Sore ini dengerin rerun sebuah acara radio yg isinya nelpon orang terus ngasih tawaran ngaco gitu, ya tahu lah yah acara apa, yang gak tahu Google 'tawaran ngaco' deh. Jadi ceritanya disitu si penyiar pura-pura nawarin produk untuk mancungin hidung, tapi syaratnya aneh-aneh untuk bisa berhasil. Sudah kayak klenik aja yah. Nah diujung acara, pas si penyiar ngebuka kalau itu acara buat ngerjain doang, tiba-tiba si cewek mengeluarkan suatu nama hewan, dan diulang, dan diulang, dan diulang berkali-kali. Sampe akhirnya penyiarnya ngeluarin komentar, "Cantik2 ngomongnya kasar yah..."
Saya bukan orang yang berprinsip 'perempuan gak boleh ngomong kasar', 'perempuan harus feminim, anggun, lemah-lembut' atau 'perempuan seharusnya...' Bukan. Sudah sejak lama saya pikir perempuan itu punya hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki. Setara. Kecuali mereka punya kelebihan, diberikan tanggung jawab maha besar untuk melanjutkan keberlangsungan manusia melalui cobaan berat yang kita kenal sebagai melahirkan. Soal kata-kata yang terkenal dengan istilah 'ungkapan kebun binatang' itu sebenarnya saya pikir hanya masalah kebiasaan. Masalah? Ya. Karena tingkat retensi kita untuk hal buruk itu cepat sekali. Apalagi kalau sampai kelepasan diekspresikan di radio yg pendengarnya cukup banyak.
Kalau kebiasaan sepert itu dianggap biasa saja dan sejalan dengan pemikiran modern. Saya pribadi lebih suka disebut kuno, ortodox, konservatif dan istilah apa pun yang menggambarkan pemikiran jaman dulu bin purba. Biar saja harus ikut punah dengan orang-orang kolot. Namun, tetap tidak nyaman rasanya mendengarkan sumpah-serapah macam itu. Masih tidak biasa. Sangat disayangkan sebenarnya, karena sesungguhnya kalau mau belajar lebih banyak istilah dalam bahasa kita, banyak loh kata-kata lain yang mampu mensubstitusi ekspresi saat kita mengeluarkan kata-kata yang masih lazim dianggap kasar. Lagipula bagaimana dengan hak dari 'objek' yang kita gunakan itu? Kalau bisa menuntut, mugkin mereka akan memperkarakan ke meja hijau - main tenis meja misalnya, utk menyelesaikan perkara sepele ini.
Masalah sepele setaraf bercandaan jorok. Bercandaan yg saya anggap memiliki kasta paling rendah, lebih rendah dari bercanda tidak lucu (masih populer diwakili istilah jayus?). Mungkin dalam hal berkata-kata kasar itu bisa dianggap mewakili cara berekspresi 'rendahan'. Karena secara tidak langsung itu merendahkan kecerdasan Anda.
Tentu maaf kalau banyak yang tidak setuju dengan pemikiran prasejarah ini. Cuma rasanya tidak berlebihan kalau saya gunakan momen minum jus untuk curcol akan kegelisahan. Gelisah kalau dimasa depan kita mewariskan budaya 'jing nyet pret tai' ini. Khawatir kalau saya hidup cukup lama untuk melihat budaya itu berkembang. Prihatin bahwa ada waktunya nanti kebiasaan jelek ini dianggap biasa saja, bahkan diadopsi sebagai budaya.
Semoga kita bisa menjaga lidah kita dan terutama pita suara kita. Tidak takut kehilangan suara, lebih menakutkan suara yang kita keluarkan 'sumbang' bahkan 'menyakitkan'. Good evening :)
Selong, 6 Mei 2015
-dap-
Weeew.. Kebetulan saya juga sedang prihatin dengan masalah kesopansantunan yg akhir2 semakin ditinggalkan generasi saat ini.. Sopan santun dianggap sebagainsesuatu yg terlalu kuno, sekedar basa basi tak penting, sebaliknya yg kasar atau 'gaul' lah yang dianggap keren.. Sungguh miris melihat hal yg begitu penting justru ditinggalkan saat inj
BalasHapus