Jumat, 06 Maret 2015

Gaya Begal Mental Ngemis

Sore ini saat sedang menarik tunai di mesin ATM di dalam toserba terkemuka, sebut saja Alfa Mart. Tiba-tiba beberapa orang anak bocah mengerumuni saya. Sontak saya bingung apa yang sedang mereka lakukan. Mereka dengan diam menunggu. Tampak beberapa diantaranya berbisik, sayup-sayup saya berusaha berpikiran positif saja kalau mereka mau melindungi saya saat mengambil uang di tabungan yang isinya tidak seberapa. Tapi otak saya yang cuma segini tidak bisa menghilangkan pikiran jangan-jangan ini modus baru pembegalan. Dikepung lalu dirampok saat uangnya keluar. Seketika tangan saya sigap meraih uang yang dimuntahkan oleh mesin, yang tega memaparkan saldo yang tiap bulan tidak mampu menutupi potongan biaya administrasi, lalu memasukkan lembaran uang ke dalam dompet. Dalam hati saya sudah siap kalau tiba-tiba sekelompok bocah tadi mengeluarkan pisau atau menyerang saya seperti kegilaan. Beruntung proses pengambilan tunai berjalan lancar dan dengan kekuatan bulan saya ngacir dengan kecepatan pengecut menjauhi bocah yang saya pikir komplotan begal.

Begal atau bahasa klasiknya penyamun, seperti tertulis dalam kisah-kisah jadul bin klasik. Mendengar kata begal baisanya membuat bulu kuduk merinding disko, minimal membuat kita sementara menjadi orang beriman yang berdoa jangan sampai menjadi korban. Beberapa begal klasik digambarkan bertopeng atau mengenakan cadar supaya tidak dikenali dalam aksinya. Yang lebih modern dan mulai naik daun akhir-akhir ini adalah begal yang dengan percaya dirinya merampok motor ditengah jalan tanpa berusaha mengaburkan identitasnya. Menurut cerita dari pembimbing internsip saya bahkan ada begal yang tidak mencuri, tapi menculik kendaraan. Modusnya motor korban diculik tengah malam, lalu beberapa saat kemudian korban akan mendapatkan surat kaleng untuk menebus motor yang diculik dengan sejumlah uang. Aneh tapi kreatif. Pasal apa yang bisa menjerat pelaku, jujur saja saya tidak paham. Yang pasti ada sebuah kampung yang dijuluki 'Kampung Maling' dimana penghuninya sebagian besar, berprofesi sebagai begal, rampok, jambret, sebut saja profesi lain yang bernaung dibawah ikatan kriminal nusantara.

Kembali pada kisah pengepungan bocah di ATM tadi. Jantung saya berdegup biasa teratur. Tangan saya tidak tremor. Namun pikiran saya kacau. Saya sempat mendengar dialog bocah itu yang intinya sudah tidak usah dikejar karena galagat saya tidak akan ngasih uang kepada mereka. Astaga! Ternyata mereka bukan mau merampas dengan paksa, namun mereka berusaha membuat hati saya tersentuh supaya bisa menyerahkan uang atau populer disebut ngemis.

Disitu kadang saya merasa sedih. Bagaimana anak-anak kecil dibiasakan meminta-minta. Teringat peristiwa beberapa minggu yang lalu. Saat itu saya dan temen sejawat sedang asyik ngemil kentang goreng dan McFlury di pinggir jalan sebuah mal, menantikan dijemput untuk makan malam Imlek. Dari kejauhan beberapa pasang mata kecil sudah mengintai mangsa yang membawa makanan. Entah itu botol air mineral, camilan, bahkan es krim bekas pun biasa kita akan di datangi oleh sekelompok bocah yang akan meminta-minta makanan yang kita pegang. Saat itu saya coba untuk tega dan tidak membiasakan anak sekecil itu mengemis makanan. Tidak pantas dan yang lebih miris lagi, saat saya memberikan setengah bungkus kentang goreng yang sedang asyik saya makan, mereka berjalan menjauh (jangan berharap ada ucapan terima kasih sebelumnya) dan menghampiri orangtuanya yang sedang kongkow-kongkow dipinggir jalan menikmati makanan bekas yang berhasil didapatkan oleh bocah-bocah tersebut.

What!? Tidak habis pikir tega-teganya membentuk mental minta plus maksa seperti itu. Saya lebih menghargai kalau mereka minimal datang dan bernyanyi sebelum meminta makanan, setidaknya ada sedikit usaha lebih daripada hanya menengadahkan tangan dan setengah memaksa. Modal keles... Membiasakan diri dengan pendidikan manja dan mental meminta seperti itu tentu akan membuat bangsa kita hancur. Sama seperti koas (dokter muda) yang bertanya tanpa membaca, bahkan disuruh membaca saja malah asal nyeletuk demi minta tentiran. Usaha dulu keles... Tidak ada makan siang yang gratis, bahkan keundangan makan siang pun tidak gratis. Sedikitnya menjadi hutang budi, sebanyak-banyaknya Anda dikasih makan udang dibalik batu, ada apa-apanya.

Entah kebetulan atau kesialan, kebiasaan jelek itu juga saya lakukan dibeberapa kesempatan. Sering teguran saya telan, bahkan tamparan nasihat juga menjadikan pendidikan baik untuk perkembangan mental. Secara natural mungkin kita senang disuapi. Masih terjebak nostalgia masa bayi. Tapi ingat, seiring berjalannya waktu kalau mau disuapi lagi, artinya kita boleh memilih antara menjadi lumpuh, mengalami penurunan kesadaran, mengidap kelainan kejiwaan atau patologi lainnya. Bagi kita yang punya sifat alami tidak mau mencoba dulu dan hanya mau segala yang instant, dengan bantuan lingkungan kita biasa berubah menjadi lebih independen dan berdikari. Nah bayangkan kalau kita sebagai individu yang sejatinya lembek (kebiasaan umum menyalahkan human nature), dibesarkan menjadi pribadi yang lenje. Apa kata dunia?

Saya tidak pantas menasehati orang. Masih belajar untuk berbagi kisah. Namun bisa dipakai sebagai penutup yang menjengkelkan, kalimat kesayangan dari konsulen ilmu bius (anastesi) kesayangan semasa pendidikan dulu. Yah beliau juga mengutip dari iklan pemanis berkalori rendah dipadu dengan lagu dari Armada Band. "Mau dibawa kemana kehidupanmu, yah terserah kamu. Kan sudah ada yah iklannya, manisnya hidup, kita yang tentukan." Semoga kisah diatas bisa bermanfaat. Have a day!


Selong, 6 Maret 2015
With Love,

-dap-

Kamis, 12 Februari 2015

Cuma Sebuah Surat Cinta: Untuk Mbak Hepi dan Kang Dai (Ceceran 2)

Sudah cukup lama aku berjauhan dengan blog kesayangan ku. Nampaknya akhir-akhir ini aku sibuk mengurus perut, atau lebih tepatnya lidah. Perut mah selalu cepat puas, yang penting diisi dan kenyang. Lidah yang selalu resek. Seorang sahabat dulu menggunakan istilah "memuaskan lidah". Kalau makanan yang kami santap tidak memuaskan lidah, dia selalu punya alasan untuk mencari menu lain lagi walaupun setelah kenyang. Nampaknya membahagiakan lidah tidak sesederhana membahagiakan perut ya.

Orang bilang bahagia itu mudah. Bohong! Itu cuma sebuah kalimat penghiburan. Bahagia itu tidak pernah mudah. Apalagi seiring bertambahnya usia. Mau bukti? Coba nonton film dibioskop yang isinya semua bocah-bocah kelas TK-SD dengan film animasi Megamind. Saya pernah mengalaminya beberapa tahun lalu. Ketika itu mahluk yang memadati studio sebagian besar adalah bocah-bocah mungil yang belum muncul adegan lucu saja mereka sudah tertawa. Mereka tertawa untuk tokoh berwarna biru, mereka tertawa untuk ikan di akuariumnya, mereka tertawa untuk apa pun. Sampai saya sulit membedakan, apakah benar adegannya lucu. Intinya selama film berlangsung saya jadi bertanya-tanya pada diri sendiri. Memang ternyata secara alami, beranjak dewasa artinya sesuatu yang bisa membuat kita tertawa semakin berkurang. Rasio. Si penjahat yang menyingkirkan hasrat tersenyum. Kita jadi lebih banyak berpikir daripada menikmati spontanitas. Semakin kita bertumbuh besar, logika lah yang mulai mengerogoti kebahagiaan kita. Harus kah ada alasan untuk bahagia?

Hari ini setelah sibuk seharian dalam mengejar kepuasan lidah, ketika kembali ke kamar saya menemukan sebuah paket yang terbujur kaku, diam dan tak bernyawa. Tampak alis mata ini merapat tanda kebingungan. Coba didekati, didengar dengan seksama. Sepertinya tidak berbahaya. Akhirnya saya bawa ke kamar untuk diotopsi. Pelahan saya lucuti 'pakaian' yang menyelimutinya. Menggunting pasti diantara lipatan untuk memastikan barang bukti tetap utuh. Lapis demi lapis disibak. Voila! Ternyata dilapisan pertama dari isi kardus tampak sebuah surat yang membuat saya sumringah.


Spontan saja bila saya kemudian berpikir bahwa bahagia itu tidak mudah, tapi Tuhan selalu mengirimkan bagi kita sumber kebahagiaan, tinggal bagaiman kita meyadari, menerima dan mensyukurinya. Karena memang bahagia tidak mudah, tapi buat saya, selalu ada alasan untuk bahagia dan selalu ada mereka yang mengisi penuh 'cawan kebahagiaan'. Thank you dear Nagisa, Ivon, Steffi, Sylvani, Ditta and Olin, for reminding me what happiness is about. My happiness is all of you. Tunggu pembalasan ku! Ha ha. What A Happy (mbak Hepi) Day (Kang Dai)!

Selong, 12 Februari 2015
With Love,

-dap-

Jumat, 06 Februari 2015

Berbuah Pada Musimnya

"Kiri kanan, ku lihat saja, banyak buah rambutan.. aan..
 Kiri kanan, kulihat saja, banyak buah rambutan."

Begitulah sepotong lagu dagelan yang diambil dari lagu anak-anak populer. Tapi begitulah faktanya kalau Anda saat ini berjalan-jalan di Lombok, khususnya Lombok Timur. Hampir disetiap sudut penjual buah, Anda bisa menemukan buah rambutan disusun bertumpuk rapi dan membuat ngiler pecinta buah ini; sekaligus merinding bagi yang geli dengan bulu-bulu yang berjajar rapi meliputi seluruh kulitnya, "Iiih geli deh. Kalo dikupasin mau deh. He he he" Selain rambutan, belakangan muncul juga buah yang peribahasanya membawa rejeki, tapi kalau terjadi betulan bisa jadi bencana. Ya, 'tertimpa durian runtuh'. Buah durian yang khas dengan tamengnya serta bau wangi (atau amis bagi sebagian orang) yang menyengat, memancing air liur (atau rasa mual bagi sebagian orang).

Teringat beberapa bulan yang lalu, setiap kali saya bangun tidur dan menyibak gorden kamar, terlihatlah buah seperti cendol berukuran raksasa, berwarna hijau dengan bau wangi sedikit masam. Musim mangga sudah berlalu. Baru saja pagi ini saya berjalan menelusuri balkon kamar kost dan tersadar bahwa 'cendol-cendol' yang menggantung indah dan memanggil-manggil untuk menyantapnya sudah bubar jalan. Tanpa aba-aba siap grak dan hormat kepada pembina sebelumnya. Itulah musim buah yang datang dan pergi tanpa kita sadari. Semua berjalan alami. Yang datang menggantikan ia yang pergi.

Kemarin malam, saya mendapatkan sebuah kabar duka. Seorang guru SMA saya berpulang ke sisi Tuhan YME. Masih jelas tergambar dalam memori ini bagaimana dulu ia masih berjalan dengan gagah dan sambil bercanda-canda dengan murid-muridnya. Sekejap mata, saya menyelesaikan rangkaian pendidikan dan beliau sudah tiada. Manusia lahir, bertumbuh dan berkarya, lalu harus mebubuhkan tanda titik diakhir kisah hidupnya.

Fenomena ini berjalan dengan alamiah. Selalu begitu tanpa kita intervensi. Akan tetap begitu walaupun kita berjuang untuk mencegahnya. Walaupun dengan teknologi kita bisa menyantap mangga atau rambutan atau durian setiap saat sepanjang tahun, namun tentu kita tidak bisa memaksa semua pohon memberikan hasil maksimal. Tidak bisa memaksa ia berbuah sepanjang hayat. Begitu juga dengan hidup kita. Ada saatnya kita meniti karir, maju dengan pasti, sampai suatu saat kita akan berhenti. Berhenti ditengah usia dan menikmati yang namanya pensiun atau bahkan kita tutup karya kita seiring dengan mata ini menutup selamanya. Tidak ada yang bisa memastikan, tapi kita bisa mengusahakan.

Dari dulu selalu dikatakan oleh nyokap saya, bedanya takdir dengan nasib adalah takdir pemegang saham mayoritasnya adalah 'alam' (diberi istilah Tuhan untuk yang percaya), namun nasib itu kita pemegang mayoritas keputusan. Kita bisa menjual seluruh hidup kita untuk bersantai, menghabiskan masa muda dan melewatkan musim panen. Disisi lain, kita bisa bersantai menikmati musim panen setelah bekerja keras disaat tubuh masih tegak dan otot muka masih kencang. Kita harus berani untuk mulai menghasilkan sedikit, daripada tidak menghasilkan sama sekali. Kita harus berani berjuang bermandi keringat, daripada meneteskan air mata penyesalan. Karena sejujurnya tidak perlu peramal untuk melihat masa depan kita. Lihat lah dari apa yang kita lakukan sekarang.

Sebatang pohon mungkin tidak bisa memilih akan tumbuh ditanah yang seperti apa. Namun kita dengan ternyata punya pilihan. Kita siapkan dasar yang kuat dengan dipupuk pengalaman dan pengetahuan. Kita jaga baik-baik pertumbuhan dengan kerja keras. Tentu suatu hari, kita tidak akan heran kalau yang kita tanam bertumbuh subur, lebat dan berbuah pada musimnya. Dan tidak seperti pohon yang tidak bisa memilih. Kita bisa memilih untuk menanam berbagai jenis, sehingga setiap musim kita mendapatkan hasil yang berbeda-beda.

Hidup kita ini dinamis. Jangan sampai kita terpaku pada suatu kenyamanan. Lupa kalau musim akan berlalu dan kita harus menanti kapan baru bisa kembali berbuah. Hidup ini juga pilihan. Tentunya hidup ini juga kesempatan. Bagaimana kita mengelola hidup ini agar tidak kecewa saat harus tutup buku dan mengembalikan kepemilikan atas aset jiwa ini pada Sang Empunya.

Selamat jalan bapak guru kami, Vitalis A. Daga, S. Pd. Semoga Bapak tersenyum melihat kami buah pendidikan mu dari sisiNya. Tuhan memberkati keluarga yang ditinggalkan.

Selong, 6 Februari 2015

-dap-

Jumat, 30 Januari 2015

Drama Raissa di IGD

Pagi ini ada kasus unik yang cukup lengket di benak saya. Sembari berjalan kaki pulang, cukup waktu untuk memikirkan bagaimana menceritakannya dan semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua. Untuk merayakan kembali menyalanya laptop kesayangan, saya akan coba share dengan sentuhan berbeda.

Perempuan usia sekitar 20 tahun-an, dibawa ke IGD sebuah rumah sakit dengan luka menganga di lengan bawah kanannya. Sebuah luka berbentuk seperti lilitan dengan tepian rapi, dengan dasar otot. Pergerakan tangan pasien masih baik. Nadi kuat serta tidak ada tanda gangguan dari persarafan seperti kesemutan. Pasien ditangani. Tiba-tiba datang seorang pria berbadan tegap, berpakaian olahraga dengan tulisan 'Polres' dipunggungnya. Ternyata kisah tragis ini bisa disusun kembali dengan bantuan Raissa.

Seorang laki-laki yang merupakan mantan suami dari perempuan itu mengalami 'sindroma terjebak nostalgia'. Dia mendatangi mantan istrinya untuk mengajak rujuk. "Aku takkan pernah bisa. Ku takkan pernah merasa, rasakan cinta yang kau beri.." Rasanya semua yang dirasa si suami tak berubah sejak istrinya pergi meninggalkannya. Walaupun demikian, si istri berusaha meminta maaf karena ia ingin sendiri disini.

Buat si perempuan, mantan suaminya itu bukanlah mantan terindah. Ia heran mengapa waktu itu suaminya tega memutuskan cintanya. Namun sekarang berusaha untuk kembali mengulang kisah cinta. Mau dikata apalagi, si istri merasa mereka tidak akan pernah satu. Ia sudah coba katakan kalau sang suami berubah. Meskipun bagi sang suami, yang telah dibuat mantan istrinya sungguhlah indah, buat dirinya susah lupa.

Segala bujuk rayu coba dikeluarkan oleh sang suami. "Ya aku mengerti, betapa sulit untuk kembali.. Dan mempercayai penipu ini sekali lagi." Namun si istri tetap pada keputusannya. "Kenapa baru kamu sadari setelah berlayar pergi? Akulah pemeran utama hati dan pemicu detak jantung mu.." Begitu balas si istri. Sang istri terpaksa mencabik hati dan membuat mantan suaminya terluka dan sakit.

Dengan isak tangis, si istri coba menjelaskan. Dirinya telah lama bertahan, demi cinta wujudkan sebuah harapan. Namun kini, semua rasa telah hilang. Dahulu sang suami adalah segalanya, namun sekarang ia mengerti. Apalah artinya menunggu?

Sang suami pun marah, lalu berusaha membacok sang istri. Dalam sekejap mata, harus diakui semua telah berbeda. Semua serba salah. Sang suami ditahan oleh kepolisian, namun dalam hatinya ia bertanya-tanya, "Apalagi salah ku? Apa lagi salah mu? Ku tak ingin kau terluka karena cinta.." Namun si istri merasa cukup. Ia sudah lelah menjalani semua hubungan yang serba salah. Sudah lupakan saja segala cerita antara kita.

Begitulah akhir dari kisah sedih ini. Sebuah pelajaran berharga tentang mencintai dan kehilangan. Hargailah yang masih ada, karena sekali ia pergi, belum tentu akan kembali.

Selong, 30 Januari 2015

-dap-

Senin, 26 Januari 2015

Tampak Gagah?

"Tapi buka dulu topengmu
Buka dulu topengmu
Biar ku lihat warnamu
Kan kulihat warnamu"

Topeng, Peterpan (Noah)


Siapa yang tidak mau tampil baik? Hampir semua orang pasti ingin tampil baik. Terutama jaman sekarang. Bisa dibilang penampilan adalah salah satu faktor yang menentukan penilaian orang pada diri kita. Pernah ada cerita seorang dokter spesialis kandungan yang disuruh memindahkan tabung oksigen ketika pertama kali datang ke ruang operasi sebuah rumah sakit, karena dipikir staf disana beliau adalah cleaning service ruangan. Begitu pentingnya arti penampilan dalam memberikan impresi pada ingatan orang, tidak heran jaman sekarang banyak klinik estetika bermunculan (dan banyak yang laku keras), pusat kebugaran menjamur di mana-mana (yang kebanyakan membernya datang bukan bertujuan untuk sekadar bugar, tapi ingin membentuk tubuh terlihat menarik).

Teringat kemarin ketika sedang menunaikan tugas berjaga di IGD, tiba-tiba datang lah serombongan orang. Tampak seorang pria dengan gaya rambut trendi, mengenakan anting hitam seperti yang dikenakan oleh seorang ilusionis terkenal Indonesia, memakai celana jeans berhiaskan rantai, intinya dia ingin memberikan kesan "anak gaul". Tapi pagi itu, alih-alih tampil gagah, nampaknya ia bisa dibilang tampil gagal (failed). Dia datang dengan dipeluk seorang lelaki (mungkin saudaranya) dan 'kerennya' dia menangis tersedu-sedu, meraung-raung di IGD.

"What the...?" umpat saya dalam hati.

Usut punya selidik, tentu dia tidak langsung saya jadikan tersangka setelah penyelidikan yang singkat (saya profesional dan menolak kriminalisasi), ternyata dia menangis karena merasakan ada binatang yang masuk dalam telinganya.

"Sakit dokter.. Cepetan tolongin.. Cepeeettt.." rengeknya dipelukan laki-laki yang saya masih tidak tahu sampai sekarang apa hubungan mereka.

Investigasi pun dilakukan sesuai protokol (kebiasaan) yang berlaku. Perawat yang sudah biasa menangani kasus benda asing di dalam liang telinga pun beraksi dengan senter layaknya seorang detektif mencari clue. Dilihat, diterawang, tanpa coba diraba-raba, saya dapat membaca atau tepatnya menghidu (kalau mencium pakai bibir, begitu kata dosen ilmu fisiologi saya di fakultas dulu) something fishy di sana.

"Dapet mas?" Tanya saya seraya maju mendekati kerumunan.

Lucunya orang yang berpenampilan seperti itu, yang kalau saya sedang jalan sendiri tiba-tiba dihadang dan diminta dompetnya saya akan percaya itu memang profesinya. Datang ke IGD di Minggu pagi yang ceria, dengan merengek sekaligus histeris, ditemani oleh ayah, ibu, adik, paman, bibi, dan keluarga besarnya, hanya untuk keluhan 'serangga masuk telinga'.

Setelah berhasil menerobos kerumunan 'penonton' yang notabene adalah keluarga yang harusnya bisa disuruh menunggu di luar ruang pemeriksaan itu, saya pun mengambil toples dan mengocok arisan di IGD, hmm, tentu bukan itu yang terjadi. Intinya dengan segala pengetahuan yang pernah diajarkan di stase THT tentang memeriksa telinga luar, saya coba mencari sumber kesakitan yang sangat itu.

"Tadi sebelum ke sini sempet dikorek-korek yah mas?" tanya saya seraya masih menganalisis liang telinganya.

Keluarga pun bercerita panjang tentang bagaimana usaha telah dilakukan untuk mengeluarkan benda itu di telinga. Yang ternyata bagi saya jelas malah melukai liang telinganya.

"Masih berasa ada yang bergerak-gerak?" Pasien itu pun menangguk perlahan. "Yah saya kasih obat dulu biar binatangnya mati yah, baru nanti kita coba keluarkan."

Saya berjalan menjauh, menginstruksikan terapi pada rekan kerja di IGD, lalu meninggalkan pria itu untuk melengkapi status rekam medik perawatannya. Sangat jelas ditelinga ini setelah saya selesai memberikan instruksi, pria itu kembali menangis dan meraung-raung. "Dokter cepetan.. Sakit banget.. Dokterrr.. Tolongin dong.."

Sempat tidak habis pikir bagaiman kalau pasien itu datang untuk melahirkan. Mungkin dia sudah ngamuk dan mencekik dokternya saat kontraksi rahim datang bertubi-tubi menuju kelahiran bayi.

Kita sering terjebak dengan penampilan seseorang. Cinta boleh saja datang pada pandangan pertama, tapi tentu hanya boleh berlanjut dengan gerilya pikiran dan perasaan untuk menentukan apakah orang tersebut memang seperti yang diperlihatkan penampilannya. Ingatlah bahwa deskripsi tentang penampilan di kamus bahasa Indonesia, sejauh saya periksa dalam proses pengetikan tulisan ini, semuanya masih dikategorikan sebagai ajektiva (kata sifat). Oleh karena itu yang penting dalam penampilan bukan bagaimana melakukan tipu daya mata sehingga tampak menarik, namun bagaiman bersifat (dan bersikap) benar-benar menarik. Jangan sampai alih-alih mau tampil gagah, malah jadinya gagap, kan benar-benar jadi gagal nantinya.


Selong, 26 januari 2015
Dari penulis yang masih mencoba tampil apa adanya,

-dap-

Sabtu, 24 Januari 2015

Curcol Tengah Malam: Bukan Insomnia

Malam kembali datang. Waktunya orang-orang menyelesaikan hari, memejamkan mata dan menikmati wangi bunga tidur. Tapi bagi beberapa orang, malam adalah saatnya bekerja setelah seharian berusaha memajukan jam tidur. Jaga malam. Sebuah keseruan sendiri dalam profesi yang saya sedang gulati (capeknya udah kayak bergulat setiap habis jaga).

Jam tidur saya sudah hancur sedari SMA. Dihancurkan oleh masa sekolah yang kejam. Hingga waktu me time itu cuma bisa dikejar malam hari. Terpaksa suka tidak cinta, terbentuklah kebiasaan buruk begadang, yang dilarang Bang Haji RI. Masalah timbul belakangan ketika tubuh tidak lagi mau kompromi. Setiap hari dia menyetel mode begadang, sampai suatu hari saya pikir ini insomnia, tapi ternyata bukan. Ini cuma jam biologis sedang rusuh. Galau antara ini waktunya tidur atau waktunya begadang. Kondisi hancur minang ini diperberat lagi semenjak memasuki dunia koas. Jaga malam bolak-balik, seringkali tidur tidak tentu dan tidak tentu tidur (kadang malah tentu tidak tidur). Yah sudah jadi risiko yang diketahui dari awal. Jadi saya tidak perlu kambing hitam untuk dibawa ke meja hijau, toh percuma mengajak kambing main tenis meja. Konsekuensi logis, sulit tidur akhirnya berefek samping sulit bangun juga.

Selain masalah sulit tidur (internal), ternyata gangguan eksternal juga sering datang. Bunyi message bersaut-sautan (yang sering kali tidak gawat atau darurat alias cito binti penting nan urgent), seakan memanggil ku untuk bangun dan melihat ada apa gerangan. Oh, ternyata cuma obrolan iseng. Entah sadar atau tidak , saya terkadang juga suka memancing obrolan bilamana sedang sulit tidur. Mungkin karma akibat mengganggu orang. Ujung-ujungnya karena keburu kumpul semua nyawa yang tadinya berhamburan saat hampir nyenyak, akhirnya kembali sadar penuh dan mulai lagi sulit tidur jilid 2. Alamak!

Seperti sudah dikatakan sebeumnya tentang konsekuensi logis. Memang masalah tidak selesai ketika bisa pindah ke alam mimpi. Bisa meloloskan diri kembali kedunia nyata itu juga bukan perkara sepele. Kadang malah seperti sudah harus menggocek melewati Pele, dihadang Ronaldo, lalu face-to-face dengan Messi. Saya kurang mengerti (dibaca: kagak paham sama sekali) soal bintang sepak bola, tapi nama-nama itu sepertinya sering dikumandangkan di siaran berita. Jadi bisa Anda bayangkan betapa sulitnya untuk bisa kembali ke alam nyata. Makin dasyat lagi, walaupun tanpa 'joget jemuran' seperti diacara Dasyat, kalau harus bolak-balik bangun seperti saat jaga malam. The second sleep is the most dangerous one. Bisa-bisa jatuh ke jurang nyenyak hingga overslept. Makanya kadang terpaksa memilih tidak tidur lagi ketika harus jaga malam di IGD.

Begitulah susahnya tidur dan susahnya bangun. Tapi saya bersyukur sejauh ini masih diijinkan bisa tidur, walaupun sampai memaksakan diri supaya mengantuk. Dan masih diberi kesempatan untuk bangun dari tidur, walaupun dengan tergopoh-gopoh. Karena betapa pun sulitnya proses yang harus dilewati. Toh pada akhirnya kita bisa menyerah berusaha tidur (dan akhirnya ketiduran juga); dan selalu pantang menyerah untuk bangun (sehingga tidak tidur selamanya). Jadi apa pun kondisi yang harus dihadapi, biar selalu dijalani dengam bersyukur. Menggerutu itu ibarat menunggu matahari terbit disisi barat, akhirnya pun harus puas melihatnya tenggelam setelah menunggu seharian. Lebih baik saya pasrah dan mencoba untuk tidur sekarang. Have a good night untuk Anda semua.. Sweet dream, but not too sweet, hati-hati diabetes nanti. He he he

Selong, 24-25 Januari 2015

-dap-

Jumat, 23 Januari 2015

Renungan Harian: (Tinja)uan Tentang Mati

"Kalau kau pernah takut mati, sama.."
Letto, Sampai Nanti, Sampai Mati

Sepotong lirik lagu yang pernah populer mengetarkan membran timpani telinga kita beberapa tahun yang lalu. Takut mati? Ya. Biar lidah bergoyang menyerukan tidak, biar pita suara bergerak buka-tutup menyuarakan tidak, dalam hati kecil pasti ada sedikit rasa takut mati. Kenapa harus takut mati? Bagi beberapa orang tentu lebih khawatir proses matinya. Entah akan sulit, dirawat berbulan-bulan sambil dipasangi selang disini-sana; entah akan mendadak, sampai tidak keburu membuat wasiat. Tapi buat beberapa orang yang percaya kehidupan setelah mati, mungkin jauh lebih mengerikan apa yang akan terjadi setelah kita dinyatakan lulus dengan gelar alm. (almarhum atau almarhumah, bisa keduanya?). Belum ada jawaban yang pasti selain reka-reka dan terka-terka apa yang terjadi setelah itu.

Sejak akhir tahun lalu peristiwa seputar kematian merajai berbagai pemberitaan. Dari hilangnya pesawat, sampai belakangan yang ramai adalah meninggalnya seorang pengusaha inspiratif nan nyentrik. Ada sebuah benang merah menarik yang bisa memotivasi kita. Coba kita sedikit bedah, tanpa berusaha menyiram luka dengan cuka.

Mati itu bukan urusan kita. Kecuali mungkin kita bunuh diri, yang tentunya cuma 1% dari peristiwa mati itu yang jadi urusan kita. Selebihnya soal kita mati, itu urusan orang lain yang masih hidup. Selanjutnya disaat yang bersamaan, kembali kalau Anda percaya kehidupan setelah mati, itu adalah urusan birokrasi akhirat. Peran kita sama sekali nihil. Kapan dan bagaimana Anda mati, itu hak preogratif 'sesuatu', yang bagi oragn percaya kita kenal dengan Sang Pencipta, bagi yang tidak masih ada faktor lain yang berperan. Lalu kenapa harus khawatir soal kematian? Toh setelah raga terbujur, arwah pergi, yang sibuk adalah yang masih hidup. Dokter yang sibuk meresusitasi, keluarga yang sibuk menangisi lalu harus bayar mahal dengan prosesi (pengurusan jenazah, dst), sampai kalau kita memilih mati prematur (bunuh diri) yang sibuk polisi.

Proses mati sendiri juga dengan kemajuan jaman hampir semua bisa dibantu dengan usaha paliatif (pa-li-a-tif n 1 cara, ikhtiar yg melunakkan, meringankan, mengurangi penderitaan; 2 obat yg dapat meredakan rasa sakit). Beberapa saat yang lalu sebuah artikel di Brithis Medical Journal menceritakan bahwa proses kematian yang paling baik (the best death) adalah terkena kanker. Disitu diceritakan kalau Anda bisa memiliki waktu untuk merefleksikan diri Anda, lalu mempersiapkan segalanya. Lebih baik daripada mati mendadak karena serangan jantung atau stroke perdarahan yang secara tiba-tiba memisahkan Anda dari keluarga (atau harta, tergantung Anda lebih sayang yang mana?). Namun, sekali lagi, masalah itu juga hampir bukan urusan kita. Kita tidak bisa memilih untuk terkena kanker saja daripada ditabrak pengemudi ngawur yang sedang memakai LSD misalnya.

Jadi sebenarnya cukup masuk akal bila dalam Alkitab tertulis di Matius 6 ayat 34 "Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." Toh mati itu kan masih hari besok. Nanti pada waktunya tiba, kita tinggal jadi pemeran utama yang tampil tanpa disibukkan dengan riasan apa yang mau dikenakan, tanpa pusing mau diantar naik apa, semua sudah ready tinggal pake dan tampil.

Jadi apa yang harus dikhawatirkan? Berkaca pada ramainya share berita di laman facebook kemarin. Yang harusnya menjadi perhatian itu, mati sebagai apa kita. Apa ini juga implikasinya besar, baik prospektif (maju seperti dalam maju tak gentar) maupun retrospektif (seperti dalam mundur-mundur cantik ala Syahrini). Ketika Anda mati sebagai orang biasa saja, walaupun prosesnya luar biasa, menjadi pemberitaan ramai, bahkan insiden nasional sekali pun; Anda tetap mati. Coba bandingkan dengan seorang nyentrik yang mati dengan cara biasa saja, menurut pemberitaan sakit tua akibat kondisi menurun pasca ditinggal istri. Tapi bisa bersaing mengisi segala pemberitaan. Bahkan quote nyentriknya mengisi banyak laman media sosial serta status BBM. Dan lebih luar biasa lagi, kalau kita tarik lebih jauh lagi, saat Paus Yohanes Paulus 2 meninggal beberapa tahun lalu; banyak orang yang sedih dan ikut menangis. Saya menjadi bertanya-tanya, apakah mereka sedih karena 'dia Paus' atau mereka sedih atas 'apa yang menjadikannya Paus'?

Sebenarnya lebih penting bagi kita untuk mempersiapkan diri. Karena faktanya, bagaimana pun pasti suatu saat kita akan berpulang. Istilah halus itu sebenarnya bisa di andai-andaikan (dengan otak saya yang sedikit ini), kalau dalam perjalanan pulang itu bekal kita tidak cukup, maka kita bisa kelaparan, atau kehabisan bensin, atau lebih parah lagi tidak kebagian tiket kereta menuju akhirat versi liburan, sehingga terpaksa menumpang kereta barang menuju akhirat siksaan. Dan omong kosong terbesarnya, mati kan masih besok-besok, sekarang saat hidup ini kita mau buat apa, supaya tidak menyesal besok. Sebenarnya kita berandil dalam menciptakan pentas kematian itu. Kita merusak kesehatan kita dengan hal tidak berguna misalnya, artinya pelan-pelan kita menimbun penyakit. Kita merusak citra kita dengan melakukan perbuatan tercela, nantinya kita mati dicela-cela. Kita hidup biasa-biasa saja, hidup untuk diri sendiri, saat mati siapa yang peduli? Bisa jadi Anda ditangisi pasangan cuma sekadar menurunnya pendapatan keluarga. Bisa jadi Anda ditangisi sahabat cuma sekadar kehilangan teman yang suka traktir-traktir.

Pada akhirnya, hal yang bukan urusan kita itu, sebenarnya sesuatu yang sangat berurusan dengan kita. Bagaimana Anda hidup, akan menjadi gambaran apa yang terjadi setelah Anda mati; sebaliknya bagaimana Anda mati, bisa memberikan gambaran bagaimana Anda hidup. So, mari sama-sama kita buang sejenak pikiran soal mati, yang penting adalah bagaimana kita hidup (untuk mempersiapkan mati). Karena mati toh cuma proses pendek yang harus dilalui. Proses panjangnya adalah ketika kita hidup dan memberikan yang terbaik untuk kehidupan.

Selong, 23 Januari 2015
Dari yang mencoba tidak takut mati lagi,


-dap-