang seorang pria berbadan tegap, berpakaian olahraga dengan tulisan 'Polres' dipunggungnya. Ternyata kisah tragis ini bisa disusun kembali dengan bantuan Raissa.

Seorang laki-laki yang merupakan mantan suami dari perempuan itu mengalami 'sindroma terjebak nostalgia'. Dia mendatangi mantan istrinya untuk mengajak rujuk. "Aku takkan pernah bisa. Ku takkan pernah merasa, rasakan cinta yang kau beri.." Rasanya semua yang dirasa si suami tak berubah sejak istrinya pergi meninggalkannya. Walaupun demikian, si istri berusaha meminta maaf karena ia ingin sendiri disini.

Buat si perempuan, mantan suaminya itu bukanlah mantan terindah. Ia heran mengapa waktu itu suaminya tega memutuskan cintanya. Namun sekarang berusaha untuk kembali mengulang kisah cinta. Mau dikata apalagi, si istri merasa mereka tidak akan pernah satu. Ia sudah coba katakan kalau sang suami berubah. Meskipun bagi sang suami, yang telah dibuat mantan istrinya sungguhlah indah, buat dirinya susah lupa.

Segala bujuk rayu coba dikeluarkan oleh sang suami. "Ya aku mengerti, betapa sulit untuk kembali.. Dan mempercayai penipu ini sekali lagi." Namun si istri tetap pada keputusannya. "Kenapa baru kamu sadari setelah berlayar pergi? Akulah pemeran utama hati dan pemicu detak jantung mu.." Begitu balas si istri. Sang istri terpaksa mencabik hati dan membuat mantan suaminya terluka dan sakit.

Dengan isak tangis, si istri coba menjelaskan. Dirinya telah lama bertahan, demi cinta wujudkan sebuah harapan. Namun kini, semua rasa telah hilang. Dahulu sang suami adalah segalanya, namun sekarang ia mengerti. Apalah artinya menunggu?

Sang suami pun marah, lalu berusaha membacok sang istri. Dalam sekejap mata, harus diakui semua telah berbeda. Semua serba salah. Sang suami ditahan oleh kepolisian, namun dalam hatinya ia bertanya-tanya, "Apalagi salah ku? Apa lagi salah mu? Ku tak ingin kau terluka karena cinta.." Namun si istri merasa cukup. Ia sudah lelah menjalani semua hubungan yang serba salah. Sudah lupakan saja segala cerita antara kita.

Begitulah akhir dari kisah sedih ini. Sebuah pelajaran berharga tentang mencintai dan kehilangan. Hargailah yang masih ada, karena sekali ia pergi, belum tentu akan kembali.

Selong, 30 Januari 2015

-dap-

Senin, 26 Januari 2015

Tampak Gagah?

"Tapi buka dulu topengmu
Buka dulu topengmu
Biar ku lihat warnamu
Kan kulihat warnamu"

Topeng, Peterpan (Noah)


Siapa yang tidak mau tampil baik? Hampir semua orang pasti ingin tampil baik. Terutama jaman sekarang. Bisa dibilang penampilan adalah salah satu faktor yang menentukan penilaian orang pada diri kita. Pernah ada cerita seorang dokter spesialis kandungan yang disuruh memindahkan tabung oksigen ketika pertama kali datang ke ruang operasi sebuah rumah sakit, karena dipikir staf disana beliau adalah cleaning service ruangan. Begitu pentingnya arti penampilan dalam memberikan impresi pada ingatan orang, tidak heran jaman sekarang banyak klinik estetika bermunculan (dan banyak yang laku keras), pusat kebugaran menjamur di mana-mana (yang kebanyakan membernya datang bukan bertujuan untuk sekadar bugar, tapi ingin membentuk tubuh terlihat menarik).

Teringat kemarin ketika sedang menunaikan tugas berjaga di IGD, tiba-tiba datang lah serombongan orang. Tampak seorang pria dengan gaya rambut trendi, mengenakan anting hitam seperti yang dikenakan oleh seorang ilusionis terkenal Indonesia, memakai celana jeans berhiaskan rantai, intinya dia ingin memberikan kesan "anak gaul". Tapi pagi itu, alih-alih tampil gagah, nampaknya ia bisa dibilang tampil gagal (failed). Dia datang dengan dipeluk seorang lelaki (mungkin saudaranya) dan 'kerennya' dia menangis tersedu-sedu, meraung-raung di IGD.

"What the...?" umpat saya dalam hati.

Usut punya selidik, tentu dia tidak langsung saya jadikan tersangka setelah penyelidikan yang singkat (saya profesional dan menolak kriminalisasi), ternyata dia menangis karena merasakan ada binatang yang masuk dalam telinganya.

"Sakit dokter.. Cepetan tolongin.. Cepeeettt.." rengeknya dipelukan laki-laki yang saya masih tidak tahu sampai sekarang apa hubungan mereka.

Investigasi pun dilakukan sesuai protokol (kebiasaan) yang berlaku. Perawat yang sudah biasa menangani kasus benda asing di dalam liang telinga pun beraksi dengan senter layaknya seorang detektif mencari clue. Dilihat, diterawang, tanpa coba diraba-raba, saya dapat membaca atau tepatnya menghidu (kalau mencium pakai bibir, begitu kata dosen ilmu fisiologi saya di fakultas dulu) something fishy di sana.

"Dapet mas?" Tanya saya seraya maju mendekati kerumunan.

Lucunya orang yang berpenampilan seperti itu, yang kalau saya sedang jalan sendiri tiba-tiba dihadang dan diminta dompetnya saya akan percaya itu memang profesinya. Datang ke IGD di Minggu pagi yang ceria, dengan merengek sekaligus histeris, ditemani oleh ayah, ibu, adik, paman, bibi, dan keluarga besarnya, hanya untuk keluhan 'serangga masuk telinga'.

Setelah berhasil menerobos kerumunan 'penonton' yang notabene adalah keluarga yang harusnya bisa disuruh menunggu di luar ruang pemeriksaan itu, saya pun mengambil toples dan mengocok arisan di IGD, hmm, tentu bukan itu yang terjadi. Intinya dengan segala pengetahuan yang pernah diajarkan di stase THT tentang memeriksa telinga luar, saya coba mencari sumber kesakitan yang sangat itu.

"Tadi sebelum ke sini sempet dikorek-korek yah mas?" tanya saya seraya masih menganalisis liang telinganya.

Keluarga pun bercerita panjang tentang bagaimana usaha telah dilakukan untuk mengeluarkan benda itu di telinga. Yang ternyata bagi saya jelas malah melukai liang telinganya.

"Masih berasa ada yang bergerak-gerak?" Pasien itu pun menangguk perlahan. "Yah saya kasih obat dulu biar binatangnya mati yah, baru nanti kita coba keluarkan."

Saya berjalan menjauh, menginstruksikan terapi pada rekan kerja di IGD, lalu meninggalkan pria itu untuk melengkapi status rekam medik perawatannya. Sangat jelas ditelinga ini setelah saya selesai memberikan instruksi, pria itu kembali menangis dan meraung-raung. "Dokter cepetan.. Sakit banget.. Dokterrr.. Tolongin dong.."

Sempat tidak habis pikir bagaiman kalau pasien itu datang untuk melahirkan. Mungkin dia sudah ngamuk dan mencekik dokternya saat kontraksi rahim datang bertubi-tubi menuju kelahiran bayi.

Kita sering terjebak dengan penampilan seseorang. Cinta boleh saja datang pada pandangan pertama, tapi tentu hanya boleh berlanjut dengan gerilya pikiran dan perasaan untuk menentukan apakah orang tersebut memang seperti yang diperlihatkan penampilannya. Ingatlah bahwa deskripsi tentang penampilan di kamus bahasa Indonesia, sejauh saya periksa dalam proses pengetikan tulisan ini, semuanya masih dikategorikan sebagai ajektiva (kata sifat). Oleh karena itu yang penting dalam penampilan bukan bagaimana melakukan tipu daya mata sehingga tampak menarik, namun bagaiman bersifat (dan bersikap) benar-benar menarik. Jangan sampai alih-alih mau tampil gagah, malah jadinya gagap, kan benar-benar jadi gagal nantinya.


Selong, 26 januari 2015
Dari penulis yang masih mencoba tampil apa adanya,

-dap-

Sabtu, 24 Januari 2015

Curcol Tengah Malam: Bukan Insomnia

Malam kembali datang. Waktunya orang-orang menyelesaikan hari, memejamkan mata dan menikmati wangi bunga tidur. Tapi bagi beberapa orang, malam adalah saatnya bekerja setelah seharian berusaha memajukan jam tidur. Jaga malam. Sebuah keseruan sendiri dalam profesi yang saya sedang gulati (capeknya udah kayak bergulat setiap habis jaga).

Jam tidur saya sudah hancur sedari SMA. Dihancurkan oleh masa sekolah yang kejam. Hingga waktu me time itu cuma bisa dikejar malam hari. Terpaksa suka tidak cinta, terbentuklah kebiasaan buruk begadang, yang dilarang Bang Haji RI. Masalah timbul belakangan ketika tubuh tidak lagi mau kompromi. Setiap hari dia menyetel mode begadang, sampai suatu hari saya pikir ini insomnia, tapi ternyata bukan. Ini cuma jam biologis sedang rusuh. Galau antara ini waktunya tidur atau waktunya begadang. Kondisi hancur minang ini diperberat lagi semenjak memasuki dunia koas. Jaga malam bolak-balik, seringkali tidur tidak tentu dan tidak tentu tidur (kadang malah tentu tidak tidur). Yah sudah jadi risiko yang diketahui dari awal. Jadi saya tidak perlu kambing hitam untuk dibawa ke meja hijau, toh percuma mengajak kambing main tenis meja. Konsekuensi logis, sulit tidur akhirnya berefek samping sulit bangun juga.

Selain masalah sulit tidur (internal), ternyata gangguan eksternal juga sering datang. Bunyi message bersaut-sautan (yang sering kali tidak gawat atau darurat alias cito binti penting nan urgent), seakan memanggil ku untuk bangun dan melihat ada apa gerangan. Oh, ternyata cuma obrolan iseng. Entah sadar atau tidak , saya terkadang juga suka memancing obrolan bilamana sedang sulit tidur. Mungkin karma akibat mengganggu orang. Ujung-ujungnya karena keburu kumpul semua nyawa yang tadinya berhamburan saat hampir nyenyak, akhirnya kembali sadar penuh dan mulai lagi sulit tidur jilid 2. Alamak!

Seperti sudah dikatakan sebeumnya tentang konsekuensi logis. Memang masalah tidak selesai ketika bisa pindah ke alam mimpi. Bisa meloloskan diri kembali kedunia nyata itu juga bukan perkara sepele. Kadang malah seperti sudah harus menggocek melewati Pele, dihadang Ronaldo, lalu face-to-face dengan Messi. Saya kurang mengerti (dibaca: kagak paham sama sekali) soal bintang sepak bola, tapi nama-nama itu sepertinya sering dikumandangkan di siaran berita. Jadi bisa Anda bayangkan betapa sulitnya untuk bisa kembali ke alam nyata. Makin dasyat lagi, walaupun tanpa 'joget jemuran' seperti diacara Dasyat, kalau harus bolak-balik bangun seperti saat jaga malam. The second sleep is the most dangerous one. Bisa-bisa jatuh ke jurang nyenyak hingga overslept. Makanya kadang terpaksa memilih tidak tidur lagi ketika harus jaga malam di IGD.

Begitulah susahnya tidur dan susahnya bangun. Tapi saya bersyukur sejauh ini masih diijinkan bisa tidur, walaupun sampai memaksakan diri supaya mengantuk. Dan masih diberi kesempatan untuk bangun dari tidur, walaupun dengan tergopoh-gopoh. Karena betapa pun sulitnya proses yang harus dilewati. Toh pada akhirnya kita bisa menyerah berusaha tidur (dan akhirnya ketiduran juga); dan selalu pantang menyerah untuk bangun (sehingga tidak tidur selamanya). Jadi apa pun kondisi yang harus dihadapi, biar selalu dijalani dengam bersyukur. Menggerutu itu ibarat menunggu matahari terbit disisi barat, akhirnya pun harus puas melihatnya tenggelam setelah menunggu seharian. Lebih baik saya pasrah dan mencoba untuk tidur sekarang. Have a good night untuk Anda semua.. Sweet dream, but not too sweet, hati-hati diabetes nanti. He he he

Selong, 24-25 Januari 2015

-dap-

Jumat, 23 Januari 2015

Renungan Harian: (Tinja)uan Tentang Mati

"Kalau kau pernah takut mati, sama.."
Letto, Sampai Nanti, Sampai Mati

Sepotong lirik lagu yang pernah populer mengetarkan membran timpani telinga kita beberapa tahun yang lalu. Takut mati? Ya. Biar lidah bergoyang menyerukan tidak, biar pita suara bergerak buka-tutup menyuarakan tidak, dalam hati kecil pasti ada sedikit rasa takut mati. Kenapa harus takut mati? Bagi beberapa orang tentu lebih khawatir proses matinya. Entah akan sulit, dirawat berbulan-bulan sambil dipasangi selang disini-sana; entah akan mendadak, sampai tidak keburu membuat wasiat. Tapi buat beberapa orang yang percaya kehidupan setelah mati, mungkin jauh lebih mengerikan apa yang akan terjadi setelah kita dinyatakan lulus dengan gelar alm. (almarhum atau almarhumah, bisa keduanya?). Belum ada jawaban yang pasti selain reka-reka dan terka-terka apa yang terjadi setelah itu.

Sejak akhir tahun lalu peristiwa seputar kematian merajai berbagai pemberitaan. Dari hilangnya pesawat, sampai belakangan yang ramai adalah meninggalnya seorang pengusaha inspiratif nan nyentrik. Ada sebuah benang merah menarik yang bisa memotivasi kita. Coba kita sedikit bedah, tanpa berusaha menyiram luka dengan cuka.

Mati itu bukan urusan kita. Kecuali mungkin kita bunuh diri, yang tentunya cuma 1% dari peristiwa mati itu yang jadi urusan kita. Selebihnya soal kita mati, itu urusan orang lain yang masih hidup. Selanjutnya disaat yang bersamaan, kembali kalau Anda percaya kehidupan setelah mati, itu adalah urusan birokrasi akhirat. Peran kita sama sekali nihil. Kapan dan bagaimana Anda mati, itu hak preogratif 'sesuatu', yang bagi oragn percaya kita kenal dengan Sang Pencipta, bagi yang tidak masih ada faktor lain yang berperan. Lalu kenapa harus khawatir soal kematian? Toh setelah raga terbujur, arwah pergi, yang sibuk adalah yang masih hidup. Dokter yang sibuk meresusitasi, keluarga yang sibuk menangisi lalu harus bayar mahal dengan prosesi (pengurusan jenazah, dst), sampai kalau kita memilih mati prematur (bunuh diri) yang sibuk polisi.

Proses mati sendiri juga dengan kemajuan jaman hampir semua bisa dibantu dengan usaha paliatif (pa-li-a-tif n 1 cara, ikhtiar yg melunakkan, meringankan, mengurangi penderitaan; 2 obat yg dapat meredakan rasa sakit). Beberapa saat yang lalu sebuah artikel di Brithis Medical Journal menceritakan bahwa proses kematian yang paling baik (the best death) adalah terkena kanker. Disitu diceritakan kalau Anda bisa memiliki waktu untuk merefleksikan diri Anda, lalu mempersiapkan segalanya. Lebih baik daripada mati mendadak karena serangan jantung atau stroke perdarahan yang secara tiba-tiba memisahkan Anda dari keluarga (atau harta, tergantung Anda lebih sayang yang mana?). Namun, sekali lagi, masalah itu juga hampir bukan urusan kita. Kita tidak bisa memilih untuk terkena kanker saja daripada ditabrak pengemudi ngawur yang sedang memakai LSD misalnya.

Jadi sebenarnya cukup masuk akal bila dalam Alkitab tertulis di Matius 6 ayat 34 "Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." Toh mati itu kan masih hari besok. Nanti pada waktunya tiba, kita tinggal jadi pemeran utama yang tampil tanpa disibukkan dengan riasan apa yang mau dikenakan, tanpa pusing mau diantar naik apa, semua sudah ready tinggal pake dan tampil.

Jadi apa yang harus dikhawatirkan? Berkaca pada ramainya share berita di laman facebook kemarin. Yang harusnya menjadi perhatian itu, mati sebagai apa kita. Apa ini juga implikasinya besar, baik prospektif (maju seperti dalam maju tak gentar) maupun retrospektif (seperti dalam mundur-mundur cantik ala Syahrini). Ketika Anda mati sebagai orang biasa saja, walaupun prosesnya luar biasa, menjadi pemberitaan ramai, bahkan insiden nasional sekali pun; Anda tetap mati. Coba bandingkan dengan seorang nyentrik yang mati dengan cara biasa saja, menurut pemberitaan sakit tua akibat kondisi menurun pasca ditinggal istri. Tapi bisa bersaing mengisi segala pemberitaan. Bahkan quote nyentriknya mengisi banyak laman media sosial serta status BBM. Dan lebih luar biasa lagi, kalau kita tarik lebih jauh lagi, saat Paus Yohanes Paulus 2 meninggal beberapa tahun lalu; banyak orang yang sedih dan ikut menangis. Saya menjadi bertanya-tanya, apakah mereka sedih karena 'dia Paus' atau mereka sedih atas 'apa yang menjadikannya Paus'?

Sebenarnya lebih penting bagi kita untuk mempersiapkan diri. Karena faktanya, bagaimana pun pasti suatu saat kita akan berpulang. Istilah halus itu sebenarnya bisa di andai-andaikan (dengan otak saya yang sedikit ini), kalau dalam perjalanan pulang itu bekal kita tidak cukup, maka kita bisa kelaparan, atau kehabisan bensin, atau lebih parah lagi tidak kebagian tiket kereta menuju akhirat versi liburan, sehingga terpaksa menumpang kereta barang menuju akhirat siksaan. Dan omong kosong terbesarnya, mati kan masih besok-besok, sekarang saat hidup ini kita mau buat apa, supaya tidak menyesal besok. Sebenarnya kita berandil dalam menciptakan pentas kematian itu. Kita merusak kesehatan kita dengan hal tidak berguna misalnya, artinya pelan-pelan kita menimbun penyakit. Kita merusak citra kita dengan melakukan perbuatan tercela, nantinya kita mati dicela-cela. Kita hidup biasa-biasa saja, hidup untuk diri sendiri, saat mati siapa yang peduli? Bisa jadi Anda ditangisi pasangan cuma sekadar menurunnya pendapatan keluarga. Bisa jadi Anda ditangisi sahabat cuma sekadar kehilangan teman yang suka traktir-traktir.

Pada akhirnya, hal yang bukan urusan kita itu, sebenarnya sesuatu yang sangat berurusan dengan kita. Bagaimana Anda hidup, akan menjadi gambaran apa yang terjadi setelah Anda mati; sebaliknya bagaimana Anda mati, bisa memberikan gambaran bagaimana Anda hidup. So, mari sama-sama kita buang sejenak pikiran soal mati, yang penting adalah bagaimana kita hidup (untuk mempersiapkan mati). Karena mati toh cuma proses pendek yang harus dilalui. Proses panjangnya adalah ketika kita hidup dan memberikan yang terbaik untuk kehidupan.

Selong, 23 Januari 2015
Dari yang mencoba tidak takut mati lagi,


-dap-

Senin, 19 Januari 2015

Surat Cinta: Bagi Sahabat Ku yang Berjuang Menunggu Hasil Yudisium

Tidak tepat setahun lalu saya menemukan diri ini terjebak antara rasa ingin maju dan mundur. Perasaan digantung antara separuh kaki menahan gelombang laut dan separuhnya di atas kuburan menganga. Bila orang mengatakan rasanya seperti ada kupu-kupu yang terbang di dalam perut, mungkin momen saat itu masih berupa ulat bulu yang menggeliat-geliat di dalam perut. Geli dan memicu reaksi alergi.

Seperti biasa, setiap menghadapi situasi genting, saya hanya punya dua jenis mekanisme bertahan, melucu (membuat lelucon tentang diri sendiri atau jahatnya membuat orang lain sebagai lelucon) atau pasrah. Dan momen itu saya memilih untuk melucu. Dari membuat sambutan pada kolega peserta yudisium yang lain, menuliskan quote "Keberhasilan seseorang adalah keberhasilan bagi sesamanya" (yang ternyata saat saya perhatikan memang memancing reaksi tertawa komedi untuk banyak orang), sampai saya coba menghafalkan langkah-langkah resusitasi jantung paru (CPR) bilamana dibutuhkan. Untuk jaga-jaga saja, karena yudisium hari itu sebenarnya sempat di tunda, lalu jantung kami seakan diuji untuk berdebar-debar tidak keruan, saya pikir mungkin bisa saja hari itu ada yang aritmia dan kolaps (irama jantung ngaco alias sinus dangdut dan menyebabkan lemas serta gedubrak pingsan).

Saya teringat nasihat guru-guru yang logis namun magis, 'situasi kelulusan itu kan predictable, percuma deg-degan sekarang, harusnya panik dan deg-degan dulu saat mau ujian (atau saat menjalani masa pendidikan) sehingga berusaha lebih, pengumuman kelulusan kan cuma hasil akhir yang tidak dapat diubah'. Kira-kira begitu pesan mereka. Logis memang disatu sisi, namun kalau di buat penelitian secara statistik, mungkin hanya kurang dari 10% manusia yang bisa menghadapi pengumuman kelulusan tanpa membuat 'gula terasa asin dan garam terasa hambar'. Sepertinya, hanya kekuatan magis yang bisa membuat pengumuman kelulusan bernuansa jalan dihamparan bunga, lalu kita bisa rileks tiduran diatas padang rumput hijau sambil bernyanyi.

Saat itu saya hanya manusia biasa dan masih merasa (supaya ada ruang kalau ada yang mempunyai pendapat berbeda) sebagai manusia biasa sampai saat ini. Tentu gejolak yang terjadi saat itu memancing mekanisme pertahanan mental saya bekerja. Berusaha menyeimbangkan semburan hormon stress dengan hormon kesenangan. Supaya sang empunya tubuh tidak kejang-kejang saat membuka amplop hasil evaluasi pendidikan. Untuk kesekian kalinya dalam hidup, saya... Cemas!

Untungnya Tuhan masih berbaik hati mengijinkan runtutan kejadian yang mentransformasi perasaan cemas (yang diwujudkan dengan melucu konyol), sampai menjadi ujung dari teori Ross Kubler, acceptance (pasrah). Saat itu saya ingat betul pengumuman mundur dari jadwal, kami menunggu dengan cemas diruangan yang hampir semua orangnya hiperventilasi (maruk berebutan oksigen karena tegang), lalu saat datanglah si pembawa hasil dari gunung Olimpus tempat dewa-dewa berjas putih (dibaca: konsulen) menggelar musyawarah. Saat itulah, saya... Kebelet pipis.

Ada berkahnya juga saat itu kebelet untuk buang air. Selayaknya orang kebelet pada umumnya, saya jadi tidak konsentrasi bercemas-cemas ria, seketika berubah pasrah. Pasrah pada hasil dalam amplop, yang penting saya tidak keburu ngompol diruangan. He he.

Momen pembagian amplop berjalan sangat lambat, bagai mengigit permen karet alot yang sudah hambar. Satu per satu peserta maju. Mulai ada teriakan bahagia, suara isak tangis kecil, beragam reaksi atas hasil dari amplop masing-masing. Ruangan berangsur gaduh dan peserta lain menjadi gelisah, untung tidak ada yang kumat gaduh-gelisahnya atau mengamuk. Akhirnya saya mendapatkan kehormatan untuk dipanggil oleh yang maha berkuasa membagikan amplop tentunya. Setelah saya raih amplop, kalimat pertama yang saya ucapkan, tentu terima kasih. Tapi kalimat kedua yang saya ucapkan, "Dok, maaf, saya boleh ijin ke WC?" Sontak konsulen yang membagikan amplop kaget seraya berujar, "Buka disini aja, gak usah sampe ke WC!" Syukurlah refleks melucu sudah hilang, kalau tidak tentu saya akan bilang, "Apanya? Celananya? Saya kebelet pipis..." Ha ha ha. Akhirnya saya menjelaskan tentang kondisi darurat dua dengan ancaman mengompol karena menahan buang ari sedari tadi dan konsulen tersebut mengerti.

Sekembali menjawab panggilan alam, saya duduk, menghela napas dengan tanda lega, lalu membuka amplop itu. Hasilnya? Biar jadi rahasia kecil antara kita. Tapi yang jelas saya menghela napas lega untuk kedua kalinya setelah membaca hasil yudisium hari itu.

Siang ini saya baru sadar bahwa teman-teman di Fakultas sedang menunggu pengumuman Yudisium 1/2015. Semoga kisah diatas bisa menemani Anda semua. Sekadar melepas khawatir dan ketakutan dengan senyum gemes. Kesimpulannya:
  1. Surat keputusan kelulusan adalah hasil dan hasil itu adalah ujung dari sebuah proses. Tidak dapat berubah, namun tidak permanen. Apa pun hasilnya, Anda punya kesempatan untuk merubahnya. Bisa diubah makin baik, atau bisa dihancurkan dengan kecewa berkepanjangan atau bahkan congkak berlebihan.
  2. Hidup itu kadang bisa naik, kadang bisa turun. Tapi yang penting, kita harus selalu berjalan maju, jangan sampai terjebak nostalgia. Saya kutip dari BBM teman saya, "Karena terlalu banyak orang mengharapkan masa lalu sampai lupa dia punya masa depan..."
  3. Bagaimana reaksi Anda terhadapt suatu kejadian menunjukkan kedewasaan diri.
  4. Semoga Anda semua sukses melewati Yudisium 1/2015, wish y'all the best!
Selong, 19 Januari 2015

-dap-

Sabtu, 17 Januari 2015

Pendekar Kuali Emas

Poster film Pendekat Tongkat Emas
Sudah kah Anda menonton film "Pendekar Tongkat Emas" di bioskop terdekat? Bagi Anda yang tinggal di kota yang mendapatkan anugerah bioskop, film tersebut sangat recommended untuk Anda saksikan. Suer terkewer-kewer saya ingin sekali menonton film itu setelah melihat ulasannya di Kick Andy beberapa waktu yang lalu, namun apa daya dompet tak sampai. Bioskop terdekat yang memutar film tersebut ada di pulau seberang, sehingga untuk meraihnya saya perlu merogoh kocek sedalam-dalamnya, padahal kocek saya cuma becek-becek, nyaris menguap dengan teriknya kehidupan perantau yang serba mahal. Saya tidak akan membahas tentang film tersebut di sini karena malah akan menurunkan citra film yang luar biasa tersebut dengan ulasan picisan. Bila Anda penasaran silahkan lihat rekaman Kick Andy di youtube atau boleh langsung tonton film tersebut, mumpung masih beredar di bioskop kesayangan Anda. He he.

Kali ini yang akan saya bagikan adalah tentang pendekar yang saya temui di sini. Ya, di Selong, sebuah kota di Kabupaten Lombok Timur. Tempat di mana saya bertugas dan berpetualang layaknya si bolang (bocah ilang). Selayaknya manusia yang punya makanan tidak umum (dibaca: tidak makan daging) seperti saya, terkadang mencari makanan itu menjadi pekerjaan yang susah gampang-gampang (lebih banyak gampangnya daripada susahnya). Karena untuk orang dengan pilihan menu terbatas, maka dia harus lebih cincai (dibaca: pasrah) dalam pemilihan makanan. Apa yang bisa di makan, selama layak dan halal, tentu tidak menjadi soal. Walaupun terkadang rasanya seperti menjulurkan lidah dan membiarkan garam menari-nari, menggelitik perasa asin, sehingga air mata bercucuran dan otak memerintahkan gerakan refleks mencari segelas air. Atau kadang saya temukan makanan yang rasanya luar biasa beragam (dibaca: gak karuan) karena juru masaknya bingung meracik bumbu yang bisa saya makan.

Tapi di sekitar tempat tinggal saya di sini, untungnya ada sebuah kedai makan yang bisa menyajikan santapan yang rasanya luar biasa menggugah. Rasa dan harga yang pantas yang membuat saya hampir setiap hari datang untuk menyantap menu yang sama. Menu paling sulit dibuat di dunia ini. Bahkan Anda akan kaget betapa tidak keruan rasanya bila menu ini disajikan di hotel bintang 5 (tulisan Rhenald Kasali di Kompas). Ya, dia lah nasi goreng. Sebuah masakan yang mungkin merupakan jajaran resep awal yang kita pelajari ketika belajar memasak, selain memasak air dan merebus mie instan tentunya.

Nasi goreng ini begitu spesialnya buat saya. Sebuah pagelaran rasa di dalam mulut layaknya iringan rasa asin yang bersaut-sautan dengan duet manis dan pedas, ditambah dengan gurihnya telur dadar dengan pinggiran garing yang begitu memukau. Semua memberikan penampilan yang mengundang standing ovation saat mengunyahnya. Tentu saya tidak benar berdiri dan bertepuk tangan saat makan, nanti disangka saya pasien lepas dari rumah sakit jiwa terdekat. Tapi gambaran betapa saya menikmatinya, kalau ada absensi makan nasi goreng disana, bisa jadi saya akan mendapatkan souvenir berupa piring cantik sebagai penyantap dengan frekuensi tersering. He he.

Lalu apa urusannya nasi goreng dengan pendekar? Pemilik dari kedai makan ini adalah sepasang suami-istri yang unyu. Si bapak adalah executive chef yang meracik seluruh masakan sehari-hari, sedangkan istrinya berperan sebagai bartender meracik minuman serta es campur, merangkap juga sebagai kurir yang mengantar makanan pesanan pelanggan. Memang dunia dapur sudah bukan monopoli dari kaum hawa. Sekarang malah banyak pekerjaan yang erat dikaitkan dengan kaum hawa sudah mulai dirasuki oleh laki-laki, begitu pula sebaliknya seperti teman saya sesama bocah internsip, seorang perempuan yang mampu mengganti ban mobil seorang diri (belum tentu semua laki-laki bisa lho!). Jadi sehari-harinya tentu saya menikmati nasi goreng istimewa dari sang suami yang dengan sigap meracik, mengoseng, menata dan menyajikan sebuah nasi goreng dengan telor dadar setiap hari untuk saya.

Jadi di bapak itulah pendekar kuali emas? Eits tunggu dulu. Layaknya film Pendekar Tongkat Emas, pendekar disini bukan seorang laki-laki. Kita kesampingkan dulu si bapak. Bagaimana saya bisa menemukan sang pendekar, itu juga secara tidak sengaja. Pada suatu hari Jumat, seperti kebanyakan umat muslim, tentu laki-laki wajib melaksanakan Sholat Jumat di masjid secara berjamaah. Nah beruntungnya saya datang Jumat itu tepat disaat hanya ada si istri di kedai. Saya tadinya mengira, wah apa makanannya baru akan jadi sepulang executive chef sholat yah? Yang tidak saya sangka, si ibu dengan sigap sibuk mondar-mandir di menngarungi dapur dan etalase sayurannya. Tiba-tiba dalam waktu singkat, datang lah nasi goreng dengan bentuk yang sama persis dengan yang bias asaya makan sehari-hari.

Tampilan nasi goreng buatan  pendekar kuali emas, setelah
saya bedah supaya terlihat kesederhanaan ingredientnya
Awalnya saya pikir, pasti rasanya akan sama. Namun pada suapan pertama, boom! Pentas seni, pagelaran kolosal, jubileum, sebut saja semua panggung hiburan yang megah membahana. Rasanya jauh lebih fantastis daripada buatan executive chef kedai itu. Begitulah akhirnya terbersit dalam benak saya untuk menjuluki si ibu dengan julukan Pendekar Kuali Emas. Walaupun saya tahu ketika saya nyelonong masuk ke dapur saya tidak akan menmukan kuali emas whatsoever, bahkan mungkin akan begitu menyeramkannya bekas gosong di sana. Tapi memang rasa tidak pernah bohong. Ayunan jurus-jurus dalam mengatur besar api, urutan memasukkan bahan serta menjaga rasa agar tidak hilang begitu sempurna dimainkan oleh sang pendekar. Saya bahkan hari itu sampai lupa mengambil kerupuk yang biasa menjadi teman makan paling setia.

Kejadian kemarin membuka mata hati saya, bahwa memang kita tidak bisa mempercayai apa yang kita lihat sehari-hari. Tadinya saya pikir kenapa bukan si ibu yang memasak? Apa mungkin masakan si bapak lebih lezat? Dan ternyata mungkin jawabannya sama seperti film laga silat kebanyakan, bahwa sang jagoan tidak selalu muncul menghiasi layar, bahwa jagoan paling jago itu bisa saja muncul disaat genting dan bahwa Anda tidak akan pernah bisa menebak siapa sebenarnya yang paling jago, even dalam kehidupan nyata. Mungkin Kepala Perawat IGD yang terlihat bicara tergagap-gagap dan terkesan tidak jelas, ternyata orang yang bisa memasang infusan lebih jago daripada perawat yang lainnya. Mungkin dokter yang Anda pikir pintar, ternyata hanya kebetulan menguasai bidang tertentu, dan malah dokter yang diam saja bisa jadi memiliki segudang 'ilmu magis' dalam menyembuhkan pasien (sepsis dengan prognosis malam -buruk- tiba-tiba sembuh, bayi muda yang tidak kunjung stabil di inkubator berbulan-bulan yang sejak dirawat olehnya bisa pindah ke box bayi dan akhirnya pulang dengan sehat dalam seminggu, dan banyak kisah lainnya.)

Ingatlah bahwa siapa saja bisa belajar dan berilmu tinggi, namun seorang yang memberikan kejuta itu lah yang bisa dianggap pendekar. Seorang yang diam-diam mengambil alih semua kesulitan dan memutarnya menjadi kesempatan. Seorang yang bersahaja, tidak pamer, tapi secara misterius memiliki kemampuan luar biasa.

Apakah Anda mau menjadi sekadar jagoan atau biar keteguhan moral serta sifat rendah hati Anda yang akan menjadikan Anda pendekar? Sebuah kutipan unik dari guru saya, "Saya sih, terseraaah kamuuu yah, kan kamu bosnya..." - dr. PP, Sp.An, Dosen anastesi yang nyebelin sekaligus menginspirasi.

Selong, 17 Januari 2015

-dap-

Jumat, 16 Januari 2015

Renungan Harian: (Tinja)uan Tentang Waktu


Hari ini jaga siang, jadi bisa memanjakan diri dengan, "Bangun, tidur lagi, banguuuun, tidur lagi. Ha ha ha." Gitu kata Alm. mbah Surip dalam lagunya yang sempet ngehits dulu. Kata dulu itu jadi relatif panjang sekarang, setelah hidup 25 tahun. Ternyata bener yah kata senior-senior. Waktu itu berlalu cepat, gak berasa sekedipan mata tiba-tiba udah waktunya melepaskan waktu main dan harus bekerja (kalau belum percaya, coba merem bayangkan waktu Anda masih bermain, lalu sekolah, semua masih jelas kan sampai ke aroma-aromanya; lalu buka mata Anda tiba-tiba, coba ngaca. Voila! Waktu berlalu sekedipan mata). Yah kerjaan saya juga sebenarnya seasik bermain, hanya perlu tanggung jawab yang lebih, karena ga bisa restart apalagi pake cheat untuk 'GOD mode' kalau pusing ngelewatin stage sulit.

Lucunya dulu pernah ada sahabat yang bilang, "Lu harus santai karena bumi berotasi lambat. Dia perlu 24 jam hanya untuk satu putaran dirinya. Makanya lu bisa dalam beberapa jam sampai ke bagian dunia yang lain tanpa perlu melawan arah rotasi bumi. Tapi lu harus gesit. Karena waktu itu berlalu cepat. Gak pake delay ala maskapai. Gak pake reschedule apalagi batal." Coba bayangkan aja kalau waktu bisa batal. Misalnya 7 Desember 2014 batal! Lah terus bisa terjadi huru-hara di mana-mana. Belum lagi saya akan stress karena harusnya saya ulang tahun, kok tanggalnya batal ada. Galau kan usia kita sebenarnya berapa? Apalagi kalau 7 Desember 2011 mundur, jadi 1 hari setelah 7 Desember 2015. Nah lho, jadi habis tiup lilin angka 26, besoknya saya terbangun dengan lagu Taylor Swift, "I don't know about you, but I'm feeling 22.." Berasa muda tapi tetep encok (LBP) dan keriput. Kacau-kacau. ndak usah dibayangkan. Ha ha.


Gambar 1
. Bentukan meme (?) yang sedang happening di jejaring sosialPath.
Dan karena hari ini jaga siang, mulai masuknya jam 14.00 WITA, maka saya sempat untuk streaming 101 Jak FM. Sebenarnya gak rutin, cuma karena Metro TV hilang lagi (mungkin dia Matius -mati misterius- seperti kata my guardian angel). Tapi kzl (dibaca: kesel) pas denger tante Tike bacain iklan promo Senayan City. Beneran masih kebayang gimana susunan toko di sana, jalan diantara hamparan promo Dabenhams, sambil nyanyi banyak promo-promo, promo-promo, kiss kiss. Bubar deh semua karena saya jauh di sini (Lihat gambar, lagi happening banget gambar penyelewengan arti kata dari kamus.  Gak dianggap kudeta bahasa kan?He he). Jadi ingat dulu liburan lama banget setelah ada polemik cicak vs buaya versi AIPKI - IDI, yang akhirnya mengorbankan bocah-bocah yang akan internsip kedokteran. Oke, masa lalu kelam itu lupakan saja. Intinya saat-saat indah itu berlalu cepat. Kalau sekarang ibarat lagi jaga sama dokter supervisor UGD yang asik, terus serangan pasien kayak di Plant vs Zombie gitu (tapi pasiennya gak pake ngeluarin suara, "I'm coming.." kayak zombie juga sih), tiba-tiba saat indah untuk diskusi berakhir seiring datangnya tim jaga berikutnya.

Jadi kayaknya bener deh, kita harus santai menikmati setiap momen yang ada sekarang. Soalnya belum tentu momen itu bisa datang lagi. Anggap aja kita lagi hanyut di lautan. Kalau panik dan nelen air yang lebih asin dari keringet atlit lari maraton itu (boleh dicoba), maka kita akan tenggelam, atau tepatnya menenggelamkan diri sendiri. Namun kalau kita coba santai, menikmati nuansa terbawa arus sambil pasrah pada Sang Pencipta, mudah-mudahan doa kita dijawab. Ingat rotasi bumi itu pelan kok. Gravitasi masih mengikat kita. Nikmati hari Anda dan berbuat yang terbaik, bukan untuk sekarang, tapi demi masa depan yang gemilang (Ea.. Ea.. Eeeeeaaaa.. Gege, mimi, langlang. Gemilang (n) kata yang saya pikir hampir punah setelah ajang pencarian bakat menuju puncak di salah satu televisi swasta yang sekarang banyak menampilkan sinetron dengan animasi naga yang super fake - masih gak ya?- He he).

Have a nice day everybody!

Selong, 16 Januari 2015

-dap-

Kamis, 15 Januari 2015

Cuma Sebuah Surat Cinta (Ceceran 1)

Dia yang ku lihat dari jauh
Dia yang ku kagumi tanpa perlu basa-basi
Dia yang walaupun ada versi berbeda, tidak kutemukan imitasi yang menyerupai asli
Dia 'Donat'

Yang biar beredar inovasi bentuk kotak, segitiga
Bahkan ada primadona blesteran yang lebih elok bernama Cronut
Tapi untuk ku, yang sah dihati, tetap diri mu
'Donat' yang bulat, dengan bolongan ditengahnya

Memang kamu tidak sempurna
Tidak selalu terlihat bulat purnama
Seringkali hanya tampil sederhana
Bukan mewah berwarna kuning keemasan

Tak ku pungkiri, kau memberi sejuta rasa
Manis yang terbalur dengan krim coklat
Kadang tampil diam bersahaja dengan balutan gula bubuk
Sering juga ku rasa kau bersemangat, meradang merah dengan abon spicy
Ku suka diri mu apa adanya

Sekarang kita jauh terpisah
Makin lebar palung yang harus dilewati
Samudera luas yang cuma bisa diraih lewat mimpi
Percayalah, aku tetap mencintai mu
Walau aku yakin kau tidak memikirkan ku di sana

Ku titip salam rindu, dengan sebait tulisan ini
Dari ku, yang masih menyayangi mu

Selong, 15 Januari 2015
Untuk 'Donat' satu-satunya,

-dap-

Rabu, 14 Januari 2015

Mengapa Menulis? (Penggalan 1)

Saya selalu ragu untuk memulai sebuah tulisan. Entah karena begitu banyak ide yang keburu kabur dan tidak terkejar, bahkan tulisan utuh yang setelah dibaca ulang rasanya kurang pantas untuk dibagi dengan orang lain sehingga terpaksa dilepaskan. Kadang terlalu banyak kekesalan yang ditumpahkan, sehingga terkesan terlalu kasar. Tapi ada kalanya banyak kecintaan yang terlalu manis, sehingga memunculkan rasa mual. Akhirnya, seorang teman yang coba mendorong saya untuk memulai menulis, dengan sedikit nyali mulai berkisah dan membebaskan benak saya menuntun jari ini bekerja.

Menulis itu masalah sepele. Bisa asal jadi, tapi tentu tidak menarik. Bisa terlalu serius, tapi tidak bisa dinikmati. Bisa santai, tapi menusuk dalam. Ya menulis itu bisa membuat kita dipuja, tapi bisa juga menabung dosa. Tergantung tujuan tulisan, biar pembaca yang jadi hakimnya.

Lalu mengapa menulis? Karena tidak semua hal bisa diungkapan dengan kata-kata. Curahan hati terdalam yang sulit diludahkan apalagi dimuntahkan. Sering terasa lebih ringan jika diobral tanpa peduli siapa yang membaca, Biar orang meninggalkan komentar, bahkan sampai huru-hara. Tapi kita pegang kendali, membubarkan massa, bahkan menghilangkan jejaknya. Bila dalam berkata terkadang lidah bergerak lebih cepat daripada nalar bekerja. Dalam tulisan Anda bisa meralat dan menimbang ulang, bahkan sampai setelah dipublikasikan. Tulisan tidak harus fokus, menuju satu sasaran. Lain hal bila kita tiba-tiba bermonolog di ruang publik. Bisa jadi disangka sedang kumat gaduh-gelisah. Kita bisa bebas mencurahkan isi hati, tanpa perlu diadili oleh senyum beribu makna, maupun tatapan pura-pura tulus. Layaknya alergi yang baru muncul belakangan. Kita nikmati dulu setiap bait, sampai mulai harus menggaruk dan babak belur karena bengkak.

Tulisan juga menjadi otentik. Tidak terbantahkan. Biar jadi pengingat juga. Ejekan pada orang lain yang suatu hari menjadi tamparan untuk diri sendiri. Motivasi yang cuma sekadar teori, tapi berhasil dipraktikkan  orang lain. Bukti tidak terbantahkan tentang ketulusan yang sudah berubah, idelisme yang mulai bergeser, dan istana kebohongan yang akhirnya runtuh.

Tidak ada kisah yang terlalu panjang dalam tulisan. Terserah pembaca Anda mau meluangkan seberapa banyak yang mereka punya. Kita bisa bercerita panjang lebar bertele-tele. Menyusun plot-plot perlahan menjadi klimaks. Tentu boleh dibuat ringkas dan bersahaja. Walaupun kadang sejujurnya karena kehabisan ide. Intinya Anda boleh jujur mengeluarkan berapa yang Anda punya. Bisa cicilan bebas bunga. Tidak ada beban untuk batal kreditnya, lalu dihapus dari draft.

Hari ini meledak-ledak dengan kekesalan. Besok bermanja-manja merindukan seseorang. Boleh. Semua benar. Asal dibentengi dengan penghormatan pada orang lain. Harusnya Undang-Undang bukan masalah dan hukum manusia tidak jadi soal.

Jadi sebenarnya yang jadi masalah bukan kenapa menulis, tapi kenapa tidak menulis? Ingat, dalam tulisan kita bebas menyelipkan sedikit misteri dan secuplik rahasia, dan mereka bisa bebas menerka. Bukan urusan kita. Yang penting sudah lega.

Kisah omong kosong belaka,
Selong, 14 Januari 2015

-dap-

Senin, 12 Januari 2015

Hidup Itu Dinamis: Dari Mafia Sampai Petani

Gili Trawangan, Lombok, NTB, 31 Desember 2014 

"Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukkan dunia.
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya"

Laskar Pelangi, Nidji

Kalau menurut liriknya Nidji, mimpi itu epik banget. Kunci untuk menaklukkan dunia, harus dikejar tanpa lelah. Buat saya pribadi, mimpi itu sesuatu yg absurd. Kosong. Karena mimpi yang sering dikaitkan dengan cita-cita itu selalu berubah dinamis dalam hidup ini,

Banyak pembaca yang mungkin ga tau seperti apa penulisnya. Setidaknya mereka menerka-nerka, main kucing-kucingan dari hasil karya si penulis. Tapi saya akan coba memulai tulisan-tulisan saya, yang mungkin akan jadi kontroversi, polemik atau bahkan menggelitik untuk diskusi, dengan autobiografi sekelibat. Biar sebelum orang menyeret saya ke meja hijau, sambil divonis rajam tanpa diadili, karena hakimnya sibuk cuci tangan dan kaki lalu kumur-kumur sendiri. Saya akan coba mulai mendongeng, harapannya, Anda bisa mengerti kalau saya ini tidak sesederhana tulisan saya, Bahwa ujung jari saya kadang lebih tajam dari lidah yang cuma diam, dan lebih jahat dari senyum ketika saya tidak suka. Kita mulai menguliti dari hati terdalam, dari cita-cita luhur atau kabur? Dongeng ini saya mulai...

Sebagian besar diri kita, kalau masuk TK yang benar, pasti minimal sekali dalam hidupnya ditanya oleh guru TKnya dengan pertanyaan yang mainstream banget, "Kalau sudah besar, mau jadi apa?" Sebenarnya apa sih tujuan si guru bertanya soal cita-cita atau mimpi kita? Apakah karena kebetulan sudah dipopulerkan oleh Boneka Susan dan Kak Rai dalam lagu mereka? Atau memang segitu pentingnya cita-cita itu sampai harus rutin discreening secara tidak disengaja.

Bayangkan gimana unyunya air muka guru saya, kalau dulu saya coba jujur dan bilang, "Ga tau." Atau mungkin saat sudah beranjak lebih besar saya jawab santai, "Mau jadi silent assassin atau agen rahasia." Mungkin dalam hati si guru bisa sumpah-serapah, iki anak setan, bakar dia, tusuk jantungnya dengan palang kayu atau jejelin bawang supaya muncul taringnya. Hehe.

Jadi alih-alih jujur, saya selalu coba dengan jawaban universal yang mematikan pembicaran, 'Gak tau'. Dan untungnya mimpi itu dinamis seiring kita membesar dan mengobes (menggendut -dic). Kemarin saat jaga saya masih bermimpi untuk jadi ahli bedah, ngubrek-ngubrek dan buang-buang usus orang yang saya pikir sakit dan kata buku harus dibuang (itu yang dirasa betul dikerjakan sekarang). Pagi ini saya menemukan diri saya sedang makan roti slai Nut*lla kado dari teman-teman saya, sambil baca bagaimana cara menanam sayuran di pot. "Jadi petani asik yah!" begitu hati kecil saya bersorak, sambil senyum simpul iseng bertanya pada kepribadian yang sedang mendominasi ini, "Masi mau jadi ahli bedah atau jadi petani saja, seperti saran dosen Biologi di Fakultas Kedokteran dulu?"

Kesimpulannya? Silahkan Anda simpulkan sendiri untuk saat ini. Karena seharusnya kata pengantar itu kan bagian yang dibuang saat Anda mulai membaca buku seseorang. Sebuah bagian yang harusnya penting, tapi berapa persen manusia yang peduli untuk mulai membaca? Padahal penulis biasanya menyelipkan sebaris maksud dan sepenggal tujuan dari buku itu. Harusnya isi buku itu bisa crystal clear setelah membaca, atau bahkan kata pengantar yang powerful bisa membuat pembaca tutup buku dan menaruh kembali ke rak (karena buku yang covernya unyu dengan judul romance itu isinya kisah sedih nan galau).

Selamat bertualang dalam pikiran saya dan semoga tersesat sampai ditujuan.


Selong, 12 Januari 2015

-dap-

Senin, 05 Januari 2015

Kisah Hanyutnya Si Bolang




















Kisah ini based on true story dengan sedikit bumbu ala chef Dicky sehingga jadi fiksi. Sebuah karya yang mencoba merangkai ingatan horor saya saat kemarin hampir hanyut, saat snorkling di Gili Trawangan/Gili Air, dan hilang dari peredaran. I kinda think this as self medication. Supaya saya gak sampe kena post traumatic stress. Dan melalui kisah ini saya coba mengagumi bahwa God still loves me despite what have I done lately (either I did something bad, or I've done nothing for God).

Diposting dengan rasa terima kasih pada mas-mas yang nolongin saya kemarin, sori kita tidak sempat berkenalan lebih jauh bahkan sekadar nama, dan terima kasih sudah diajak naik private boat :)