Sore ini saat sedang menarik tunai di mesin ATM di dalam toserba terkemuka, sebut saja Alfa Mart. Tiba-tiba beberapa orang anak bocah mengerumuni saya. Sontak saya bingung apa yang sedang mereka lakukan. Mereka dengan diam menunggu. Tampak beberapa diantaranya berbisik, sayup-sayup saya berusaha berpikiran positif saja kalau mereka mau melindungi saya saat mengambil uang di tabungan yang isinya tidak seberapa. Tapi otak saya yang cuma segini tidak bisa menghilangkan pikiran jangan-jangan ini modus baru pembegalan. Dikepung lalu dirampok saat uangnya keluar. Seketika tangan saya sigap meraih uang yang dimuntahkan oleh mesin, yang tega memaparkan saldo yang tiap bulan tidak mampu menutupi potongan biaya administrasi, lalu memasukkan lembaran uang ke dalam dompet. Dalam hati saya sudah siap kalau tiba-tiba sekelompok bocah tadi mengeluarkan pisau atau menyerang saya seperti kegilaan. Beruntung proses pengambilan tunai berjalan lancar dan dengan kekuatan bulan saya ngacir dengan kecepatan pengecut menjauhi bocah yang saya pikir komplotan begal.
Begal atau bahasa klasiknya penyamun, seperti tertulis dalam kisah-kisah jadul bin klasik. Mendengar kata begal baisanya membuat bulu kuduk merinding disko, minimal membuat kita sementara menjadi orang beriman yang berdoa jangan sampai menjadi korban. Beberapa begal klasik digambarkan bertopeng atau mengenakan cadar supaya tidak dikenali dalam aksinya. Yang lebih modern dan mulai naik daun akhir-akhir ini adalah begal yang dengan percaya dirinya merampok motor ditengah jalan tanpa berusaha mengaburkan identitasnya. Menurut cerita dari pembimbing internsip saya bahkan ada begal yang tidak mencuri, tapi menculik kendaraan. Modusnya motor korban diculik tengah malam, lalu beberapa saat kemudian korban akan mendapatkan surat kaleng untuk menebus motor yang diculik dengan sejumlah uang. Aneh tapi kreatif. Pasal apa yang bisa menjerat pelaku, jujur saja saya tidak paham. Yang pasti ada sebuah kampung yang dijuluki 'Kampung Maling' dimana penghuninya sebagian besar, berprofesi sebagai begal, rampok, jambret, sebut saja profesi lain yang bernaung dibawah ikatan kriminal nusantara.
Kembali pada kisah pengepungan bocah di ATM tadi. Jantung saya berdegup biasa teratur. Tangan saya tidak tremor. Namun pikiran saya kacau. Saya sempat mendengar dialog bocah itu yang intinya sudah tidak usah dikejar karena galagat saya tidak akan ngasih uang kepada mereka. Astaga! Ternyata mereka bukan mau merampas dengan paksa, namun mereka berusaha membuat hati saya tersentuh supaya bisa menyerahkan uang atau populer disebut ngemis.
Disitu kadang saya merasa sedih. Bagaimana anak-anak kecil dibiasakan meminta-minta. Teringat peristiwa beberapa minggu yang lalu. Saat itu saya dan temen sejawat sedang asyik ngemil kentang goreng dan McFlury di pinggir jalan sebuah mal, menantikan dijemput untuk makan malam Imlek. Dari kejauhan beberapa pasang mata kecil sudah mengintai mangsa yang membawa makanan. Entah itu botol air mineral, camilan, bahkan es krim bekas pun biasa kita akan di datangi oleh sekelompok bocah yang akan meminta-minta makanan yang kita pegang. Saat itu saya coba untuk tega dan tidak membiasakan anak sekecil itu mengemis makanan. Tidak pantas dan yang lebih miris lagi, saat saya memberikan setengah bungkus kentang goreng yang sedang asyik saya makan, mereka berjalan menjauh (jangan berharap ada ucapan terima kasih sebelumnya) dan menghampiri orangtuanya yang sedang kongkow-kongkow dipinggir jalan menikmati makanan bekas yang berhasil didapatkan oleh bocah-bocah tersebut.
What!? Tidak habis pikir tega-teganya membentuk mental minta plus maksa seperti itu. Saya lebih menghargai kalau mereka minimal datang dan bernyanyi sebelum meminta makanan, setidaknya ada sedikit usaha lebih daripada hanya menengadahkan tangan dan setengah memaksa. Modal keles... Membiasakan diri dengan pendidikan manja dan mental meminta seperti itu tentu akan membuat bangsa kita hancur. Sama seperti koas (dokter muda) yang bertanya tanpa membaca, bahkan disuruh membaca saja malah asal nyeletuk demi minta tentiran. Usaha dulu keles... Tidak ada makan siang yang gratis, bahkan keundangan makan siang pun tidak gratis. Sedikitnya menjadi hutang budi, sebanyak-banyaknya Anda dikasih makan udang dibalik batu, ada apa-apanya.
Entah kebetulan atau kesialan, kebiasaan jelek itu juga saya lakukan dibeberapa kesempatan. Sering teguran saya telan, bahkan tamparan nasihat juga menjadikan pendidikan baik untuk perkembangan mental. Secara natural mungkin kita senang disuapi. Masih terjebak nostalgia masa bayi. Tapi ingat, seiring berjalannya waktu kalau mau disuapi lagi, artinya kita boleh memilih antara menjadi lumpuh, mengalami penurunan kesadaran, mengidap kelainan kejiwaan atau patologi lainnya. Bagi kita yang punya sifat alami tidak mau mencoba dulu dan hanya mau segala yang instant, dengan bantuan lingkungan kita biasa berubah menjadi lebih independen dan berdikari. Nah bayangkan kalau kita sebagai individu yang sejatinya lembek (kebiasaan umum menyalahkan human nature), dibesarkan menjadi pribadi yang lenje. Apa kata dunia?
Saya tidak pantas menasehati orang. Masih belajar untuk berbagi kisah. Namun bisa dipakai sebagai penutup yang menjengkelkan, kalimat kesayangan dari konsulen ilmu bius (anastesi) kesayangan semasa pendidikan dulu. Yah beliau juga mengutip dari iklan pemanis berkalori rendah dipadu dengan lagu dari Armada Band. "Mau dibawa kemana kehidupanmu, yah terserah kamu. Kan sudah ada yah iklannya, manisnya hidup, kita yang tentukan." Semoga kisah diatas bisa bermanfaat. Have a day!
Selong, 6 Maret 2015
With Love,
-dap-