Rabu, 29 April 2015

Fenomena Bunuh Diri Pasif

Bunuh diri itu salah, tapi kalau bunuh diri pasif?
Sadar atau tidak, kita banyak melakukan bunuh diri pasif setiap hari. Bukan hanya memiliki keinginan mati dalam alam bawah sadar kita. Ternyata banyak dari kita yang juga seorang masokis, jadi bunuh dirinya pelan-pelan sambil menikmati proses mati perlahan. Metode paling populer adalah dengan gaya hidup yang 'sakit'. Junk food, sedentary life style, bahkan stress negatif ditambah dengan su'uzon alias  berprasangka buruk (bener gak yah begitu tulisannya?), iri, dan penyakit 'hati' lainnya.

Sedikit demi sedikit kita menabung masalah di masa depan, yang tinggal tunggu sialnya saja, tiba-tiba berbagai penyakit menggerogoti. Baru deh nyesel karena sadar mulai proses mati yang menyakitkan. Tapi banyak loh yang sampai tahap itu pun masih masokis sejati. Contohnya pasien Diabetes Melitus tipe 1 yang sempat koma karena komplikasi. Udah susah-susah dirawat sampai stabil, eh pas stabil mulai lagi gak mau nyuntik insulin, makan sembarangan sampai gula darahnya chaiya-chaiya joget India.

Sebenarnya untuk menghentikan bunuh diri pasif itu sederhana. Langkah pertama tentu dimulai dengan kesadaran, lalu berlanjut dengan peng-ama-lan. Seperti kata Ade Rai disebuah acara talk show siang beberapa hari yang lalu, kalau kita mandi dua kali sehari gak ada yg muji kita disiplin, kenapa kalau kita olahraga tiap hari harus dibilang disiplin. Itu kan sudah semestinya dan sepatutnya. Sama halnya dengan, kenapa kalau kita membatasi kalori dibilang jaga makan, padahal kan sudah seharusnya asupan itu gak boleh lebay.

Yah tapi bukan berarti sah-sah saja berlaku ekstrim. Sebenarnya kebanyakan kita hidup sederhana saja sudah mendekati benar. Jadi gak perlu lagi program macam-macam, kecuali dalam kasus khusus. Selain badan, tentu kita harus menjaga pikiran kita benar. Gak perlu sempurna, karena malaikat saja ada yang tak bersayap, tak cemerlang dan tak rupawan seperti dalam lirik lagu dari Dee.

So, coba bangun dari penurunan kesadaran yang kita anggap biasa dan mulai STOP bunuh diri pasif.

Have a nice evening!


Selong, 29 April 2015

-dap-

Selasa, 28 April 2015

Keniscayaan dan Pilihan

"Janganlah kamu dihormati karena tua mu (senior), tapi dihormatilah karena ilmu mu."

Begitulah kalimat dari seorang residen ilmu kebidanan dan kandungan di tempat saya sedang melayani. Obrolan singkat tentang bagaimana profesor di pusat pendidikannya begitu menghargai dan mengayomi junior (anak maupun cucu didiknya).

Menjadi tua merupakan suatu keniscayaan, tidak selalu, karena akhir usia seseorang bukan ilmu pasti. Menjadi berilmu itu pilihan. Berjalan bersama dengan pengalaman dan kebijaksanaan, maka ilmu itu bisa menjadi berguna unttk orang banyak. Uniknya ilmu, dia merupakan milik kita yang sulit lepas, bisa dibilang bersaing dengan dosa. Melekat, lengket. Ilmu itu tidak terbatas. Bisa dibagi tanpa merasa kehilangan, namun buat orang yang senang mengejarnya, selalu merasa kekurangan. Ibarat dahaga yang bisa terpuaskan (tertutupi) sementara setelah 'minum', cepat atau lambat maka rasa haus itu akan datang lagi.

Bukan berarti kita tidak perlu menghormati sepuh, tapi kita mau menua 'gini-gini aja' atau mau menua lebih bermakna, semuanya terserah kamu...

Jalan sore keliling taman
Minum jus alpukat sendirian
Menjadi tua merupakan keniscayaan
Mau berilmu itu pilihan


Good evening!

Jumat, 17 April 2015

Sit Down Comedy (1): Main Mata

Merayakan segera dimutasinya saya dari bagian mata atau lebih tepatnya Departemen Ilmu Kesehatan Mata (kalau bagian mata nanti dikira saya membuat tulisan ini sambil duduk-duduk di iris sambil ngupil, karena iris membentuk pupil), saya coba mulai menulis lagi. Bicara soal ilmu kesehatan mata (ini juga keliru, harusnya menulis soal kesehatan mata kan?), yang mengherankan pasien yang datang semua gak ada satu pun yang sehat. Semuanya sakit. Harusnya nama departemennya diganti menjadi 'Ilmu Menyehatkan Mata' supaya lebih pas. Masalahnya kesehatan itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti n keadaan (hal) sehat; kebaikan keadaan (badan dsb), sedangkan menyehatkan itu artinya v mendatangkan (menjadikan dsb) sehat dl berbagai-bagai arti. Lebih cocok toh? Hal tersebut juga sesuai dengan amanat Presiden kita sekarang (Pak Jokowi) yang mau orang-orang kerja, kerja dan kerja. Makanya nama departemennya menggunakan kata kerja biar gak materialisme yang menurut mbah KBBI artinya n pandangan hidup yg men-cari dasar segala sesuatu yg termasuk kehidupan manusia di dl alam kebendaan semata-mata dng mengesampingkan segala sesuatu yg mengatasi alam indra (n = nomina atau kata benda).

Sebelum Anda pusing membaca kesesatan berpikir diatas. Ada sebuah keruwetan yang masih menjadi ganjalan saya meninggalkan departemen yang konsulennya asik-asik ini. Kalau ilmu penyakit saraf memiliki istilah khusus yang terdaftar di KBBI sebagai neurologi, ilmu kesehatan kulit nama gaulnya di KBBI dermatologi; tapi ilmu mata ini ternyata tidak terdaftar sebagai oftalmologi maupun ophthalmologi atau apa pun namanya. Padahal alat pemeriksaannya tercantum dengan nama oftalmoskop, bahkan sebuah penyakitnya, yang terdengar seperti kemampuan khusus Prof. Xavier di serial X-Men, yaitu xeroftalmia, yang bermakna n Dok penyakit mata krn kekurangan vitamin A (konjungtiva dan kornea mata menjadi kering); pun terdaftar namanya di KBBI. Trus, salah dokter spesialis mata gitu? Salah Perhimpunan Dokter Mata Indonesia gitu? Atau salahnya Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan? Atau salah cetak KBBI? Itu sudah diperiksa versi online lho tapi.

Menjunjung tinggi prinsip problem solving versi saya (soalnya saya gak mendalami teori formalnya) yang intinya tidak menekankan pada siapa yang salah, namun lebih kepada mencari cara memperbaiki apa yang salah dan mengapa terjadi kesalahan; maka kita biarkan saja Pak Anies Baswedan dan jajarannya yang nanti akan memperbaiki masalah penamaan tersebut (semoga blog saya dibaca pak menteri yaowoh). Lagipula buyut dari Britney Spears yaitu kakak Shakespear sendiri katanya di kisah Romeo dan Juliet (Romeo and Juliet. Act II. Scene II) mengungkapkan "What's in a name? that which we call a rose. By any other name would smell as sweet..." (Terjemahan kira-kiranya: Apalah artinya sebuah nama? Yang kita panggil sebagai mawar, dengan nama yang berbeda akan tetap berbau wangi...) Kalau dipikir-pikir apanya, apanya dong; kalimat kakak Shakespear itu betul juga. Kebetulan saja di sini ia dikenal sebagai 'mawar', padahal kalau Anda cari ke negara sana ia dikenal sebagai 'rose', bahkan kalau ke kuil Shaolin di Tiongkok sana, biksu-biksunya mungkin lebih kenal dia sebagai cici Méiguī (玫瑰). Sejalan dengan itu, coba saja kita melakukan penipuan masal pada anak-anak TK dengan mengajarkan pada mereka bahwa si mawar tadi nama aslinya adalah tokai bin feses yang kita sebut saja sebagai tinja; bahkan dengan begitu pun 'tinja versi penipuan masal' itu akan tetap berbentuk cantik dan berbau wangi. Jadi sebenarnya polemik penamaan departemen mata itu sama sekali gak usah dipikirin. Sing penting kan bisa meningkatkan derajat kesehatan masyarakat khususnya dalam bidang kemataan (atau mata-mata, eh permata, yah begitulah Anda pasti paham).

Walaupun penamaannya masih membingungkan, dokter spesialis mata itu bisa jadi salah satu dokter paling bugar. Bayangkan saja hampir lebih dari setengah pasien yang ditangani mengeluhkan 'mata kabur'. Kalau kita cermat sedikit, keluhan pasien itu saja keliru. Yang kabur kan penglihatannya, bukan matanya. Sehingga dokter spesialis mata itu sering kerjanya ngejar-ngejar penglihatan itu, supaya bisa ditangkap dan pasiennya gak jadi buta.

Seringkali juga selama mencicipi bagian ini mas ahli optometri, yang lebih dikenal sebagai ahli nyari ukuran kacamata (itu lho yang biasa di optik ngetes mata kita untuk mendapatkan ukuran lensa kacamata yang jitu. Kebayang kan?), yang tugasnya mengukur visus (daya lihat) kita selalu punya pertanyaan rutin pada pasien yang mencoba kacamata. "Coba bapak/ibu bangun, terus jalan lihat lantai pusing gak?" Yaelah mas, cuma lihat lantai mah pasiennya gak gitu pusing, coba suruh lihat isi dompetnya sehabis beli kacamata baru. Nah itu baru pusing mereka. Apalagi dibulan tua, pas belum gajian mereka. Disitu kadang mereka merasa pusing deh.

Bicara soal pusing, keluhan yang sering membuat dokternya pusing adalah 'mata suka berair'. Bahkan pernah sekali pak dokter iseng mengkonfirmasi. "Suka berair? Kalau suka ya sudah, gak usah diobati." Pasien perempuan paruh baya itu tampak bingung dan mengulangi keluhannya, "Iya ini mata anak saya suka berair." Sejenak percakapan itu diulang-ulang, sehingga kalau saya ketik lengkap mata kita bisa berair juga membacanya. Singkat cerita si ibu akhirnya sadar gurauan sekaligus koreksi dari dokternya. "Sering, Dok. Matanya sering berair. Gak suka," katanya sambil terus tertawa kegelian. Pesan dari konsulen mata tersebut, panggilan sayang kami untuk spesialis (terutama yang  hobi ngajarin sih), boleh bercanda sewajarnya supaya pasien tidak terlalu khawatir memikirkan penyakitnya. Andai bercandaan saya bisa juga membantu mengurangi kekhawatiran pasien dalam masalah pembayaran biaya berobat, khususnya yang belum punya BPJS.

Demikian sedikit pengalaman selama 'main mata' di masa internsip yang bisa saya tuangkan. Semoga bisa menjadi penghiburan bagi kita semua agar tidak terlalu pusing memikirkan carut-marut dunia ini. Ingat saja mata adalah jendela hati, bila ingin mengambil hati orang jangan congkel matanya karena kalimat barusan cuma kiasan. Mohon maaf bila ada tulisan yang kurang berkenan dan mohon periksa mata Anda bila ada tulisan yang kurang terbaca. Have a nice day!