Jumat, 23 Januari 2015

Renungan Harian: (Tinja)uan Tentang Mati

"Kalau kau pernah takut mati, sama.."
Letto, Sampai Nanti, Sampai Mati

Sepotong lirik lagu yang pernah populer mengetarkan membran timpani telinga kita beberapa tahun yang lalu. Takut mati? Ya. Biar lidah bergoyang menyerukan tidak, biar pita suara bergerak buka-tutup menyuarakan tidak, dalam hati kecil pasti ada sedikit rasa takut mati. Kenapa harus takut mati? Bagi beberapa orang tentu lebih khawatir proses matinya. Entah akan sulit, dirawat berbulan-bulan sambil dipasangi selang disini-sana; entah akan mendadak, sampai tidak keburu membuat wasiat. Tapi buat beberapa orang yang percaya kehidupan setelah mati, mungkin jauh lebih mengerikan apa yang akan terjadi setelah kita dinyatakan lulus dengan gelar alm. (almarhum atau almarhumah, bisa keduanya?). Belum ada jawaban yang pasti selain reka-reka dan terka-terka apa yang terjadi setelah itu.

Sejak akhir tahun lalu peristiwa seputar kematian merajai berbagai pemberitaan. Dari hilangnya pesawat, sampai belakangan yang ramai adalah meninggalnya seorang pengusaha inspiratif nan nyentrik. Ada sebuah benang merah menarik yang bisa memotivasi kita. Coba kita sedikit bedah, tanpa berusaha menyiram luka dengan cuka.

Mati itu bukan urusan kita. Kecuali mungkin kita bunuh diri, yang tentunya cuma 1% dari peristiwa mati itu yang jadi urusan kita. Selebihnya soal kita mati, itu urusan orang lain yang masih hidup. Selanjutnya disaat yang bersamaan, kembali kalau Anda percaya kehidupan setelah mati, itu adalah urusan birokrasi akhirat. Peran kita sama sekali nihil. Kapan dan bagaimana Anda mati, itu hak preogratif 'sesuatu', yang bagi oragn percaya kita kenal dengan Sang Pencipta, bagi yang tidak masih ada faktor lain yang berperan. Lalu kenapa harus khawatir soal kematian? Toh setelah raga terbujur, arwah pergi, yang sibuk adalah yang masih hidup. Dokter yang sibuk meresusitasi, keluarga yang sibuk menangisi lalu harus bayar mahal dengan prosesi (pengurusan jenazah, dst), sampai kalau kita memilih mati prematur (bunuh diri) yang sibuk polisi.

Proses mati sendiri juga dengan kemajuan jaman hampir semua bisa dibantu dengan usaha paliatif (pa-li-a-tif n 1 cara, ikhtiar yg melunakkan, meringankan, mengurangi penderitaan; 2 obat yg dapat meredakan rasa sakit). Beberapa saat yang lalu sebuah artikel di Brithis Medical Journal menceritakan bahwa proses kematian yang paling baik (the best death) adalah terkena kanker. Disitu diceritakan kalau Anda bisa memiliki waktu untuk merefleksikan diri Anda, lalu mempersiapkan segalanya. Lebih baik daripada mati mendadak karena serangan jantung atau stroke perdarahan yang secara tiba-tiba memisahkan Anda dari keluarga (atau harta, tergantung Anda lebih sayang yang mana?). Namun, sekali lagi, masalah itu juga hampir bukan urusan kita. Kita tidak bisa memilih untuk terkena kanker saja daripada ditabrak pengemudi ngawur yang sedang memakai LSD misalnya.

Jadi sebenarnya cukup masuk akal bila dalam Alkitab tertulis di Matius 6 ayat 34 "Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." Toh mati itu kan masih hari besok. Nanti pada waktunya tiba, kita tinggal jadi pemeran utama yang tampil tanpa disibukkan dengan riasan apa yang mau dikenakan, tanpa pusing mau diantar naik apa, semua sudah ready tinggal pake dan tampil.

Jadi apa yang harus dikhawatirkan? Berkaca pada ramainya share berita di laman facebook kemarin. Yang harusnya menjadi perhatian itu, mati sebagai apa kita. Apa ini juga implikasinya besar, baik prospektif (maju seperti dalam maju tak gentar) maupun retrospektif (seperti dalam mundur-mundur cantik ala Syahrini). Ketika Anda mati sebagai orang biasa saja, walaupun prosesnya luar biasa, menjadi pemberitaan ramai, bahkan insiden nasional sekali pun; Anda tetap mati. Coba bandingkan dengan seorang nyentrik yang mati dengan cara biasa saja, menurut pemberitaan sakit tua akibat kondisi menurun pasca ditinggal istri. Tapi bisa bersaing mengisi segala pemberitaan. Bahkan quote nyentriknya mengisi banyak laman media sosial serta status BBM. Dan lebih luar biasa lagi, kalau kita tarik lebih jauh lagi, saat Paus Yohanes Paulus 2 meninggal beberapa tahun lalu; banyak orang yang sedih dan ikut menangis. Saya menjadi bertanya-tanya, apakah mereka sedih karena 'dia Paus' atau mereka sedih atas 'apa yang menjadikannya Paus'?

Sebenarnya lebih penting bagi kita untuk mempersiapkan diri. Karena faktanya, bagaimana pun pasti suatu saat kita akan berpulang. Istilah halus itu sebenarnya bisa di andai-andaikan (dengan otak saya yang sedikit ini), kalau dalam perjalanan pulang itu bekal kita tidak cukup, maka kita bisa kelaparan, atau kehabisan bensin, atau lebih parah lagi tidak kebagian tiket kereta menuju akhirat versi liburan, sehingga terpaksa menumpang kereta barang menuju akhirat siksaan. Dan omong kosong terbesarnya, mati kan masih besok-besok, sekarang saat hidup ini kita mau buat apa, supaya tidak menyesal besok. Sebenarnya kita berandil dalam menciptakan pentas kematian itu. Kita merusak kesehatan kita dengan hal tidak berguna misalnya, artinya pelan-pelan kita menimbun penyakit. Kita merusak citra kita dengan melakukan perbuatan tercela, nantinya kita mati dicela-cela. Kita hidup biasa-biasa saja, hidup untuk diri sendiri, saat mati siapa yang peduli? Bisa jadi Anda ditangisi pasangan cuma sekadar menurunnya pendapatan keluarga. Bisa jadi Anda ditangisi sahabat cuma sekadar kehilangan teman yang suka traktir-traktir.

Pada akhirnya, hal yang bukan urusan kita itu, sebenarnya sesuatu yang sangat berurusan dengan kita. Bagaimana Anda hidup, akan menjadi gambaran apa yang terjadi setelah Anda mati; sebaliknya bagaimana Anda mati, bisa memberikan gambaran bagaimana Anda hidup. So, mari sama-sama kita buang sejenak pikiran soal mati, yang penting adalah bagaimana kita hidup (untuk mempersiapkan mati). Karena mati toh cuma proses pendek yang harus dilalui. Proses panjangnya adalah ketika kita hidup dan memberikan yang terbaik untuk kehidupan.

Selong, 23 Januari 2015
Dari yang mencoba tidak takut mati lagi,


-dap-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar