Tampilkan postingan dengan label Mobile. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mobile. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Juli 2015

Perihal Vonis Dokter

Pagi ini saat nonton berita pagi saya tergelitik dengan istilah 'vonis dokter' yang dipakai oleh narator beritanya. Seketika saya coba mencari arti kata vonis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dan kebetulan artinya vo·nis n Huk putusan hakim (pada sidang pengadilan) yang berkaitan dengan persengketaan di antara pihak yang maju ke pengadilan; hukuman (pada perkara pidana): ia dijatuhi -- enam bulan penjara. Jadi istilah vonis itu TIDAK tepat disandingkan dengan dokter. Pertama profesi kedokteran gak punya hak memvonis karena bukan praktik hukum. Kedua dalam dunia kedokteran, seorang dokter selalu bekerja dalam uncertainty alias gak pasti; seorang dokter cuma memfasilitasi kerja Yang Maha Kuasa. Tidak ada garansi sebuah diagnosis adalah pasti, hanya bisa mentok memastikan dengan pemeriksaan baku emas (gold standar). Memastikan aja sulit, gimana berani menjatuhkan vonis? Yang diberitahukan adalah kemungkinan-kemungkinan sesuai keilmuan si dokter.

Sekadar sharing aja, pasien berhak untuk meminta opini kedua dari ahli lain. Sangat sah juga kalau ada perbedaan pendapat karena dunia kedokteran itu juga soal seni (pengalaman si dokter). Apalagi di pendidikannya banyak diajarkan harus mulai memikirkan yang terburuk supaya gak kelolosan. Sangat tidak mengherankan kalau kondisi yang diprediksi dokter 'kemungkinan lumpuh dan harus dibantu kursi roda seterusnya', lalu pasiennya berobat ke dokter lain atau pengobatan alternatif, dan perlahan mulai bisa berjalan dengan tongkat. Terus... Lumpuh itu vonis dokter? Tdnya saya pikir vonis yang inkracht van gewijsde (berkekuatan hukum tetap dan mengikat) itu cuma deklarasi kematian, tapi toh kalau cerita-cerita tentang mati suri itu benar, "vonis mati" yang dijatuhkan pun ternyata masih bisa direvisi tanpa proses berbelit melalui peninjauan kembali atau grasi.

So, mari mulai hari dengan optimis, di dunia ini jarang ada yang pasti kok. Selama masih ada hembusan nafas untuk berjuang, mari kita sama-sama perjuangkan untuk kebaikan. Semangat pagi, selamat menjalani hari!

*tulisan ini merupakan opini, tidak mewakili pandangan profesi secara umum dan mohon koreksi dan diskusi bila ada pandangan berbeda*

Selasa, 19 Mei 2015

Atas Nama Perdamaian (Yg Keliru)

"Gue udah ngomongin ini sama sepuluh orang, tapi doi gak sadar juga sih.. "

Acap kali kita, entah sengaja maupun tidak, salah mengkomunikasikan masalah. Seringnya masalah pribadi menjadi gosip yang melebar bahkan menular menjadi kebencian bersama. Entah merupakan sebuah gaya hidup atau sudah jadi kebiasaan, bila kita tidak menyetujui perilaku atau kata-kata seseorang, kita malah mengkomunikasikan dengan orang lain. Bukan bicara langsung, membuka wacana diskusi dengan orang yang bersangkutan. Misalnya kita tidak suka dengan statement seseorang, tapi alih-alih membicarakan dengan yang bersangkutan, dengan segala alasan, kita malah membuka pintu gosip bersama orang lain.

"Ya kan, gue gak mau ribut sama doi.."
Sebegitu jeleknya kah peer review? Budaya anti kritik dan anti masukan itu sepertinya sudah memasuki diri kita. Tanpa sadar kita sangat resisten dengan koreksi dari orang lain, sehingga teguran itu malah bisa diartikan sebagai pengibaran bendera perang. Jadi supaya aman, kita ekspresikan saja kekesalan dengan menceritakan pada si A. Bila tidak puas, bisa diceritakan lagi ke si B, C, D dan seterusnya, sampai bila ditelusuri ke ujung maka sudah banyak tambahan penyedap cerita. Sinetron banget! Membawa slogan perdamaian malah kita jadi menggosipkan orang lain tanpa membantu orang itu dalam evaluasi diri. Sah-sah saja minta pendapat apakah kekesalan kita berlebihan? Sangat halal juga minta pendapat bagaimana solusinya? Tapi yang jadi soal, kita menjalankan solusi, yang kita anggap selalu benar, tanpa menggandeng orang yang bersangkutan.

Gosip Berantai
Suatu hari di sebuah tempat kerja Tompel mengadu pd temannya tentang kemalasan seorang rekan kerja satu shift, yang kita sebut saja Bunga. Seribu satu kisah pendukung argumen kemalasan Bunga diutarakan oleh Tompel. Setelah penjabaran kisah secara panjang lebar, Tompel dan teman-temannya setuju bahwa tindakan Bunga itu salah. Mereka pun melakukan analisis macam-macam sehingga diskusi menjadi lebih hangat. Diskusi diakhiri dengan masukan oleh seorang temannya untuk mengevaluasi kelakuan Bunga kedepan. Waktu berganti, musim semi bertemu dengan musim semi kembali. Tompel rutin mencurahkan uneg-unegnya tentang kemalasan Bunga, tapi tidak pernah sekalipun menegur Bunga baik langsung maupun sindiran. Tapi kabar 'Bunga si pemalas' sudah menjadi rahasia umum untuk semua orang, kecuali bagi si Bunga sendiri.

Di lain kesempatan, ternyata Bagus yang merupakan teman satu shift Tompel dan Bunga, ternyata memiliki gaya serupa dengan Tompel. Dia suka curhat kesana-kemari tentang Tompel yang suka bercanda kasar dan porno. Sehingga selama bertahun-tahun lamanya, Bunga tetap lah malas, Tompel tetap lah kasar dan porno, dan ternyata Bagus tidak sebagus namanya. Dia berlabel 'si urakan' karena sering tidak membereskan kembali peralatan kerja yg selesai dipakai.

Kejadian begitu bukan eksklusif terjadi pada Tompel, Bunga dan Bagus. Saya juga beberapa kali mengungkapkan rasa tidak setuju terhadap orang lain, namun sebatas dibicarakan pada banyak orang kecuali pada yang bersangkutan. Entah krn takut, karena posisi yang bersangkutan superior, atau krn alasan cinta damai. "Males ah, nanti jadi berantem.." Akhirnya sedikit demi sedikit rasa tidak setuju itu ditumpuk, ditumpuk, dan saya mengambil kesimpulan tentang seseorang. Kesimpulan bersama tentunya dan menjatuhkan label pada diri orang tersebut. Kejelekan ini makin hancur saat diperhatikan bahwa lingkungan juga melakukan hal yang sama. Sudah biasa saja kalau kita bicara tantang kejelekan orang lain, tanpa usaha membantunya menjadi lebih baik. Dan lumrah kalau punggung kita tidak pernah aman dilingkungan begitu.

What Goes Around, Comes Around
Dulu ada sebuah ilustrasi dari pemuka agama tentang gosip. Sekumpulan orang bersama-sama ngobrol dalam suatu arisan linkungan RT. Bahan perbincangannya tidak lain adalah kekesalan seorang ibu pada mertuanya yang dianggap mulai pikun, dan didiskusikan secara asyik. Pelan tapi progresif terkuak juga bahwa banyak ibu-ibu di lingkungan RT itu yang juga punya masalah dengan kelakuan si mertua yang suka berlaku ling-lung sehingga dianggap menggangu. Tiba-tiba ponsel si ibu berbunyi, dia terpaksa meninggalkan arisan lebih awal karena harus mengantar mertuanya kontrol ke RS. Saat si ibu itu sudah jauh dari pandangan mata, tetangga dalam arisan itu mulai membicarakan si ibu yg baru saja pergi. Sampai akhirnya tidak ada yg berani angkat kaki duluan karena takut menjadi topik pembicaraan berikutnya. Akhirnya mereka semua kelelahan dan bubar bersama-sama.

Gosip vs Diskusi
Bedanya ngegosipin orang dengan diskusi adalah, gosip hanya bicara tanpa aksi. Sedangkan  diskusi adalah mencari solusi bagaimana membantu orang lain, bukan cuma sekadar curcol tentang kekesalan. Karena masalahnya, pertama belum tentu "saya" benar saat kesal, kedua belum tentu "kita" benar. Bisa jadi kekesalan kita itu karena ego kita dan bisa jadi orang yang kita ajak bicara punya subjektivitas lebih sehingga membela ego kita. Hati-hati..

Saya juga masih berlajar bagaimana caranya membantu orang lain, bukan sekadar menggosipkan tentang kejelekannya. Kadang sindiran itu sulit dimengerti, apalagi sindiran dengan bungkus sarkasme. Semoga sedikit renungan ini bermanfaat utk menghalau mimpi buruk nanti malam.

PS: Ditulis bukan untak menghakimi orang lain.

Selamat sore!

Rabu, 06 Mei 2015

Budaya Jińg Nyèt Prët Taí

Sore ini dengerin rerun sebuah acara radio yg isinya nelpon orang terus ngasih tawaran ngaco gitu, ya tahu lah yah acara apa, yang gak tahu Google 'tawaran ngaco' deh. Jadi ceritanya disitu si penyiar pura-pura nawarin produk untuk mancungin hidung, tapi syaratnya aneh-aneh untuk bisa berhasil. Sudah kayak klenik aja yah. Nah diujung acara, pas si penyiar ngebuka kalau itu acara buat ngerjain doang, tiba-tiba si cewek mengeluarkan suatu nama hewan, dan diulang, dan diulang, dan diulang berkali-kali. Sampe akhirnya penyiarnya ngeluarin komentar, "Cantik2 ngomongnya kasar yah..."

Saya bukan orang yang berprinsip 'perempuan gak boleh ngomong kasar', 'perempuan harus feminim, anggun, lemah-lembut' atau 'perempuan seharusnya...' Bukan. Sudah sejak lama saya pikir perempuan itu punya hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki. Setara. Kecuali mereka punya kelebihan, diberikan tanggung jawab maha besar untuk melanjutkan keberlangsungan manusia melalui cobaan berat yang kita kenal sebagai melahirkan. Soal kata-kata yang terkenal dengan istilah 'ungkapan kebun binatang' itu sebenarnya saya pikir hanya masalah kebiasaan. Masalah? Ya. Karena tingkat retensi kita untuk hal buruk itu cepat sekali. Apalagi kalau sampai kelepasan diekspresikan di radio yg pendengarnya cukup banyak.

Kalau kebiasaan sepert itu dianggap biasa saja dan sejalan dengan pemikiran modern. Saya pribadi lebih suka disebut kuno, ortodox, konservatif dan istilah apa pun yang menggambarkan pemikiran jaman dulu bin purba. Biar saja harus ikut punah dengan orang-orang kolot. Namun, tetap tidak nyaman rasanya mendengarkan sumpah-serapah macam itu. Masih tidak biasa. Sangat disayangkan sebenarnya, karena sesungguhnya kalau mau belajar lebih banyak istilah dalam bahasa kita, banyak loh kata-kata lain yang mampu mensubstitusi ekspresi saat kita mengeluarkan kata-kata yang masih lazim dianggap kasar. Lagipula bagaimana dengan hak dari 'objek' yang kita gunakan itu? Kalau bisa menuntut, mugkin mereka akan memperkarakan ke meja hijau - main tenis meja misalnya, utk menyelesaikan perkara sepele ini.

Masalah sepele setaraf bercandaan jorok. Bercandaan yg saya anggap memiliki kasta paling rendah, lebih rendah dari bercanda tidak lucu (masih populer diwakili istilah jayus?). Mungkin dalam hal berkata-kata kasar itu bisa dianggap mewakili cara berekspresi 'rendahan'. Karena secara tidak langsung itu merendahkan kecerdasan Anda.

Tentu maaf kalau banyak yang tidak setuju dengan pemikiran prasejarah ini. Cuma rasanya tidak berlebihan kalau saya gunakan momen minum jus untuk curcol akan kegelisahan. Gelisah kalau dimasa depan kita mewariskan budaya 'jing nyet pret tai' ini. Khawatir kalau saya hidup cukup lama untuk melihat budaya itu berkembang. Prihatin bahwa ada waktunya nanti kebiasaan jelek ini dianggap biasa saja, bahkan diadopsi sebagai budaya.

Semoga kita bisa menjaga lidah kita dan terutama pita suara kita. Tidak takut kehilangan suara, lebih menakutkan suara yang kita keluarkan 'sumbang' bahkan 'menyakitkan'. Good evening :)


Selong, 6 Mei 2015

-dap-

Rabu, 29 April 2015

Fenomena Bunuh Diri Pasif

Bunuh diri itu salah, tapi kalau bunuh diri pasif?
Sadar atau tidak, kita banyak melakukan bunuh diri pasif setiap hari. Bukan hanya memiliki keinginan mati dalam alam bawah sadar kita. Ternyata banyak dari kita yang juga seorang masokis, jadi bunuh dirinya pelan-pelan sambil menikmati proses mati perlahan. Metode paling populer adalah dengan gaya hidup yang 'sakit'. Junk food, sedentary life style, bahkan stress negatif ditambah dengan su'uzon alias  berprasangka buruk (bener gak yah begitu tulisannya?), iri, dan penyakit 'hati' lainnya.

Sedikit demi sedikit kita menabung masalah di masa depan, yang tinggal tunggu sialnya saja, tiba-tiba berbagai penyakit menggerogoti. Baru deh nyesel karena sadar mulai proses mati yang menyakitkan. Tapi banyak loh yang sampai tahap itu pun masih masokis sejati. Contohnya pasien Diabetes Melitus tipe 1 yang sempat koma karena komplikasi. Udah susah-susah dirawat sampai stabil, eh pas stabil mulai lagi gak mau nyuntik insulin, makan sembarangan sampai gula darahnya chaiya-chaiya joget India.

Sebenarnya untuk menghentikan bunuh diri pasif itu sederhana. Langkah pertama tentu dimulai dengan kesadaran, lalu berlanjut dengan peng-ama-lan. Seperti kata Ade Rai disebuah acara talk show siang beberapa hari yang lalu, kalau kita mandi dua kali sehari gak ada yg muji kita disiplin, kenapa kalau kita olahraga tiap hari harus dibilang disiplin. Itu kan sudah semestinya dan sepatutnya. Sama halnya dengan, kenapa kalau kita membatasi kalori dibilang jaga makan, padahal kan sudah seharusnya asupan itu gak boleh lebay.

Yah tapi bukan berarti sah-sah saja berlaku ekstrim. Sebenarnya kebanyakan kita hidup sederhana saja sudah mendekati benar. Jadi gak perlu lagi program macam-macam, kecuali dalam kasus khusus. Selain badan, tentu kita harus menjaga pikiran kita benar. Gak perlu sempurna, karena malaikat saja ada yang tak bersayap, tak cemerlang dan tak rupawan seperti dalam lirik lagu dari Dee.

So, coba bangun dari penurunan kesadaran yang kita anggap biasa dan mulai STOP bunuh diri pasif.

Have a nice evening!


Selong, 29 April 2015

-dap-

Selasa, 28 April 2015

Keniscayaan dan Pilihan

"Janganlah kamu dihormati karena tua mu (senior), tapi dihormatilah karena ilmu mu."

Begitulah kalimat dari seorang residen ilmu kebidanan dan kandungan di tempat saya sedang melayani. Obrolan singkat tentang bagaimana profesor di pusat pendidikannya begitu menghargai dan mengayomi junior (anak maupun cucu didiknya).

Menjadi tua merupakan suatu keniscayaan, tidak selalu, karena akhir usia seseorang bukan ilmu pasti. Menjadi berilmu itu pilihan. Berjalan bersama dengan pengalaman dan kebijaksanaan, maka ilmu itu bisa menjadi berguna unttk orang banyak. Uniknya ilmu, dia merupakan milik kita yang sulit lepas, bisa dibilang bersaing dengan dosa. Melekat, lengket. Ilmu itu tidak terbatas. Bisa dibagi tanpa merasa kehilangan, namun buat orang yang senang mengejarnya, selalu merasa kekurangan. Ibarat dahaga yang bisa terpuaskan (tertutupi) sementara setelah 'minum', cepat atau lambat maka rasa haus itu akan datang lagi.

Bukan berarti kita tidak perlu menghormati sepuh, tapi kita mau menua 'gini-gini aja' atau mau menua lebih bermakna, semuanya terserah kamu...

Jalan sore keliling taman
Minum jus alpukat sendirian
Menjadi tua merupakan keniscayaan
Mau berilmu itu pilihan


Good evening!