Selasa, 28 April 2015

Keniscayaan dan Pilihan

"Janganlah kamu dihormati karena tua mu (senior), tapi dihormatilah karena ilmu mu."

Begitulah kalimat dari seorang residen ilmu kebidanan dan kandungan di tempat saya sedang melayani. Obrolan singkat tentang bagaimana profesor di pusat pendidikannya begitu menghargai dan mengayomi junior (anak maupun cucu didiknya).

Menjadi tua merupakan suatu keniscayaan, tidak selalu, karena akhir usia seseorang bukan ilmu pasti. Menjadi berilmu itu pilihan. Berjalan bersama dengan pengalaman dan kebijaksanaan, maka ilmu itu bisa menjadi berguna unttk orang banyak. Uniknya ilmu, dia merupakan milik kita yang sulit lepas, bisa dibilang bersaing dengan dosa. Melekat, lengket. Ilmu itu tidak terbatas. Bisa dibagi tanpa merasa kehilangan, namun buat orang yang senang mengejarnya, selalu merasa kekurangan. Ibarat dahaga yang bisa terpuaskan (tertutupi) sementara setelah 'minum', cepat atau lambat maka rasa haus itu akan datang lagi.

Bukan berarti kita tidak perlu menghormati sepuh, tapi kita mau menua 'gini-gini aja' atau mau menua lebih bermakna, semuanya terserah kamu...

Jalan sore keliling taman
Minum jus alpukat sendirian
Menjadi tua merupakan keniscayaan
Mau berilmu itu pilihan


Good evening!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar