Sebelum Anda pusing membaca kesesatan berpikir diatas. Ada sebuah keruwetan yang masih menjadi ganjalan saya meninggalkan departemen yang konsulennya asik-asik ini. Kalau ilmu penyakit saraf memiliki istilah khusus yang terdaftar di KBBI sebagai neurologi, ilmu kesehatan kulit nama gaulnya di KBBI dermatologi; tapi ilmu mata ini ternyata tidak terdaftar sebagai oftalmologi maupun ophthalmologi atau apa pun namanya. Padahal alat pemeriksaannya tercantum dengan nama oftalmoskop, bahkan sebuah penyakitnya, yang terdengar seperti kemampuan khusus Prof. Xavier di serial X-Men, yaitu xeroftalmia, yang bermakna n Dok penyakit mata krn kekurangan vitamin A (konjungtiva dan kornea mata menjadi kering); pun terdaftar namanya di KBBI. Trus, salah dokter spesialis mata gitu? Salah Perhimpunan Dokter Mata Indonesia gitu? Atau salahnya Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan? Atau salah cetak KBBI? Itu sudah diperiksa versi online lho tapi.
Menjunjung tinggi prinsip problem solving versi saya (soalnya saya gak mendalami teori formalnya) yang intinya tidak menekankan pada siapa yang salah, namun lebih kepada mencari cara memperbaiki apa yang salah dan mengapa terjadi kesalahan; maka kita biarkan saja Pak Anies Baswedan dan jajarannya yang nanti akan memperbaiki masalah penamaan tersebut (semoga blog saya dibaca pak menteri yaowoh). Lagipula buyut dari Britney Spears yaitu kakak Shakespear sendiri katanya di kisah Romeo dan Juliet (Romeo and Juliet. Act II. Scene II) mengungkapkan "What's in a name? that which we call a rose. By any other name would smell as sweet..." (Terjemahan kira-kiranya: Apalah artinya sebuah nama? Yang kita panggil sebagai mawar, dengan nama yang berbeda akan tetap berbau wangi...) Kalau dipikir-pikir apanya, apanya dong; kalimat kakak Shakespear itu betul juga. Kebetulan saja di sini ia dikenal sebagai 'mawar', padahal kalau Anda cari ke negara sana ia dikenal sebagai 'rose', bahkan kalau ke kuil Shaolin di Tiongkok sana, biksu-biksunya mungkin lebih kenal dia sebagai cici Méiguī (玫瑰). Sejalan dengan itu, coba saja kita melakukan penipuan masal pada anak-anak TK dengan mengajarkan pada mereka bahwa si mawar tadi nama aslinya adalah tokai bin feses yang kita sebut saja sebagai tinja; bahkan dengan begitu pun 'tinja versi penipuan masal' itu akan tetap berbentuk cantik dan berbau wangi. Jadi sebenarnya polemik penamaan departemen mata itu sama sekali gak usah dipikirin. Sing penting kan bisa meningkatkan derajat kesehatan masyarakat khususnya dalam bidang kemataan (atau mata-mata, eh permata, yah begitulah Anda pasti paham).
Walaupun penamaannya masih membingungkan, dokter spesialis mata itu bisa jadi salah satu dokter paling bugar. Bayangkan saja hampir lebih dari setengah pasien yang ditangani mengeluhkan 'mata kabur'. Kalau kita cermat sedikit, keluhan pasien itu saja keliru. Yang kabur kan penglihatannya, bukan matanya. Sehingga dokter spesialis mata itu sering kerjanya ngejar-ngejar penglihatan itu, supaya bisa ditangkap dan pasiennya gak jadi buta.
Seringkali juga selama mencicipi bagian ini mas ahli optometri, yang lebih dikenal sebagai ahli nyari ukuran kacamata (itu lho yang biasa di optik ngetes mata kita untuk mendapatkan ukuran lensa kacamata yang jitu. Kebayang kan?), yang tugasnya mengukur visus (daya lihat) kita selalu punya pertanyaan rutin pada pasien yang mencoba kacamata. "Coba bapak/ibu bangun, terus jalan lihat lantai pusing gak?" Yaelah mas, cuma lihat lantai mah pasiennya gak gitu pusing, coba suruh lihat isi dompetnya sehabis beli kacamata baru. Nah itu baru pusing mereka. Apalagi dibulan tua, pas belum gajian mereka. Disitu kadang mereka merasa pusing deh.
Bicara soal pusing, keluhan yang sering membuat dokternya pusing adalah 'mata suka berair'. Bahkan pernah sekali pak dokter iseng mengkonfirmasi. "Suka berair? Kalau suka ya sudah, gak usah diobati." Pasien perempuan paruh baya itu tampak bingung dan mengulangi keluhannya, "Iya ini mata anak saya suka berair." Sejenak percakapan itu diulang-ulang, sehingga kalau saya ketik lengkap mata kita bisa berair juga membacanya. Singkat cerita si ibu akhirnya sadar gurauan sekaligus koreksi dari dokternya. "Sering, Dok. Matanya sering berair. Gak suka," katanya sambil terus tertawa kegelian. Pesan dari konsulen mata tersebut, panggilan sayang kami untuk spesialis (terutama yang hobi ngajarin sih), boleh bercanda sewajarnya supaya pasien tidak terlalu khawatir memikirkan penyakitnya. Andai bercandaan saya bisa juga membantu mengurangi kekhawatiran pasien dalam masalah pembayaran biaya berobat, khususnya yang belum punya BPJS.
Demikian sedikit pengalaman selama 'main mata' di masa internsip yang bisa saya tuangkan. Semoga bisa menjadi penghiburan bagi kita semua agar tidak terlalu pusing memikirkan carut-marut dunia ini. Ingat saja mata adalah jendela hati, bila ingin mengambil hati orang jangan congkel matanya karena kalimat barusan cuma kiasan. Mohon maaf bila ada tulisan yang kurang berkenan dan mohon periksa mata Anda bila ada tulisan yang kurang terbaca. Have a nice day!