Kamis, 15 Januari 2015

Cuma Sebuah Surat Cinta (Ceceran 1)

Dia yang ku lihat dari jauh
Dia yang ku kagumi tanpa perlu basa-basi
Dia yang walaupun ada versi berbeda, tidak kutemukan imitasi yang menyerupai asli
Dia 'Donat'

Yang biar beredar inovasi bentuk kotak, segitiga
Bahkan ada primadona blesteran yang lebih elok bernama Cronut
Tapi untuk ku, yang sah dihati, tetap diri mu
'Donat' yang bulat, dengan bolongan ditengahnya

Memang kamu tidak sempurna
Tidak selalu terlihat bulat purnama
Seringkali hanya tampil sederhana
Bukan mewah berwarna kuning keemasan

Tak ku pungkiri, kau memberi sejuta rasa
Manis yang terbalur dengan krim coklat
Kadang tampil diam bersahaja dengan balutan gula bubuk
Sering juga ku rasa kau bersemangat, meradang merah dengan abon spicy
Ku suka diri mu apa adanya

Sekarang kita jauh terpisah
Makin lebar palung yang harus dilewati
Samudera luas yang cuma bisa diraih lewat mimpi
Percayalah, aku tetap mencintai mu
Walau aku yakin kau tidak memikirkan ku di sana

Ku titip salam rindu, dengan sebait tulisan ini
Dari ku, yang masih menyayangi mu

Selong, 15 Januari 2015
Untuk 'Donat' satu-satunya,

-dap-

Rabu, 14 Januari 2015

Mengapa Menulis? (Penggalan 1)

Saya selalu ragu untuk memulai sebuah tulisan. Entah karena begitu banyak ide yang keburu kabur dan tidak terkejar, bahkan tulisan utuh yang setelah dibaca ulang rasanya kurang pantas untuk dibagi dengan orang lain sehingga terpaksa dilepaskan. Kadang terlalu banyak kekesalan yang ditumpahkan, sehingga terkesan terlalu kasar. Tapi ada kalanya banyak kecintaan yang terlalu manis, sehingga memunculkan rasa mual. Akhirnya, seorang teman yang coba mendorong saya untuk memulai menulis, dengan sedikit nyali mulai berkisah dan membebaskan benak saya menuntun jari ini bekerja.

Menulis itu masalah sepele. Bisa asal jadi, tapi tentu tidak menarik. Bisa terlalu serius, tapi tidak bisa dinikmati. Bisa santai, tapi menusuk dalam. Ya menulis itu bisa membuat kita dipuja, tapi bisa juga menabung dosa. Tergantung tujuan tulisan, biar pembaca yang jadi hakimnya.

Lalu mengapa menulis? Karena tidak semua hal bisa diungkapan dengan kata-kata. Curahan hati terdalam yang sulit diludahkan apalagi dimuntahkan. Sering terasa lebih ringan jika diobral tanpa peduli siapa yang membaca, Biar orang meninggalkan komentar, bahkan sampai huru-hara. Tapi kita pegang kendali, membubarkan massa, bahkan menghilangkan jejaknya. Bila dalam berkata terkadang lidah bergerak lebih cepat daripada nalar bekerja. Dalam tulisan Anda bisa meralat dan menimbang ulang, bahkan sampai setelah dipublikasikan. Tulisan tidak harus fokus, menuju satu sasaran. Lain hal bila kita tiba-tiba bermonolog di ruang publik. Bisa jadi disangka sedang kumat gaduh-gelisah. Kita bisa bebas mencurahkan isi hati, tanpa perlu diadili oleh senyum beribu makna, maupun tatapan pura-pura tulus. Layaknya alergi yang baru muncul belakangan. Kita nikmati dulu setiap bait, sampai mulai harus menggaruk dan babak belur karena bengkak.

Tulisan juga menjadi otentik. Tidak terbantahkan. Biar jadi pengingat juga. Ejekan pada orang lain yang suatu hari menjadi tamparan untuk diri sendiri. Motivasi yang cuma sekadar teori, tapi berhasil dipraktikkan  orang lain. Bukti tidak terbantahkan tentang ketulusan yang sudah berubah, idelisme yang mulai bergeser, dan istana kebohongan yang akhirnya runtuh.

Tidak ada kisah yang terlalu panjang dalam tulisan. Terserah pembaca Anda mau meluangkan seberapa banyak yang mereka punya. Kita bisa bercerita panjang lebar bertele-tele. Menyusun plot-plot perlahan menjadi klimaks. Tentu boleh dibuat ringkas dan bersahaja. Walaupun kadang sejujurnya karena kehabisan ide. Intinya Anda boleh jujur mengeluarkan berapa yang Anda punya. Bisa cicilan bebas bunga. Tidak ada beban untuk batal kreditnya, lalu dihapus dari draft.

Hari ini meledak-ledak dengan kekesalan. Besok bermanja-manja merindukan seseorang. Boleh. Semua benar. Asal dibentengi dengan penghormatan pada orang lain. Harusnya Undang-Undang bukan masalah dan hukum manusia tidak jadi soal.

Jadi sebenarnya yang jadi masalah bukan kenapa menulis, tapi kenapa tidak menulis? Ingat, dalam tulisan kita bebas menyelipkan sedikit misteri dan secuplik rahasia, dan mereka bisa bebas menerka. Bukan urusan kita. Yang penting sudah lega.

Kisah omong kosong belaka,
Selong, 14 Januari 2015

-dap-

Senin, 12 Januari 2015

Hidup Itu Dinamis: Dari Mafia Sampai Petani

Gili Trawangan, Lombok, NTB, 31 Desember 2014 

"Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukkan dunia.
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya"

Laskar Pelangi, Nidji

Kalau menurut liriknya Nidji, mimpi itu epik banget. Kunci untuk menaklukkan dunia, harus dikejar tanpa lelah. Buat saya pribadi, mimpi itu sesuatu yg absurd. Kosong. Karena mimpi yang sering dikaitkan dengan cita-cita itu selalu berubah dinamis dalam hidup ini,

Banyak pembaca yang mungkin ga tau seperti apa penulisnya. Setidaknya mereka menerka-nerka, main kucing-kucingan dari hasil karya si penulis. Tapi saya akan coba memulai tulisan-tulisan saya, yang mungkin akan jadi kontroversi, polemik atau bahkan menggelitik untuk diskusi, dengan autobiografi sekelibat. Biar sebelum orang menyeret saya ke meja hijau, sambil divonis rajam tanpa diadili, karena hakimnya sibuk cuci tangan dan kaki lalu kumur-kumur sendiri. Saya akan coba mulai mendongeng, harapannya, Anda bisa mengerti kalau saya ini tidak sesederhana tulisan saya, Bahwa ujung jari saya kadang lebih tajam dari lidah yang cuma diam, dan lebih jahat dari senyum ketika saya tidak suka. Kita mulai menguliti dari hati terdalam, dari cita-cita luhur atau kabur? Dongeng ini saya mulai...

Sebagian besar diri kita, kalau masuk TK yang benar, pasti minimal sekali dalam hidupnya ditanya oleh guru TKnya dengan pertanyaan yang mainstream banget, "Kalau sudah besar, mau jadi apa?" Sebenarnya apa sih tujuan si guru bertanya soal cita-cita atau mimpi kita? Apakah karena kebetulan sudah dipopulerkan oleh Boneka Susan dan Kak Rai dalam lagu mereka? Atau memang segitu pentingnya cita-cita itu sampai harus rutin discreening secara tidak disengaja.

Bayangkan gimana unyunya air muka guru saya, kalau dulu saya coba jujur dan bilang, "Ga tau." Atau mungkin saat sudah beranjak lebih besar saya jawab santai, "Mau jadi silent assassin atau agen rahasia." Mungkin dalam hati si guru bisa sumpah-serapah, iki anak setan, bakar dia, tusuk jantungnya dengan palang kayu atau jejelin bawang supaya muncul taringnya. Hehe.

Jadi alih-alih jujur, saya selalu coba dengan jawaban universal yang mematikan pembicaran, 'Gak tau'. Dan untungnya mimpi itu dinamis seiring kita membesar dan mengobes (menggendut -dic). Kemarin saat jaga saya masih bermimpi untuk jadi ahli bedah, ngubrek-ngubrek dan buang-buang usus orang yang saya pikir sakit dan kata buku harus dibuang (itu yang dirasa betul dikerjakan sekarang). Pagi ini saya menemukan diri saya sedang makan roti slai Nut*lla kado dari teman-teman saya, sambil baca bagaimana cara menanam sayuran di pot. "Jadi petani asik yah!" begitu hati kecil saya bersorak, sambil senyum simpul iseng bertanya pada kepribadian yang sedang mendominasi ini, "Masi mau jadi ahli bedah atau jadi petani saja, seperti saran dosen Biologi di Fakultas Kedokteran dulu?"

Kesimpulannya? Silahkan Anda simpulkan sendiri untuk saat ini. Karena seharusnya kata pengantar itu kan bagian yang dibuang saat Anda mulai membaca buku seseorang. Sebuah bagian yang harusnya penting, tapi berapa persen manusia yang peduli untuk mulai membaca? Padahal penulis biasanya menyelipkan sebaris maksud dan sepenggal tujuan dari buku itu. Harusnya isi buku itu bisa crystal clear setelah membaca, atau bahkan kata pengantar yang powerful bisa membuat pembaca tutup buku dan menaruh kembali ke rak (karena buku yang covernya unyu dengan judul romance itu isinya kisah sedih nan galau).

Selamat bertualang dalam pikiran saya dan semoga tersesat sampai ditujuan.


Selong, 12 Januari 2015

-dap-

Senin, 05 Januari 2015

Kisah Hanyutnya Si Bolang




















Kisah ini based on true story dengan sedikit bumbu ala chef Dicky sehingga jadi fiksi. Sebuah karya yang mencoba merangkai ingatan horor saya saat kemarin hampir hanyut, saat snorkling di Gili Trawangan/Gili Air, dan hilang dari peredaran. I kinda think this as self medication. Supaya saya gak sampe kena post traumatic stress. Dan melalui kisah ini saya coba mengagumi bahwa God still loves me despite what have I done lately (either I did something bad, or I've done nothing for God).

Diposting dengan rasa terima kasih pada mas-mas yang nolongin saya kemarin, sori kita tidak sempat berkenalan lebih jauh bahkan sekadar nama, dan terima kasih sudah diajak naik private boat :)