"Gue udah ngomongin ini sama sepuluh orang, tapi doi gak sadar juga sih.. "
Acap kali kita, entah sengaja maupun tidak, salah mengkomunikasikan masalah. Seringnya masalah pribadi menjadi gosip yang melebar bahkan menular menjadi kebencian bersama. Entah merupakan sebuah gaya hidup atau sudah jadi kebiasaan, bila kita tidak menyetujui perilaku atau kata-kata seseorang, kita malah mengkomunikasikan dengan orang lain. Bukan bicara langsung, membuka wacana diskusi dengan orang yang bersangkutan. Misalnya kita tidak suka dengan statement seseorang, tapi alih-alih membicarakan dengan yang bersangkutan, dengan segala alasan, kita malah membuka pintu gosip bersama orang lain.
"Ya kan, gue gak mau ribut sama doi.."
Sebegitu jeleknya kah peer review? Budaya anti kritik dan anti masukan itu sepertinya sudah memasuki diri kita. Tanpa sadar kita sangat resisten dengan koreksi dari orang lain, sehingga teguran itu malah bisa diartikan sebagai pengibaran bendera perang. Jadi supaya aman, kita ekspresikan saja kekesalan dengan menceritakan pada si A. Bila tidak puas, bisa diceritakan lagi ke si B, C, D dan seterusnya, sampai bila ditelusuri ke ujung maka sudah banyak tambahan penyedap cerita. Sinetron banget! Membawa slogan perdamaian malah kita jadi menggosipkan orang lain tanpa membantu orang itu dalam evaluasi diri. Sah-sah saja minta pendapat apakah kekesalan kita berlebihan? Sangat halal juga minta pendapat bagaimana solusinya? Tapi yang jadi soal, kita menjalankan solusi, yang kita anggap selalu benar, tanpa menggandeng orang yang bersangkutan.
Gosip Berantai
Suatu hari di sebuah tempat kerja Tompel mengadu pd temannya tentang kemalasan seorang rekan kerja satu shift, yang kita sebut saja Bunga. Seribu satu kisah pendukung argumen kemalasan Bunga diutarakan oleh Tompel. Setelah penjabaran kisah secara panjang lebar, Tompel dan teman-temannya setuju bahwa tindakan Bunga itu salah. Mereka pun melakukan analisis macam-macam sehingga diskusi menjadi lebih hangat. Diskusi diakhiri dengan masukan oleh seorang temannya untuk mengevaluasi kelakuan Bunga kedepan. Waktu berganti, musim semi bertemu dengan musim semi kembali. Tompel rutin mencurahkan uneg-unegnya tentang kemalasan Bunga, tapi tidak pernah sekalipun menegur Bunga baik langsung maupun sindiran. Tapi kabar 'Bunga si pemalas' sudah menjadi rahasia umum untuk semua orang, kecuali bagi si Bunga sendiri.
Di lain kesempatan, ternyata Bagus yang merupakan teman satu shift Tompel dan Bunga, ternyata memiliki gaya serupa dengan Tompel. Dia suka curhat kesana-kemari tentang Tompel yang suka bercanda kasar dan porno. Sehingga selama bertahun-tahun lamanya, Bunga tetap lah malas, Tompel tetap lah kasar dan porno, dan ternyata Bagus tidak sebagus namanya. Dia berlabel 'si urakan' karena sering tidak membereskan kembali peralatan kerja yg selesai dipakai.
Di lain kesempatan, ternyata Bagus yang merupakan teman satu shift Tompel dan Bunga, ternyata memiliki gaya serupa dengan Tompel. Dia suka curhat kesana-kemari tentang Tompel yang suka bercanda kasar dan porno. Sehingga selama bertahun-tahun lamanya, Bunga tetap lah malas, Tompel tetap lah kasar dan porno, dan ternyata Bagus tidak sebagus namanya. Dia berlabel 'si urakan' karena sering tidak membereskan kembali peralatan kerja yg selesai dipakai.
Kejadian begitu bukan eksklusif terjadi pada Tompel, Bunga dan Bagus. Saya juga beberapa kali mengungkapkan rasa tidak setuju terhadap orang lain, namun sebatas dibicarakan pada banyak orang kecuali pada yang bersangkutan. Entah krn takut, karena posisi yang bersangkutan superior, atau krn alasan cinta damai. "Males ah, nanti jadi berantem.." Akhirnya sedikit demi sedikit rasa tidak setuju itu ditumpuk, ditumpuk, dan saya mengambil kesimpulan tentang seseorang. Kesimpulan bersama tentunya dan menjatuhkan label pada diri orang tersebut. Kejelekan ini makin hancur saat diperhatikan bahwa lingkungan juga melakukan hal yang sama. Sudah biasa saja kalau kita bicara tantang kejelekan orang lain, tanpa usaha membantunya menjadi lebih baik. Dan lumrah kalau punggung kita tidak pernah aman dilingkungan begitu.
What Goes Around, Comes Around
Dulu ada sebuah ilustrasi dari pemuka agama tentang gosip. Sekumpulan orang bersama-sama ngobrol dalam suatu arisan linkungan RT. Bahan perbincangannya tidak lain adalah kekesalan seorang ibu pada mertuanya yang dianggap mulai pikun, dan didiskusikan secara asyik. Pelan tapi progresif terkuak juga bahwa banyak ibu-ibu di lingkungan RT itu yang juga punya masalah dengan kelakuan si mertua yang suka berlaku ling-lung sehingga dianggap menggangu. Tiba-tiba ponsel si ibu berbunyi, dia terpaksa meninggalkan arisan lebih awal karena harus mengantar mertuanya kontrol ke RS. Saat si ibu itu sudah jauh dari pandangan mata, tetangga dalam arisan itu mulai membicarakan si ibu yg baru saja pergi. Sampai akhirnya tidak ada yg berani angkat kaki duluan karena takut menjadi topik pembicaraan berikutnya. Akhirnya mereka semua kelelahan dan bubar bersama-sama.
Gosip vs Diskusi
Bedanya ngegosipin orang dengan diskusi adalah, gosip hanya bicara tanpa aksi. Sedangkan diskusi adalah mencari solusi bagaimana membantu orang lain, bukan cuma sekadar curcol tentang kekesalan. Karena masalahnya, pertama belum tentu "saya" benar saat kesal, kedua belum tentu "kita" benar. Bisa jadi kekesalan kita itu karena ego kita dan bisa jadi orang yang kita ajak bicara punya subjektivitas lebih sehingga membela ego kita. Hati-hati..
Saya juga masih berlajar bagaimana caranya membantu orang lain, bukan sekadar menggosipkan tentang kejelekannya. Kadang sindiran itu sulit dimengerti, apalagi sindiran dengan bungkus sarkasme. Semoga sedikit renungan ini bermanfaat utk menghalau mimpi buruk nanti malam.
PS: Ditulis bukan untak menghakimi orang lain.
Selamat sore!
Selamat sore!